Opini  

Anak Perempuan di Garis Depan Krisis

Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram; Pengurus Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI). Foto: Dok. Pribadi

bernasnews — Tanggal 11 Oktober diperingati sebagai Hari Anak Perempuan Sedunia (International Day of the Girl Child). Tahun 2025 ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengusung tema “The Girl I Am, the Change I Lead: Girls on the Frontlines of Crisis”.

Tema ini menggarisbawahi, bahwa dalam situasi krisis, konflik, bencana alam, kemiskinan ekstrem, atau kondisi darurat lainnya, anak perempuan seringkali menjadi kelompok yang paling rentan, tetapi sekaligus memiliki potensi untuk menjadi agent of change (agen perubahan).

Fokusnya adalah pengakuan terhadap peran dan kepemimpinan anak perempuan terutama di situasi krisis; baik akibat perang, bencana alam, konflik sosial atau kondisi darurat lainnya, serta menyerukan terhadap investasi untuk mendukung hak, perlindungan, kesehatan, dan pendidikan mereka di masa-masa sulit.

Di Indonesia, makna tema ini terasa sangat relevan. Negeri yang rawan bencana dan sarat tantangan sosial ini tidak kekurangan kisah anak perempuan yang berjuang dalam keterbatasan. Mereka menjadi penopang keluarga saat orang tua kehilangan pekerjaan, menjaga adik-adiknya di pengungsian, hingga tetap berjuang bersekolah di tengah ketidakpastian. Sayangnya, sistem sosial kita masih jarang memberi ruang bagi suara mereka untuk didengar.

Krisis sering kali memperbesar ketidaksetaraan. Dalam situasi bencana atau konflik, anak perempuan menghadapi risiko berlapis; kekerasan berbasis gender, pengucilan sosial, pergantian peran keluarga, kehilangan akses pendidikan, kesehatan reproduksi, keamanan,  bahkan ancaman perkawinan dini.

Krisis ekonomi, perpindahan penduduk, atau pandemi memunculkan beban tambahan pada anak perempuan, misalnya dipaksa keluar dari sekolah, menikah dini, atau menjadi tulang punggung keluarga.

Namun di sisi lain, di berbagai komunitas justru anak perempuanlah yang menunjukkan daya lenting (resiliensi) luar biasa. Mereka menjadi relawan muda, pendidik sebaya, penggerak lingkungan, bahkan pencipta inovasi sosial kecil yang menyelamatkan banyak orang.

Tema peringatan ini menantang Indonesia untuk tidak hanya ‘melindungi’ anak perempuan dalam krisis, tetapi juga mendorong mereka berpartisipasi aktif dan mengambil peran kepemimpinan dalam pemulihan dan pengambilan keputusan.

Mereka layak menjadi subjek perubahan, yaitu menjadi pemimpin kecil yang berhak bicara, berinisiatif, dan ikut menentukan arah kebijakan. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu membuka ruang partisipasi yang nyata, yang bukan sekedar simbol semata.

Contohnya, Daerah Istimewa Yogyakarta sudah memiliki program Tesaga — layanan konseling digital untuk anak dan remaja — yang bisa dikembangkan lebih jauh untuk mendengar aspirasi anak perempuan. Sekolah-sekolah bisa membuat forum suara perempuan muda, tempat mereka berlatih kepemimpinan dan menyampaikan gagasan untuk isu-isu lokal, mulai dari lingkungan hingga keamanan digital.

Selain itu, dunia teknologi pangan juga memiliki peran besar. Dalam banyak komunitas, anak perempuan berperan dalam ketahanan pangan keluarga; mulai dari menanam, mengolah, hingga memanfaatkan sumber daya lokal secara kreatif.

Dengan pelatihan teknologi pangan sederhana, anak-anak perempuan bisa bertransformasi menjadi inovator muda — menciptakan produk sehat, ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi komunitas mereka. Dalam konteks krisis, kemampuan ini bisa menjadi bentuk kemandirian dan daya pulih sosial yang nyata.

Peringatan Hari Anak Perempuan Sedunia seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk mendefinisikan ulang pembangunan yang berpihak pada generasi perempuan muda. Indonesia perlu berinvestasi lebih pada pendidikan setara, literasi digital, kesehatan reproduksi, dan kepemimpinan remaja perempuan.

Masa depan bangsa ini terletak pada mereka yang mungkin sedang duduk di bangku sekolah dasar hari ini — seorang anak perempuan yang sedang belajar menulis, bermimpi, dan diam-diam menyiapkan diri untuk memimpin perubahan besar di masa depan.

Selamat Hari Anak Perempuan Sedunia…. Mari bantu menyiapkan masa depan anak-anak perempuan penentu kemajuan bangsa! (Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P, Dosen Prodi Teknologi Pangan UWM/ Pengurus PATPI)