bernasnews – Buku Yogyaku Yogya Kita Indonesia akan diluncurkan dan dibedah dalam Obrolan Sastra Bulan Purnama (SBP) – 8, di Museum Sandi, Jalan Faridan M. Noto No 21 Kotabaru, Yogyakarta, Rabu (24/1/2024) pukul 09.30-13.00 WIB.
SBP bekerjasama dengan Museum Sandi dan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) menghadirkan pemantik obrolan Anggota DPR RI H. Idham Samawi, Jurnalis dan Penyair Sutirman Eka Ardhana, dan moderator Indro Suprobo (Editor dan Penerjemah Buku).
Editor Sutirman Eka Ardhana mengemukakan, semangat untuk menulis, menulis dan menulis, tak boleh pupus. Menulis yang dimaksud tentu dalam konteks berkarya. Semangat itu tak boleh hilang, tak boleh tenggelam dalam alun kehidupan di usia tua, di masa-masa sepuh. Seperti bara api, semangat itu tak boleh padam, tapi harus tetap menyala, membara, sampai Tuhan menentukan batas akhir kehidupan.
“Buku Yogyaku, YogyaKita, Indonesia ini merupakan wujud dari bagaimana para mantan wartawan dan sejumlah wartawan berusia lanjut yang tergabung di dalam wadah Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta menjaga serta menggelorakan semangat menulis itu,” kata dia.
Menurut dia, buku ini merupakan buku kumpulan tulisan para “wartawan sepuh” yang keempat. Ketiga buku sebelumnya Yogya Bercerita – Catatan 40 Wartawàn ala Jurnalisme Malioboro (2017), Yang Hilang di Yogya (2018) dan Yogya Masa Datang – Impian-impian Wartawan Sepuh (2021).
Ada 19 tulisan dari 19 penulis terhimpun di buku ini. Di antara 19 penulis itu terdapat nama Drs. H. Idham Samawi yang menjabat Bupati Bantul dua periode (1999 – 2004 dan 2005 – 2010) dan kini sejak 2014 lalu menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PDI-P. Juga ada Sri Surya Widati, mantan Bupati Bantul periode 2010 – 2015, yang sejak beberapa tahun lalu menjabat Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) DIY.
Buku ini sebenarnya sudah disiapkan sejak awal 2022 lalu, ketika pandemi Covid-19 sudah mulai mereda. Tapi karena berbagai hal, baru dapat terwujud sekarang. Bahkan salah seorang penulisnya, yakni ST. Iman Santosa, tak sempat menyaksikan buku yang
menghimpun tulisannya itu terbit. Karena tak lama setelah menyerahkan naskah tulisannya, ia berpulang ke haribaan Tuhan. Tepatnya ia berpulang pada tanggal 14 Maret 2022.
“Gagasan, pendapat, pemikiran, harapan, dan beragam keinginan yang cemerlang tertuang di dalam tulisan-tulisan itu. Intinya, setelah keriuhan pandemi, Yogyakarta tetap eksis dalam menunjukkan peran dan kepeloporan diri menjaga harkat serta martabat bangsa dan negara,” kata Eka Ardhana.
Daftar isi buku
Pengantar Editor menyajikan tulisan : Semangat Menulis, Semangat Menjaga Yogya Menjaga Indonesia. Kemudian karya tulis anggota PWS yakni Mereka Melawan Pandemi Dalam Senyap (Agoes Widhartono), Ketika Para Penyair Melawan Pandemi (Bambang Nugroho), Yogyakarta Pasca Pandemi Corona, Peluang dan Kompetensi SDM Istimewa (Hazwan Iskandar Jaya, SP, Med., Master Trainer ASEAN), Yogyakarta Tetap Terdepan dalam Mempersatukan Bangsa (Drs. H. Idham Samawi), Yogya Tetap Istimewa (Maria Kadarsih), Wajah Kuliner dalam Suka dan Duka (Masduki Attamami), Ditelan Bencana Kebimbangan (Mukhijab), Optimisme Menyongsong Pasca-Pandemi Corona Berbasis Budaya (H. Nasrullah Krisnam), Kesenian, Keistimewaan dan Paska Pandemi (Ons Untoro), Gotong Royong Membantu Anak Yatim-Piatu (Saryono), Covid-19 “Guru Killer” Hidup Sehat (Soeharno Panca Atmaja).
Selanjutnya, Yogyakarta Harus Tetap Menjadi Kota Perjuangan dalam Menumbuhkan Semangat Masyarakat (Sri Surya Widati), Menghidupkan Kembali Budaya Bermasyarakat di Kotaku (ST. Iman Santosa), Warga Yogya di Antara Gaya Hidup Berjarak dan Maskeran (Dr. Sumbo Tinarbuko), Angkringan, Warung Peradaban yang Harus Dipertahankan Sampai Kapan Pun (Sutirman Eka Ardhana), Kembalikan Marwah Yogyakarta Sebagai Kota Budaya yang Masyarakatnya Ramah dan Santun (Tertiana Kriswahyuni), Yogyakarta Menulis, Menulis Yogyakarta (Y.B. Margantoro), Wajah Pariwisata Yogyakarta Setelah Pandemi Corona (Yohanes S Widada),Disrupsi Pariwisata Yogyakarta (Yudah Prakoso R). (mar)











