bernasnews – Anak kecil dan boneka seolah satu paket. Kebanyakan anak di dunia ini tahu dan memiliki boneka. Mainan aneka boneka menjadi bagian dari kehidupan anak kecil, terutama perempuan. Ada anak yang karena saking senang boneka, hampir seharian memegang mainan kesukaannya itu, seolah tidak mau melepaskan.
Meski merupakan mainan populer dari dulu, kini dan mendatang, apakah semua anak di dunia ini dapat memiliki boneka? Boneka baru dan atau bahkan yang bekas sekalipun? Dapat dipastikan, tentu ada kelompok anak kecil yang tidak berkesempatan memiliki boneka. Faktornya antara lain daya beli terbatas, ketidaktersediaan mainan itu, dan sebagainya.
Salah satu orang yang kurang beruntung memiliki boneka saat maa kecilnya adalah Ny. Kris, seorang ibu muda yang memiliki seorang puteri kelas 3 sekolah dasar (SD), tinggal di sebuah kota di Jawa bagian barat.
“Ya, masa kecil saya kurang boneka. Bukan kurang bahagia lho? Kami keluarga kecil, ayah ibu dan dua orang putri, dan saya yang bungsu. Ayah ibu hampir tidak pernah membelikan kami boneka. Ayah lebih suka membelikan buku bacaan. Jadi kami lebih suka membaca daripada main boneka,” kata dia ketika dikontak melalui whatsApp, Senin (29/1/2024).
Namun kenangan masa kecil yang “kurang boneka” ternyata justru menghadirkan inspirasi untuk menjual boneka kepada siapa saja melalui online. Setelah berdinamika aneka kegiatan dan usaha, Ny Kris melihat mainan boneka sebagai peluang mendapatkan rezeki yang lumayan.
Mulailah dia mencari informasi dari pihak yang menjual mainan boneka, situs web perdagangan elektronik, kurir, pengemasan, promosi live di media sosial, dan sebagainya. Karena masih bersifat merintis, semua proses beli dan jual boneka sejak tiga bulan lalu itu dia lakukan sendiri.
“Ya karena semua dilakukan sendiri, di antara kesibukan sebagai ibu rumah tangga dengan antar jemput anak sekolah, memang repot. Tapi asyik kok. Saya bersyukur memiliki kegiatan bermanfaat ini. Saya menikmati. Memang ada income yang saya peroleh, namun yang lebih menggembirakan adalah punya banyak teman, sahabat dan menguatkan kemandirian,” kata dia.
Adakah kisah lucu atau berkesan dalam proses beli dan jual boneka ini?
Sambil tertawa di seberang sana, Ny Kris mengatakan, ada pelanggan yang karena saking sayangnya kepada boneka yang dia beli, diberikan kesempatan “tidur” di kasur. Sedangkan pemiliknya justru rela tidur di tikar lantai bawah.
Mainan paling tua
Menurut referensi, kata boneka yang merupakan serapan dari Portugis : boneca, adalah salah satu mainan yang paling tua di bumi ini. Wujudnya dapat bermacam-macam, ada yang berbentuk manusia, binatang, tokoh-tokoh fiksi atau yang lain. Fungsi boneka utamanya adalah untuk mainan, namun ada juga yang untuk fungsi ritual.
Di Jepang misalnya, ada perayaan khusus festival boneka bernama Hina Matsuri. Acara ini diadakan setiap tanggal 3 Maret dan sering dinamakan “festival anak perempuan”. Keluarga-keluarga khususnya yang memilki anak perempuan memajang koleksi boneka mereka dan berdoa agar anak gadisnya kelak tumbuh dewasa dan bergembira.
Kalau mengacu ke usia kelahirannya, boneka awal telah ada di dunia ini sejak 3000 – 2000 SM. Bentuknya tentu saja masih sangat sederhana dan memiliki fungsi ritual. Ada yang terbuat dari tanah liat, tulang, patahan kayu, potongan kain, dan sebagainya.
Mainan boneka terus ada pada 600 SM, dilanjutkan abad ke-5, abad ke-14, abad ke-15, abad ke-16, abad ke-17, abad ke-18, abad ke-19, abad ke-20, dan kini. Ada boneka jahit, boneka kaus kaki, boneka karakuri, boneka panthom, rumah boneka, barbie, dakocan, manaken, dan seterusnya.
Suatu ketika di era modern ini ada seorang karyawan yang berani keluar dari pekerjaannya yang relatif mapan untuk masuk kerja ke perusahaan mainan boneka. Ketika ditanya wartawan dia menyatakan kemantapan atas pilihannya, “Selama masih ada perempuan melahirkan anak-anak mereka, industri mainan boneka tetap ada dan menguntungkan.”
Bagaimana dengan Ny Kris? “Ya saya percaya hal itu dan memang suka boneka. Kalau dulu saya kurang boneka, kini puteri saya dapat memiliki banyak boneka,” kata dia. (Anto Margono, Pegiat literasi)











