Berkunjung ke Desa Adat Penglipuran Bali, Waktu Seakan Berjalan Melambat

Penampakan lanskap dan suasana yang asri Desa Adat Penglipuran, di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

bernasnews — Berkunjung atau berwisata ke Pulau Dewata Bali, selain melihat Tarian Kecak dan Tarian Barong yang ikonik serta menikmati keindahan hamparan pantainya akan serasa belum lengkap apabila belum berkunjung ke Desa Penglipuran.

Desa Penglipuran merupakan salah satu desa adat yang terletak di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Desa ini terkenal karena masyarakatnya masih kental menjalankan dan melestarikan budaya tradisional Bali dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Mereka berhasil membangun pariwisata yang menguntungkan bagi seluruh masyarakatnya tanpa menghilangkan budaya dan tradisi mereka. Dan tak dipungkiri semenjak viral di media sosial beberapa tahun terakhir, kunjungan wisatawan pun juga semakin meningkat.

Berdasar pengamatan bernasnews saat berkesempatan berkunjung ke Desa Penglipuran , pada hari Sabtu, tanggal 30 Agustus 2025. Berkunjung ke desa adat ini waktu terasa melambat dan kembali seperti masa lalu di mana keguyuban dan kegotong royongan masih lekat. Meskipun, banyak warga yang membuka usaha semacam seperti souvenir, oleh-oleh dan jasa persewaan busana. Mereka tidak berteriak berlomba untuk menawarkan, suasana tetap hening khas pedesaan.

Dari sisi arsitektur bangunan tempat tinggal atau rumah mereka benar-benar melestarikan dari pendahulunya, orang tua atau kakek neneknya. Bangunan lama yang ikonik tetap dipertahankan, termasuk pemakaian atap genting sirap berbahan bambu.

Genting sirap merupakan jenis penutup atap yang terbuta dari lembaran kayu tipis, sering digunakan pada bangunan tradisional yang menawarkan nilai etetika tinggi dan keunikan yang autentik. Warga Desa Panglipuran mempergunakan bambu untuk genting sirap dikarenakan masyarkatnya melindungi hutan bambu di ekosistem lokal mereka.

Pintu Pura Ageng adalah salah satu tempat ikonik tempat favorit berfoto di Desa Penglipuran. (Tedy Kartyadi/ bernasnewa)

Usaha dalam menjaga dan melindungi hutan bambu ini mendapat anugerah penghargaan Kalpataru oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1995. Arsitektur bangunan dan pengolahan lahan juga masih mengikuti konsep “Tri Hita Karana”, filosofi masyarakat Bali mengenai keseimbangan hubungan antara Tuhan Penguasa Semesta, Manusia dan Lingkungan.

Sejarah dan Penyebutan Nama Penglipuran

Menurut sumber, Desa Adat Penglipuran dipercaya mulai berpenghuni pada zaman pemerintahan I Dewa Gede Putu Tangkeban III. Masyarakatnya percaya bahwa mereka berasal dari Desa Bayung Gede. Dahulu orang Bayung Gede adalah orang-orang yang ahli dalam kegiatan agama, adat, dan pertahanan.

Karena keahlian dan kemampuannya itu, orang-orang Bayung Gede sering dipanggil ke Kerajaan Bangli. Karena jaraknya yang cukup jauh, Kerajaan Bangli pun akhirnya memberikan daerah sementara kepada orang Bayung Gede untuk beristirahat.

Tempat beristirahat ini sering disebut sebagai Kubu Bayung. Tempat inilah kemudian yang dipercaya sebagai desa yang mereka tempati sekarang. Hal ini juga keterkaitan dengan kepercayaan warga bahwa ada kesamaan peraturan tradisional serta struktur bangunan antara desa Penglipuran dan desa Bayung Gede.

Sementara berkenaan asal mulai kata Desa Penglipuran, ada dua pendapat berbeda yang diyakini oleh masyarakatnya. Pertama adalah Penglipuran berarti “pengeling pura”, kata pengeling berarti ingat dan pura berarti tempat leluhur.

Pendapat kedua mengatakan, bahwa penglipuran berasal dari kata pelipur (Indonesia, penghibur) dan “lipur” yang berarti ketidakbahagiaan. Jika digabungkan maka penglipuran berarti tempat untuk penghiburan. Pendapat ini muncul karena Raja Bangli pada saat itu disebut sering mengunjungi desa ini (Penglipuran, red) untuk bermeditasi dan bersantai menghibur diri. (ted)