Penyebab PHK Massal PT Gudang Garam Karena Apa? PHK Massal Viral di Sosmed

Ilustrasi Penyebab PHK Massal PT Gudang Garam Karena Apa? PHK Massal Viral di Sosmed/Instagram @ptgudanggaramtbk

bernasnews –  PT Gudang Garam Tbk diterpa isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang viral di media sosial.

Apa penyebabnya? Simak kronologi, bantahan, hingga kondisi keuangan perusahaan yang memicu kabar ini.

Kabar mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan PT Gudang Garam Tbk belakangan menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Isu ini muncul setelah beredarnya sebuah video di media sosial yang memperlihatkan suasana perpisahan buruh pabrik rokok di Tuban, Jawa Timur, pada awal September 2025. Dalam rekaman itu, tampak para pekerja saling berpelukan dan berjabat tangan dengan raut wajah penuh kesedihan.

Narasi yang menyertai video menyebutkan bahwa PT Gudang Garam melakukan PHK massal terhadap sejumlah karyawannya.

Unggahan tersebut langsung menyebar luas, menuai simpati, sekaligus menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik.

Video Viral yang Memicu Ramai Isu

Salah satu pemicu meluasnya isu ini adalah unggahan akun Instagram @informasi_malangraya dan sejumlah pengguna lain.

Mereka membagikan potongan video yang menggambarkan momen haru para karyawan yang telah puluhan tahun bekerja, namun kini harus berpisah karena terkena PHK.

Dalam keterangannya, seorang pekerja bahkan menuliskan pesan emosional bahwa dirinya telah mengabdi selama 14 tahun, tumbuh dan belajar di perusahaan, namun harus menerima keputusan pahit.

Kisah itu semakin memperkuat dugaan bahwa terjadi gelombang PHK di tubuh perusahaan rokok terbesar di Indonesia tersebut.

Kondisi Keuangan yang Tertekan

Isu PHK massal ini semakin menguat karena bertepatan dengan laporan kinerja keuangan PT Gudang Garam pada semester pertama tahun 2025. Perusahaan yang berkode saham GGRM itu melaporkan penurunan laba bersih yang sangat signifikan.

Laba bersih Gudang Garam hanya tercatat Rp117,16 miliar, anjlok hingga 87,34 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp925,5 miliar. Pendapatan pun terkoreksi menjadi Rp44,35 triliun atau turun 11,4 persen.

Laba kotor merosot dari Rp5,06 triliun menjadi Rp3,7 triliun. Bahkan, keuntungan bersih yang sebelumnya Rp1,613 triliun kini hanya tersisa Rp513,7 miliar.

Data ini memperlihatkan bahwa perusahaan tengah menghadapi tekanan berat, baik dari faktor internal maupun eksternal.

Bantahan dari Pihak Mitra Produksi

Di sisi lain, manajemen mitra produksi Gudang Garam di Tuban membantah kabar adanya PHK. Adib Musyafa, perwakilan HRD PT Merdeka Nusantara Mitra Produksi Gudang Garam Tuban, menegaskan bahwa pabrik mereka masih beroperasi normal tanpa ada pemutusan hubungan kerja.

Ia mengaku terkejut dengan viralnya kabar tersebut dan menyebut bahwa sampai saat ini tidak ada karyawan yang diberhentikan.

Menurutnya, kondisi pabrik di Tuban tetap stabil dan kegiatan produksi berjalan seperti biasa.

Suara Serikat Buruh

Meski pihak perusahaan memberikan klarifikasi, isu ini tetap mendapat perhatian serius dari serikat pekerja.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyatakan bahwa apabila PHK massal benar terjadi, dampaknya bisa meluas hingga ke berbagai sektor lain.

Menurutnya, ribuan buruh pabrik, petani tembakau, pekerja logistik, pedagang kecil, hingga pemilik kontrakan bisa terkena imbas.

Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat maupun daerah harus turun tangan menyelamatkan industri rokok nasional agar tidak terjadi gelombang PHK lebih besar.

Akar Masalah: Tekanan di Industri Hasil Tembakau

Peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari tantangan besar yang dihadapi industri hasil tembakau di Indonesia.

Sejumlah faktor menjadi beban perusahaan, mulai dari kenaikan tarif cukai rokok, kebijakan pembatasan iklan, hingga perubahan pola konsumsi masyarakat yang beralih ke produk lain.

Selain itu, kebijakan internal Gudang Garam yang sempat menghentikan pembelian tembakau dari beberapa daerah pemasok utama, seperti Temanggung, juga menambah tekanan. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat perusahaan sulit mempertahankan kinerja positif.

Ironi Perjalanan Gudang Garam

Isu PHK ini menjadi ironi tersendiri bagi Gudang Garam, perusahaan yang pernah menjadi raksasa kretek Indonesia.

Sejak berdiri pada 1958 di Kediri, Gudang Garam dikenal sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dengan jumlah karyawan mencapai puluhan ribu orang dan pangsa pasar hampir 40 persen di masa kejayaannya.

Kini, di tengah tekanan regulasi dan persaingan pasar, perusahaan tersebut justru harus berjuang menjaga stabilitas dan menghadapi isu yang mencoreng reputasinya.

Jadi, penyebab isu PHK massal PT Gudang Garam tidak bisa dilepaskan dari kondisi keuangan perusahaan yang sedang menurun serta tantangan berat yang menekan industri tembakau nasional.

Meski pihak mitra di Tuban membantah adanya pemutusan hubungan kerja, fakta penurunan kinerja finansial menimbulkan kekhawatiran wajar di kalangan publik.

Apapun kebenarannya, kasus ini menunjukkan rapuhnya stabilitas tenaga kerja di industri rokok Indonesia. Bagi pekerja, kabar seperti ini menimbulkan keresahan, sementara bagi pemerintah, menjadi alarm agar kebijakan yang diambil tidak hanya menekan industri, tetapi juga tetap melindungi nasib buruh dan keluarganya.

***