Tradisi Sungkeman Idul Fitri Masih Lestari di Dusun Windusari Lereng Gunung Sumbing

Suasana tradisi sungkeman di rumah H. Muhdi, Dusun Windusari Lor, Desa Windusari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (Z. Bambang Darmadi/ bernasnews)

bernasnews — Mudik lebaran atau pulang kampung halaman merupakan momen yang sangat dirindukan oleh khususnya kaum muslim di Indonesia, terlebih bagi para pekerja-pegawai yang bekerja di luar kota maupun luar pulau, menjelang Idul Fitri tentu telah mempersiapkan segalanya untuk bisa pulang mudik.

Pulang mudik dengan tujuan bertemu dan menghadap orang tua  untuk melakukan sungkeman dan bertemu dengan keluarga, sanak saudara dan para sahabat. Sungkeman berasal dari bahasa Jawa yang berarti sujud atau tanda bakti, sebuah prosesi adat yang dilakukan oleh seseorang yang biasanya lebih muda kepada yang lebih tua.

Sungkeman bertujuan sebagai bentuk penghormatan ataupun sebagai bentuk permohonan maaf. Tradisi ini masih banyak kita jumpai di wilayah pedesaan, salah satunya seperti yang masih lestari di pedesaan yang ada di lereng Gunung Sumbing, tepatnya Dusun Windusari Lor, Desa Windusari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Setiap tahun usai melaksanakan sholat Idul Fitri, masyarakat setempat lantas bergegas untuk segera sungkem pada orang tua masing- masing. Juga segera  bergegas  menuju orang yang dituakan di kampung tersebut untuk datang berlebaran dan melakukan sungkem. Salah satu contoh, seperti di Rumah H. Muhdi, yang berada di dusun Windusari Lor yang dianggap tokoh warga orang yang dituakan.

Tidak mengherankan jika rumah pensiunan guru sebuah sekolah MTs di Windusari ini senantiasa terbuka untuk menyambut dan melayani puluhan orang, bisa sampai 60 orang dari pagi hingga malam hanya untuk menerima sungkeman dalam rangka lebaran. Juga sudah menjadi kebiasan H. Muhdi setiap orang yang datang ke rumahnya selalu ditawari untuk makan dan mempersilakan semua hidangan yang tersaji di atas meja untuk berkenan dimakan sepuasnya.

Suasana yang demikian ini sudah merupakan tradisi lama yang turun temurun hingga saat ini dan masih lestari dilakukan. Walaupun sebenarnya untuk mengucapkan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf bisa saja kirim melalui SMS, WA (whatsapp), telpon, vidio call, dengan fasilitas media sosial yang ada dan semakin canggih.

Namun hal itu oleh sebagian warga dianggap kurang afdol, kurang sreg, kurang puas kalau tidak mudik dan bertemu langsung bisa bersalaman, berjabat tangan dan sungkem pada orang tua atau yang dituakan. Tradisi berkunjung untuk melakukan sungkeman yang datang tidak saja dari satu wilayah kampung, namun juga datang dari berbagai kampung, desa yang berbeda dan jaraknya cukup relatif jauh sekitar 5 Km.

Mereka datang berbondong-bondong bersama suami istri dan anak, bahkan ada yang masih melakukan dengan berjalan kaki. Seperti yang dilakukan oleh Agus Riswanto yang sehari- hari bekerja sebagai pedagang keliling di Kota Malang, Jawa Timur dan Win Indarto yang seharian mengabdi pada negara sebagai anggota TNI di Jakarta. Kedua warga Windusari ini berharap tradisi sungkeman semacam ini yang telah ada sejak nenek moyangnya perlu untuk dilestarikan. (zbd)