bernasnews – Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika denting lonceng kecil di pelataran SD Kanisius Kembaran, Bantul, DIY menandai dimulainya sebuah momen monumental. Bukan sekadar perayaan ulang tahun, hari Jumat (25/4/2025 ) itu adalah perwujudan rasa syukur mendalam atas perjalanan panjang 57 tahun institusi ini merawat, mendidik, dan menumbuhkan kehidupan. Tiga simpul besar terikat dalam satu helai perayaan: Misa Syukur, Gelar Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dan Pentas Seni – semuanya dibalut dalam tema luhur: “Menjadi pribadi yang menjunjung nilai-nilai agama, berkarakter baik, cerdas dan bertalenta.”
Kompleks sekolah, yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak dan suasana belajar, pagi itu menjelma menjadi ruang spiritual sekaligus panggung ekspresi. Di sanalah siswa-siswi SD Kanisius Kembaran, adik-adik TK Indriyasana Kasihan, para alumni, dan pemerhati pendidikan berhimpun. Mereka tidak sekadar hadir sebagai tamu, melainkan sebagai saksi perjalanan sebuah lembaga pendidikan yang hidup, yang menghidupkan.
Liturgi suci membuka rangkaian hari itu—sebuah misa syukur yang syahdu, dipimpin oleh Romo Antonius Invarien Alpha Andriyanto, Pr. Dalam setiap bait doa dan nyanyian, tergambar syukur atas penyertaan Ilahi yang tak pernah putus sejak tahun pertama berdirinya sekolah ini. Romo dalam homilinya mengemukakan, menyelami esensi pendidikan: bukan hanya kecerdasan otak, tapi keutuhan jiwa. Ia menggugah, bahwa karakter, iman, dan hati yang bertalenta adalah buah paling berharga dari sebuah proses belajar sejati.
Misa tersebut juga menjadi bagian dari perayaan Paskah dan pesta nama Santo Petrus Kanisius – patron sekolah – yang dalam sejarahnya dikenal sebagai pendidik berhati penggembala. Maka tak heran, atmosfer yang menyelimuti sekolah hari itu bukan hanya penuh semangat, tapi juga haru dan kekhidmatan.
Namun, pesta ini bukan muncul begitu saja. Sejak 14 April 2025, sekolah telah hidup dalam gairah lomba-lomba yang mempertemukan kreativitas dan makna. TK Indriyasana Kasihan hadir dengan seman- gat lomba mewarnai, sedang siswa SD menghias telur Paskah dan menyusun kolase kulit telur – simbol kelahiran kembali dan harapan yang rapuh namun indah.
Ketika hari puncak tiba, penyerahan hadiah kepada para juara lomba menjadi momen yang tak kalah sakral. Di hadapan orang tua, para tamu, dan sesama teman, wajah-wajah kecil itu bersinar – bukan hanya karena kemenangan, tetapi karena pengakuan akan usaha dan keberanian untuk mencoba.
Namun denyut utama dari keseluruhan perayaan ini ada pada Gelar Karya Projek P5. Inilah narasi panjang satu tahun yang dituangkan dalam bentuk nyata. Di semester pertama, mereka menanam harapan dalam bentuk Apotek Hidup Sekolah – mengenal tanaman obat, menciptakan pot dari galon bekas, menanam, merawat. Di semester kedua, mereka menggali tanah, membentuk, membakar – dalam proyek Gerabah sebagai Kearifan Lokal yang bukan sekadar kerajinan, tetapi pengakuan terhadap budaya sekitar. Yang utama dari P5 bukan hasil akhir, melainkan proses. Di situ anak-anak belajar untuk peduli, berpikir kritis, bekerjasama, percaya diri, dan menghargai keberagaman. Mereka tidak hanya membentuk tanah liat, tapi juga membentuk diri – menjadi pelajar yang beriman, mandiri, dan kreatif.
Karya-karya tersebut dipamerkan di sudut-sudut sekolah, dan anak-anak sendirilah yang menjadi kurator dan naratornya. Dengan penuh semangat mereka menjelaskan, menunjukkan, dan menyampaikan: bahwa setiap proyek adalah bagian dari cerita mereka. Dan para tamu – orang tua, alumni, guru – tak hanya melihat, tetapi merasakan kebanggaan yang menggetarkan.
Di tengah perayaan itu pula, lahirlah sesuatu yang baru: pembentukan Ikatan Alumni SD Kanisius Kembaran. Sebuah simpul silaturahmi lintas angkatan, yang kelak menjadi jembatan masa lalu dan masa depan. Langkah ini strategis dan penuh harap – bahwa para alumni bukan hanya sejarah yang lewat, tetapi energi yang turut membangun.
Ketika senja mulai menjelang, Pentas Seni menjadi panggung terakhir yang menutup seluruh rangkaian dengan gegap gempita. TK Indriyasana Kasihan membawa irama angklung dan tari yang manis. SD Kanisius Kembaran menampilkan keberagaman talenta: solo drum, nyanyi tunggal, biola, karawitan, tari tradisional, karate, drumband, dan band. Setiap nada, gerak, dan suara bukan sekadar penampilan – tapi bentuk ekspresi jujur anak-anak yang diberi ruang untuk bersinar.
Pentas ini bukan hanya tentang hiburan, tetapi pembuktian: bahwa setiap anak berhak bersuara, beraksi, dan dihargai. Di balik setiap penampilan, ada jam latihan, ada semangat, ada pengorbanan – dan semua itu dihargai dengan gemuruh tepuk tangan dan mata yang berbinar.
Seluruh kegiatan hari itu merangkum empat fokus utama pendidikan di SD Kanisius Kembaran: religiusitas, karakter, akademik, dan minat bakat. Keempatnya menyatu dalam harmoni yang tidak timpang. Sebuah proses pendidikan yang bukan hanya membentuk siswa menjadi pandai, tapi menjadi pribadi utuh.
Dalam sambutannya, Kepala Sekolah menyampaikan rasa terima kasih dengan suara yang bergetar – karena yang hadir bukan hanya fisik, tapi cinta dan dedikasi. Ia berharap agar semangat ini tak padam, dan terus membakar jiwa-jiwa muda untuk tumbuh dalam terang iman dan cinta budaya lokal.
Ia juga menegaskan, bahwa lulusan SD Kanisius Kembaran tidak hanya dibentuk untuk berprestasi di atas kertas, tapi untuk menjadi garam dan terang dunia – yang dalam senyapnya, mampu menyentuh dan mengubah dunia di sekitarnya.
Hari itu, perayaan HUT ke-57 bukan hanya selebrasi. Ia adalah pernyataan: bahwa pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang bermakna, dan SD Kanisius Kembaran adalah tanah subur tempat benih-benih masa depan ditanam, disirami, dan ditumbuhkan dengan kasih, karakter, dan harapan. (mar/Hery Kristiawan, Theresia Dewi Haryanti, Lingkungan Santa Helena Paroki Bantul DIY)












