bernasnews— Suasana hangat menyelimuti Gedhong Wilis, kompleks Kepatihan Yogyakarta, ketika rombongan Pemerintah Kabupaten Batang tiba untuk bersilaturahmi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Kunjungan itu bukan sekadar seremoni, melainkan langkah penting dalam menelusuri jejak sejarah Batang yang berakar dalam pada Kesultanan Yogyakarta.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, bersama sejumlah tokoh masyarakat, disambut langsung oleh Sri Sultan. Pertemuan ini menjadi momentum bagi kedua pihak untuk membicarakan kembali hubungan historis antara Batang dan Kesultanan Mataram.
Tujuan Kunjungan Pemkab Batang
Bupati Faiz menjelaskan, tujuan utama kunjungan ini adalah menggali keterkaitan Ratu Batang dengan Kesultanan Mataram sebagai upaya memahami jati diri masyarakat Batang di masa kini.
“Pemerintah Kabupaten Batang bersama tokoh masyarakat bersilaturahmi dengan Sri Sultan untuk menggali sejarah keterkaitan Ratu Batang dengan Kesultanan Yogyakarta,” ujar Faiz.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Ratu Batang disebut pernah menikah dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Keduanya bahkan dimakamkan berdampingan di Makam Raja-Raja Imogiri. Ini merupakan simbol kuat yang merepresentasikan hubungan politik dan budaya antara dua wilayah di masa lalu.
“Kami ingin belajar kepada Ngarso Dalem bagaimana menumbuhkan kesadaran sejarah dan membentuk jati diri masyarakat melalui pemahaman masa lalu,” lanjutnya, mengutip dari kabarjawa.com.
Sri Sultan HB X menyambut baik upaya riset tersebut. Menurut Faiz, Sultan memberikan dukungan penuh. Menurutnya, penelusuran sejarah Batang sebaiknya berjalan secara ilmiah dan kolaboratif, melibatkan para ahli dan lembaga kebudayaan terkait.
“Ngarso Dalem sangat mendukung cita-cita kita bersama. Beliau bahkan meminta agar Dinas Kebudayaan DIY dan Pemkab Batang menjalin kerja sama erat serta membuka akses ke literatur-literatur penting,” jelas Faiz.
Tak hanya itu, Sri Sultan juga berpesan agar riset tidak berhenti di dalam negeri saja. Ia mendorong tim Batang untuk menelusuri arsip sejarah di Belanda, mengingat banyak dokumen kolonial yang memuat informasi penting mengenai Batang dan peranannya dalam jaringan perdagangan Mataram.
“Beliau menitipkan pesan agar jika ada utusan ke Belanda nanti, juga mencari literatur yang berkaitan dengan sejarah Kabupaten Batang, termasuk yang menyangkut Mangkubumi,” ungkap Faiz.
Menghidupkan Kembali Tali Sejarah
Selain riset sejarah, pemkab juga menyampaikan undangan resmi kepada Sri Sultan HB X untuk Hari Jadi Kabupaten Batang mendatang.
Undangan itu menjadi simbol penghormatan sekaligus ajakan mempererat kembali tali kultural dua daerah yang pernah beririsan erat di masa lalu.
“Ngarso Dalem pernah datang ke Batang pada tahun 2013. Kami berharap kehadiran beliau kali ini dapat memperkuat kembali hubungan historis antara Kasultanan Yogyakarta dan Kabupaten Batang,” tutur Faiz.
Menariknya, di sela perbincangan, juga muncul refleksi menarik tentang pembangunan Batang masa kini. Kabupaten yang kini tengah menyiapkan diri menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Logistik.
Pemkab membangun pelabuhan besar dan Batang ternyata memiliki akar sejarah panjang sebagai pelabuhan utama Kesultanan Mataram.
“Dari beberapa literatur yang kami temukan, bahkan Ngarso Dalem juga menyampaikan bahwa Batang dulu merupakan pelabuhan Kesultanan Mataram, bukan Semarang. Seolah sejarah sedang berputar, Batang kini kembali berperan sebagai sentra logistik seperti masa lampau,” ujarnya.
Pertemuan akrab di Kepatihan itu bukan sekadar agenda formal pemerintahan, melainkan babak baru dalam upaya membangun kesadaran sejarah dan kebudayaan.
Dari riset sejarah hingga kerja sama kebudayaan, langkah ini menjadi fondasi penting untuk menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Pemkab Batang dan Kesultanan Yogyakarta kini menapaki jalan baru dalam meneguhkan identitas budaya Jawa, dengan semangat gotong royong, riset, dan penghormatan terhadap sejarah.***(Eln)












