bernasnews – Langit Indonesia bersiap memasuki babak baru. Awan kelabu menggantung di ufuk barat, menandai datangnya musim hujan yang akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.
Hingga akhir Oktober 2025, sebanyak 43,8 persen wilayah Indonesia atau setara 306 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim hujan. Pergantian musim membawa kesejukan sekaligus ancaman hujan lebat, angin kencang, sambaran petir, hingga potensi siklon tropis di selatan Indonesia.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyebutkan bahwa curah hujan kini meluas dari wilayah barat menuju timur. Indonesia memasuki periode transisi menuju puncak musim hujan.
“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, terutama di wilayah selatan Indonesia yang mulai terpengaruh sistem siklon tropis dari Samudra Hindia,” ujarnya.
Gelombang Cuaca Ekstrem Mulai Terasa
Analisis BMKG menunjukkan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, lebih dari 150 milimeter per dasarian, berpotensi mengguyur Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Tengah.
Dalam sepekan terakhir, hujan deras melanda beberapa daerah. Tampa Padang, Sulawesi Barat, mencatat intensitas hujan tertinggi mencapai 152 milimeter per hari. Di Torea, Papua Barat, hujan mencapai 135,7 milimeter, sementara Naha di Sulawesi Utara mencatat 105,8 milimeter.
Selama periode 26 Oktober hingga 1 November 2025, BMKG mendata 45 kejadian bencana cuaca ekstrem. Hujan lebat dan angin kencang menjadi pemicu banjir, tanah longsor, dan kerusakan rumah di berbagai daerah.
Suhu maksimum harian di beberapa wilayah masih mencapai 37 derajat Celsius di Riau dan lebih dari 36 derajat Celsius di sejumlah wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara. Kondisi atmosfer yang labil menciptakan peluang terbentuknya badai mendadak.
Dwikorita menjelaskan dinamika atmosfer dipengaruhi oleh fenomena MJO (Madden–Julian Oscillation), gelombang Rossby dan Kelvin, serta anomali suhu muka laut positif di perairan Indonesia.
“Kombinasi faktor ini memperkuat pembentukan awan hujan dan meningkatkan potensi badai di banyak wilayah,” tegasnya.
BMKG juga memperingatkan potensi berkembangnya siklon tropis selatan yang dapat membawa hujan ekstrem dan angin kencang di wilayah pesisir Jawa hingga Nusa Tenggara. Siklon yang tumbuh di Samudra Hindia dapat mempercepat pembentukan awan hujan dan menimbulkan banjir besar.
“Kami mengimbau pemerintah daerah agar memastikan kesiapsiagaan infrastruktur dan masyarakat terhadap kemungkinan dampak bencana,” ujar Dwikorita.
La Niña lemah mulai berkembang di Samudra Pasifik. Pendinginan suhu muka laut telah melewati ambang batas: -0,54°C pada September dan -0,61°C pada Oktober 2025. Fenomena ini berpotensi menambah curah hujan, meski secara umum diperkirakan curah hujan tetap normal pada November 2025 hingga Februari 2026.
BMKG bersama BNPB dan lembaga terkait melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai langkah mitigasi. Operasi sejak 25 Oktober hingga 3 November berhasil menekan curah hujan hingga 43,26 persen di Jawa Tengah dan 31,54 persen di Jawa Barat.
“OMC menjadi bukti nyata bahwa sains dan kolaborasi lintas lembaga dapat langsung membantu masyarakat menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi,” ujar Dwikorita.
Imbauan Waspada di Darat, Laut, dan Udara
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan potensi cuaca ekstrem. Saat hujan deras disertai petir, warga diminta menjauhi area terbuka, pohon, dan bangunan rapuh. Nelayan diminta memperhatikan informasi prakiraan gelombang tinggi karena berisiko bagi keselamatan di laut.
Cuaca panas di beberapa wilayah juga perlu diantisipasi dengan menjaga asupan cairan dan melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Masyarakat yang tinggal di perbukitan dan bantaran sungai diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi longsor dan banjir bandang.
Dwikorita menegaskan musim hujan tidak sepenuhnya menjadi ancaman. Apabila dimitigasi dengan tepat, musim hujan bisa menjadi berkah bagi pertanian dan ketahanan pangan.
Ia mengimbau masyarakat terus memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG, seperti situs www.bmkg.go.id, media sosial @infoBMKG, dan aplikasi InfoBMKG.
“Kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan,” tegasnya.












