bernasnews — Di era informasi yang serba cepat ini, perhatian publik sering tertuju pada generasi muda ketika membahas hoaks, disinformasi, atau pengaruh media sosial. Namun, jarang disadari bahwa generasi yang lebih tua, seperti Boomer dan Generasi X, juga menghadapi tantangan yang sama besar, bahkan mungkin lebih rentan.
Mereka tumbuh di dunia analog, di mana berita datang dari surat kabar, televisi, atau radio, yang relatif lebih terfilter dan terpercaya. Perubahan menuju era digital yang begitu cepat menuntut mereka beradaptasi dengan cara yang sama sekali baru: berita kini tersebar melalui media sosial, grup chat, dan aplikasi pesan instan, sering tanpa verifikasi atau filter. Ketidaktahuan tentang mekanisme ini membuat mereka lebih mudah percaya pada informasi yang terdengar benar, meski sesungguhnya menyesatkan.
Fenomena ini dikenal sebagai dengung media, di mana informasi tersebar cepat, tapi belum tentu akurat. Informasi ini biasanya memanfaatkan emosi, seperti kemarahan, ketakutan, atau kebanggaan, sehingga mendorong pembaca untuk membagikannya tanpa berpikir panjang.
Generasi Boomer dan X seringkali menjadi korban fenomena ini, karena mereka belum terbiasa membaca berita dengan kacamata kritis digital. Hal ini tidak hanya menimbulkan kebingungan atau kepanikan, tetapi juga dapat memengaruhi opini politik, keputusan ekonomi, hingga hubungan sosial dalam komunitas mereka.
Literasi digital menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gadget atau media sosial, tetapi mencakup kemampuan menilai sumber informasi, memahami bias algoritma, berpikir kritis, dan bertanggung jawab saat membagikan konten.
Dengan literasi digital, generasi tua bisa memilah mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang sekadar sensasional atau menyesatkan. Mereka juga dapat membatasi penyebaran hoaks di keluarga dan komunitas, sehingga peran mereka dalam menjaga kualitas informasi tidak kalah penting dibanding generasi muda.
Upaya meningkatkan literasi digital untuk generasi Boomer dan X harus disesuaikan dengan karakteristik mereka. Workshop atau pelatihan tatap muka yang menggunakan contoh nyata dari pengalaman sehari-hari lebih efektif dibanding metode pembelajaran abstrak.
Panduan yang mudah dipahami, seperti poster, video pendek, atau modul sederhana, dapat membantu mereka belajar secara mandiri. Pendekatan keluarga dan komunitas, misalnya melibatkan anak atau cucu untuk membimbing penggunaan media digital, juga terbukti meningkatkan efektivitas.
Kesabaran dan penghargaan terhadap pengalaman hidup mereka sangat penting, karena mengkritik kebiasaan lama tanpa pemahaman akan sia-sia.
Memberikan literasi digital pada generasi Boomer dan X bukan hanya tentang kemampuan teknologi, tetapi juga tentang pemberdayaan agar mereka tetap relevan, kritis, dan aman di era digital. Generasi ini memiliki pengalaman hidup yang kaya, tetapi untuk menjadikannya bermanfaat dalam konteks modern, mereka harus dilengkapi dengan kemampuan membaca, menilai, dan membagikan informasi dengan bijak.
Tanpa langkah ini, dampak media yang tidak terkendali tidak hanya mengancam pemikiran generasi muda, tetapi juga melemahkan fondasi kritis masyarakat secara luas.
Di masyarakat yang semakin tergantung pada informasi digital, literasi digital untuk semua usia menjadi investasi sosial yang strategis. Generasi tua memiliki potensi untuk menjadi penyeimbang dalam arus informasi yang deras, selama mereka dibekali alat untuk memahami dan memilah konten yang mereka konsumsi.
Dengan begitu, mereka tidak hanya melindungi diri dari dampak negatif informasi palsu, tetapi juga membantu membangun ekosistem digital yang lebih sehat. Literasi digital bukan sekadar kompetensi teknologi; ia adalah kemampuan hidup yang penting bagi setiap individu di era informasi. (Galih Satria Hutama, S.E, PNS KPU Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah)












