bernasnews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daerah Istimewa Yogyakarta kembali mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca ekstrem pada Selasa (4/11/2025).
Berdasarkan prakiraan resmi dari Stasiun Meteorologi Yogyakarta International Airport (STAMET YIA), wilayah DIY berpotensi mengalami hujan berdurasi panjang sejak pagi hingga dini hari, yang dapat disertai kilat, petir, dan tiupan angin kencang.
Peningkatan curah hujan ini dipicu oleh aktivitas awan konvektif yang dominan mengarah ke wilayah DIY. Kondisi atmosfer yang lembap dan pergerakan massa udara dari selatan menuju barat laut membuat cuaca lebih labil, sehingga potensi terbentuknya awan hujan tebal menjadi lebih besar.
BMKG menyebutkan, fenomena ini bisa berdampak pada mobilitas masyarakat, terutama di kawasan perkotaan, daerah perbukitan, maupun wilayah yang sering tergenang air saat curah hujan tinggi.
Hujan Mulai Terasa Sejak Pagi
Pada pagi hari, wilayah Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian tengah hingga selatan, serta Gunungkidul wilayah tengah dan selatan diperkirakan menjadi daerah pertama yang merasakan hujan ringan.
Meski masih bersifat sporadis, curah hujan ini menjadi tanda awal bahwa intensitas cuaca akan meningkat memasuki siang.
Memasuki siang hingga menjelang sore, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan meluas ke wilayah lain.
Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo bagian utara dan tengah, Bantul bagian utara, serta kawasan utara dan tengah Gunungkidul berada dalam wilayah berisiko tinggi. Pada periode tersebut, potensi kilat dan petir juga meningkat.
Untuk daerah Bengawan Bantul bagian tengah-selatan, Kulon Progo bagian selatan, hingga pesisir Gunungkidul, hujan diperkirakan turun dengan intensitas ringan hingga sedang. Meski tidak terlalu lebat, hujan yang berlangsung lama tetap berpotensi menimbulkan genangan.
Hingga Malam, Hujan Belum Selesai
Menjelang malam dan sampai dini hari, hujan ringan diperkirakan masih bertahan, terutama di wilayah selatan DIY. Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian selatan, serta area tengah hingga selatan Gunungkidul disebut menjadi titik berpotensi menerima hujan paling lama.
BMKG mencatat bahwa suhu udara harian berkisar antara 21–31 derajat Celsius dengan kelembapan udara mencapai 70–98 persen. Kondisi ini menjadikan udara terasa sangat lembap, sehingga pembentukan awan hujan menjadi lebih mudah.
Selain itu, kecepatan angin diprediksi berkisar 5–25 kilometer per jam, bertiup dari arah selatan menuju barat laut.
Angin kuat seperti ini dapat menyebabkan pohon tumbang, ranting patah, hingga atap bangunan ringan terlepas, terlebih di wilayah terbuka.
Peringatan Gelombang Laut
Nelayan dan wisatawan pantai juga diminta berhati-hati. Tinggi gelombang laut di daerah selatan DIY diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter, yang termasuk kategori gelombang sedang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di tengah laut apabila angin bertiup kencang, serta selalu memperhatikan kondisi cuaca sebelum berlayar atau berwisata.
Apa yang Harus Dilakukan Warga?
Selain memantau kondisi lingkungan, BMKG memberikan sejumlah imbauan dasar agar risiko bencana dapat diminimalkan. Masyarakat disarankan:
- memastikan saluran air dan drainase tidak tersumbat,
- menghindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame selama hujan deras,
- mengamankan benda-benda ringan di halaman yang mudah terbawa angin,
- menunda aktivitas luar ruangan ketika hujan disertai petir.
Pihak BMKG menegaskan bahwa informasi ini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan upaya peningkatan kewaspadaan.
“Cuaca ekstrem dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada siang hingga sore hari. Pastikan aktivitas luar ruangan disesuaikan dengan kondisi cuaca terkini,” ujar salah satu prakirawan BMKG YIA dalam keterangan resminya, Selasa, 4 November 2025 pagi.
BMKG juga meminta warga untuk selalu memantau pembaruan lewat situs resmi www.bmkg.go.id atau kanal media sosial BMKG DIY yang diperbarui secara rutin setiap hari.












