News  

Musim Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran di Gunungkidul, BPBD Minta Warga Stop Bakar Sampah

bernasnews – Kebakaran Gunungkidul meningkat hingga tiga kali lipat saat kemarau 2026. Lima titik terbakar dalam sehari, mayoritas dipicu pembakaran sampah.

Kebakaran di Kabupaten Gunungkidul kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Dalam satu hari, Selasa (4/8/2026), petugas UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Gunungkidul menangani lima kejadian kebakaran di lokasi berbeda. Kondisi tersebut terjadi ketika musim kemarau memasuki fase yang semakin kering dan memperbesar risiko kebakaran lahan maupun bangunan.

Hingga pembaruan terbaru, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul juga mencatat jumlah kebakaran sepanjang musim kemarau tahun ini meningkat sekitar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Mayoritas kasus masih dipicu aktivitas pembakaran sampah dan sisa tanaman yang dilakukan tanpa pengawasan hingga api merembet ke lahan di sekitarnya.

Lima Kebakaran Terjadi Nyaris Tanpa Jeda

Hari yang padat bagi personel Damkarmat dimulai sejak pagi ketika kebakaran terjadi di sebuah kantor travel umrah di Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari.

Belum selesai melakukan pendinginan di lokasi pertama, petugas kembali menerima laporan kebakaran lahan di wilayah Munggi, Kapanewon Semanu.

Menjelang siang, laporan berikutnya datang dari kawasan Tompak, Kalurahan Wiladeg, Kapanewon Karangmojo. Api kembali membakar lahan kering sehingga personel harus bergerak cepat agar kobaran tidak meluas.

Menjelang petang, dua kebakaran lain kembali dilaporkan.

Lahan kering terbakar di Kalurahan Siono, Kapanewon Playen. Selang beberapa saat, kebakaran kembali terjadi di wilayah Getas, juga berada di Kapanewon Playen.

Rentetan laporan yang masuk membuat armada pemadam terus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain hampir tanpa jeda.

Situasi tersebut menjadi gambaran meningkatnya beban kerja petugas saat musim kemarau mencapai puncaknya.

Kemarau Membuat Api Cepat Menjalar

Vegetasi yang mengering selama kemarau berubah menjadi bahan bakar alami. Percikan api kecil dapat dengan cepat membesar, terlebih ketika angin bertiup cukup kencang.

Karakter bentang alam Gunungkidul yang didominasi kawasan karst dan lahan kering membuat penyebaran api berlangsung lebih cepat dibandingkan musim penghujan.

Kondisi itu menyebabkan keterlambatan beberapa menit saja dapat memperluas area kebakaran hingga mengancam lahan pertanian, permukiman warga, bahkan kawasan konservasi karst.

Pembakaran Sampah Masih Jadi Penyebab Utama

Kepala Subbagian Tata Usaha UPT Damkarmat Gunungkidul, Ngadiyono, mengatakan sebagian besar laporan kebakaran yang diterima petugas berawal dari aktivitas masyarakat membakar sampah.

“Berdasarkan laporan yang kami terima, rata-rata kebakaran disebabkan aktivitas masyarakat yang membakar sampah. Karena adanya kelalaian, api membesar dan membakar lahan,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan membakar dedaunan maupun sisa tanaman tanpa pengawasan masih menjadi penyebab dominan kebakaran lahan selama musim kemarau.

Petugas pun harus bergerak cepat setiap menerima laporan karena kondisi cuaca sangat mendukung penyebaran api.

Edukasi Dilakukan Lewat Media Sosial

Selain fokus pada pemadaman, Damkarmat Gunungkidul memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat.

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memproduksi video parodi tanpa dialog di media sosial. Konsep tersebut dipilih agar pesan mengenai bahaya kebakaran lebih mudah dipahami berbagai kalangan.

“Konsep parodi tanpa suara membuat pesan lebih mudah diterima dan mendapat respons positif dari masyarakat. Kami berharap cara ini mampu meningkatkan kesadaran warga agar tidak lagi membakar sampah sembarangan, meningkatkan kewaspadaan, sekaligus mengurangi jumlah kejadian kebakaran,” kata Ngadiyono.

Konten edukatif tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat di tengah meningkatnya jumlah kejadian kebakaran sepanjang musim kemarau.

BPBD Ingatkan Dampak Kebakaran Tidak Hanya Menghanguskan Lahan

Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah maupun sisa hasil pertanian.

Menurutnya, pembakaran terbuka berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan yang dampaknya jauh lebih luas.

“Pembakaran lahan dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Api cepat merambat karena angin kencang dan vegetasi yang kering, merusak ekosistem karst, menyebabkan lahan menjadi gersang, mengurangi daya resap air, hingga meningkatkan risiko longsor,” ujarnya.

Asap dari kebakaran juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mengurangi jarak pandang di jalan, dan mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kejadian.

Warga Diajak Mengelola Sampah Tanpa Dibakar

BPBD mendorong masyarakat mulai mengubah cara mengelola sampah organik selama musim kemarau.

Dedaunan kering dan sisa hasil pertanian disarankan diolah menjadi kompos daripada dibakar. Cara tersebut dinilai lebih aman, bermanfaat bagi lahan pertanian, sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api baru.

Dengan prakiraan cuaca yang masih didominasi kondisi kering dalam beberapa waktu ke depan, kewaspadaan masyarakat menjadi faktor utama untuk menekan jumlah kebakaran di Gunungkidul.

Satu kelalaian kecil dapat memicu kebakaran yang meluas dalam hitungan menit. Karena itu, pemerintah mengingatkan warga agar menghindari pembakaran terbuka dan segera melapor apabila menemukan titik api sebelum kobaran semakin sulit dikendalikan.***