Teh Herbal dari Bunga Sepatu, Banyak Manfaatnya untuk Kesehatan Badan

Penampilan teh herbal dari bunga sepatu dalam kemasan karya Mahasiswa KKNR-8449 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Foto: Istimewa.

bernasnews — Bagi orang awam bunga yang dapat diolah menjadi teh atau minuman herbal sepengetahuannya hanya sebatas bunga Rosela dan bunga Telang. Sementara bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L), tanaman ini hanya diperuntukkan sebagai penghias atau pagar rumah semata.

Namun bunga yang besar dan berwarna merah serta tidak memiliki aroma ini, oleh sekolompok Mahasiswa KKNR-8449 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), diolahnya menjadi teh atau minuman herbal yang banyak manfaat bagi kesehatan.

Kegiatan pembuatan teh bunga sepatu merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh kelompok mahasiswa KKNR-8449 UNY untuk memberikan nilai tambah bagi warga di mana kegiatan KKN berlangsung, yaitu di Dukuh Clapar 2, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Menurut Penanggungjawab Program Aulia Putri Yunita, bahwa pelatihan ini dilaksanakan lantaran banyak tanaman bunga sepatu di sekitar rumah warga serta pinggir jalan raya yang dimanfaatkan sebagai pagar dan menambah nilai keindahan lingkungan sekitar.

”Selain itu, daun dari bunga sepatu juga dimanfaatkan untuk menjadi pakan ternak oleh masyarakat pada saat musim kemarau berlangsung,” kata Putri, dalam keterangannya, Rabu (3/1/2023).

”Dari sinilah tercetus ide untuk membuat bunga sepatu lebih bernilai ekonomi, yakni dengan mengolahnya menjadi teh kering,” tandasnya.

Sementara anggota KKN-8449 UNY lainnya, Aliska Rahma Haryanti mengemukakan, bahwa teh bunga Sepatu ini memiliki kandungan vitamin C yang lebih banyak dibandingkan dengan teh-teh lainnya serta memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Sehingga, menurut Aliska dapat mencegah radikal bebas. Selain itu teh bunga sepatu dapat membantu menurunkan peradangan, menurunkan kolestrol, tekanan darah, serta berat badan.

”Bunga Sepatu yang diproses dijadikan teh ini disosialisasikan dan didemonstrasikan kepada Ibu-Ibu PKK Padukuhan Clapar 2, sebagai bentuk pelatihan awal untuk nantinya dapat dijadikan ide ekonomi kreatif dengan mengangkat potensi wilayah setempat,” bebernya.

Berikut cara membuat teh bunga Sepatu yang awalnya bunga yang dipetik kondisinya masih segar atau belum layu. Kemudian lepaskan kelopak dari tangkainya, periksa dan bersihkan setiap kelopak dari kotoran dan hama, serta cuci bersih. Siapkan wadah yang sudah dialasi tisu dapur/ tisu biasa untuk menata kelopak bunga sepatu.

”Fungsi dari tisu adalah untuk menyerap air yang masih tersisa setelah kelopak bunga sepatu dicuci,” terang Iin Ragil Cahyanti.

Lebih lanjut Iin menjelaskan, letakkan kelopak bunga Sepatu dalam wadah kemudian tunggu hingga tidak ada air yang tersisa. Sementara itu siapkan oven, kemudian masukan kembang sepatu ke dalam loyang yang telah dialasi baking paper dan panggang selama kurang lebih 15 menit atau dapat ditunggu hingga bunga Sepatu berwarna ungu kecoklatan. Angkat bunga Sepatu yang sudah kering dan teh bunga Sepatu siap disajikan.

Mahasiswa KKNR-8449 UNY dan ibu-ibu peserta pelatihan menunjukkan karyanya teh herbal dari bunga Sepatu yang sudah dikemas siap untuk dipasarkan. (Foto: Istimewa)

Usai demo pembuatan teh dari bunga Sepatu, Rahmatika Ardini menyampaikan cara menyajikan teh tersebut. Yaitu ambil satu sendok teh bunga sepatu dan masukan ke dalam gelas, tambahkan gula atau madu sesuai dengan selera. Kemudian seduh dengan air panas lalu aduk menggunakan sendok hingga bunga sepatu berwarna ungu.

“Sebagai opsional dapat ditambahkan sedikit asam dari jeruk atau lemon, dan lauratan teh bunga Sepatu akan berubah menjadi warna merah,” ujarnya.

Salah satu warga setempat yang juga sebagai Ketua PKK Dukuh Clapar 2, Sumini memberikan testimony bahwa teh bunga Sepatu rasanya enak, seperti teh pada umumnya. Apabila ditambah dengan jeruk rasanya mirip lemon tea dan aroma tehnya hilang.

”Namun baiknya jika tidak ditambahkan dengan jeruk dapat dicampur dengan bunga Melati supaya aroma tehnya jadi lebih wangi,” saran Sumini. (*/ ted)