bernasnews – Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan alternatif, khususnya melalui literasi, mendorong banyak individu mengambil peran dan berkontribusi aktif membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. Salah satu yang menjadi contoh kali ini adalah Pustaka Merdesa.
Itu adalah sebuah perpustakaan pribadi yang dibuka gratis bagi masyarakat di Desa Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berawal dari sebuah keluarga yang mempunyai kegemaran membaca dan mengoleksi buku, berujung pada keinginan untuk memanfaatkan koleksi bukunya tidak hanya untuk keluarga tetapi untuk orang lain.
Diperkuat dengan keinginan mempermudah masyarakat, terutama anak-anak, untuk mendapatkan akses buku-buku bermutu, maka Pustaka Merdesa didirikan oleh Atiek Mariati bersama keluarganya pada tahun 2017 menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat terutama anak-anak di sekitarnya.
Dengan memanfaatkan bangunan sederhana di samping rumah inti, keluarga ini menata tak kurang dari 3.000 judul buku koleksinya dalam rak buku sederhana. Pustaka Merdesa, dipilih pendirinya menjadi nama perpustakaannya. Merdesa yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti layak, patut, sopan, tertib, sejahtera, dan beradab, merupakan cermin sebuah cita-cita akan terwujudnya masyarakat madani di era informasi: desa harus mampu menjawab persoalan lokal sekaligus siap berhadapan dengan gejala global. Masyarakat – terutama anak-anak – yang menjadi pemustaka dimotivasi untuk gemar membaca dan melakukan pembelajaran bersama, mengembangkan relasi, menghidupkan kekuatan budaya, empati, dan bertransformasi untuk satu tujuan : merespon kemajuan zaman.
Berbagai program mulai disusun sejak 2017 agar kegemaran membaca dan meminjam buku para pemustaka tetap menyala. Salah satu program awal adalah pengenalan berbagai profesi kepada anak-anak di desa. Hal ini didasari survei awal terhadap anak-anak pemustaka yang berusia 5 hingga 12 tahun, yang rata-rata hanya mengenal sedikit profesi di masyarakat seperti guru, polisi dan tentara.
Maka Pustaka Merdesa berturut-turut mengundang banyak profesional di bidang yang beragam, seperti dokter, psikolog, dokter gigi, insinyur teknik elektro, arsitek, fotografer, pelukis, pemusik, sutradara film, insinyur pertanian dan peternakan, grafik designer, dan profesi lainnya seperti pencipta lagu anak, pekerja sosial, untuk dipertemukan dengan anak-anak pemustaka.
Di sini anak-anak tidak hanya mendengar para profesional menceritakan profesinya serta memberi motivasi untuk rajin membaca dan sekolah yang tinggi, namun juga berdialog dan tanya jawab. Dari pengalaman bersama tersebut di tahun 2018 anak-anak diajak untuk menulis tentang diri mereka, cita-citanya serta pengalaman membaca buku yang kemudian diterbitkan menjadi buku kumpulan tulisan anak-anak merdesa berjudul Aku, Buku & Cita-Citaku yang dicetak terbatas untuk dibagikan gratis kepada anak-anak penulis cilik yang tergabung dalam Komunitas Pustaka Merdesa.
Dongeng juga menjadi salah satu media untuk menyampaikan pesan moral serta ajaran-ajaran positif bagi anak-anak. Pustaka Merdesa sudah beberapa kali mengundang pendongeng bertemu anak-anak untuk membacakan sebuah dongeng yang diikuti dengan diskusi kecil tentang pesan moral dibalik dongeng tersebut. Dari kegiatan membaca dan mendengarkan dongeng ini anak-anak kemudian diajak untuk belajar menulis dongeng versi mereka sendiri yang kemudian dibukukan, dicetak terbatas dan dibagikan gratis kepada semua penulisnya. Buku kedua yang dianggit anak-anak Komunitas Pustaka Merdesa ini diberi judul Kumpulan Dongeng Anak Merdesa yang diterbitkan Pustaka Merdesa Self Publishing di tahun 2020.
Program lain adalah mempopulerkan kembali lagu anak, hal yang penting mengingat banyak ditemui anak-anak menyanyikan lagu-lagu yang lirik dan syairnya tidak sesuai dengan umur mereka. Maka Pustaka Merdesa mengundang pencipta lagu anak untuk memperkenalkan dan mengajarkan lagu-lagu yang lirik dan syairnya mudah dinyanyikan anak, serta berirama ceria untuk membangun semangat, mempengaruhi perasaan anak-anak agar gembira, tidak lesu atau malas. Lagu-lagu yang diajarkan tersebut syarat pesan moral seperti ajakan untuk saling menghormati, menyayangi, bekerjasama, saling membantu, dan ajaran-ajaran positif sesuai umur anak.
Disamping itu secara berkala digelar pemutaran film anak disertai diskusi kecil, membaca puisi, geguritan, menggambar, juga keterampilan membuat eco-print dan mengolah makanan berbahan lokal yang mudah untuk dinikmati bersama. Kegiatan mengolah makanan bertema “koki cilik” ini juga diisi dengan pengenalan bahan makanan lokal serta pewarna makanan yang alami. Tujuannya agar anak-anak menyukai makanan lokal dan sehat sekaligus mengurangi mengonsumsi junk food demi kesehatan mereka.
Pemustaka yang utamanya adalah anak-anak setingkat TK, SD, SMP dan SMK/SMA yang tergabung dalam Komunitas Pustaka Merdesa ini bebas meminjam buku dan mencatat sendiri dalam kartu pustaka yang disediakan, kapan mereka meminjam dan kapan mereka mengembalikan. Hal ini sekaligus mengajarkan kejujuran dan tanggung-jawab kepada anak-anak. Beberapa buku harus direlakan tidak kembali sebagai resiko proses pembelajaran, dan dianggap sebagai bukan kejahatan karena kejahatan yang sesungguhnya adalah tidak membaca buku.
Demi melanggengkan semangat membaca dan memotivasi lebih banyak anak untuk gemar membaca maka Pustaka Merdesa, yang mengutamakan konsep bermain sambil belajar ini, memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kegiatan-kegiatannya, termasuk prestasi-prestasi yang diraih para pemustakanya seperti yang diunggah dalam instagram @pustakamerdesa
Keberadaan taman baca masyarakat seperti Pustaka Merdesa ini diharapkan makin banyak bermunculan sebagai bentuk partisipasi masyarakat untuk ikut memajukan pendidikan dan mencetak generasi bangsa yang cinta literasi, kreatif, memiliki pengetahuan luas, mandiri dan berbudaya. Maka sudah semestinya pemerintah turut memberi perhatian serta ikut memupuk keberadaan Taman Baca Masyarakat seperti ini, jangan sampai malah memanfaatkan keberadaannya untuk kepentingan yang tidak semestinya. (Atiek Mariati, Pengelola Pustaka Merdesa, Kulon Progo, DIY)











