“Turuk Bintul” Bu Muji, Panganan Tradisional yang Masih Eksis hingga Kini

Panganan tradisional "Turuk Bintul" bikinan Bu Muji, warga Jagalan, Tegaltirto, Berbah, Sleman. (Foto: Istimewa)

bernasnews — Di tengah gempuran pangan camilan kekinian dengan berbagai bahan dan dengan nama  moderen serta penampilan yang menawan, kehadiran panganan tradisional tetap eksis  meski dengan tampilan sederhana namun menggoda selera dan menarik untuk dicoba.

Juga menarik untuk menjadi bahan kajian atau didiskusikan guna menambah khasanah kuliner tradisonal di Jogja. Makanan tahu juga sebagai camilan tradisional tersebut adalah “Turuk Bintul”. Panganan legendaris tempo dulu yang berbahan ketan, kacang tholo, santan, dan garam.

“Cara membuatnya sama seperti memasak ketan. Tambahan tholo itu yang membedakan. Bisa dilembutkan seperti membuat jadah atau  dimakan sebagaimana nasi ketan,” ungkap Bu Muji saat ditemui di acara gelar UMKM HUT Ke-78 Kalurahan Tegaltirto, di lapangan Kadisono, Berbah , Sleman, Sabtu, 20 Desember 2025.

Menurut Bu Muji, Turuk Bintul sendiri merupakan makanan tradisional yang mungkin dari namanya terkesan jorok dan vulgar. Namun nama itu sudah melekat dari generasi ke generasi berikutnya. Ia pun mencontohkan, bahwa sebenarnya banyak nama makanan tradisional yang terkesan jorok seperti Rondho Royal tape ditepingi dan digoreng.

“Ada nama Kontol Kejepit (Tolpit) yang gurih manis, nama lain dari Adrem yang terbuat dari tepung beras dan saat penggorengan dicepit menggunakan potongan  bambu. Kupat Jembut merupakan kupat yang diiris dan isi dengen olahan kecambah,” bebernya.

Bu Muji dengan brand Teras Ndesa saat membuka lapak panganan tradisional “Turuk Bintul”. (Foto: Istimewa)

Nama panganan tersebut sudah turun temurun dan sudah melekat tidak bisa diubah atau diganti sebutan lain. Awalnya ada pelanggan yang menanyakan panganan Turuk Bintul, Bu Muji pun coba bikin ternyata banyak yang suka dan akhirnya keterusan jual Turuk Bintul.

Lanjut Bu Muji menjelaskan, panganan Turuk Bintul disajikan dengan dibungkus daun pisang tapi masih dilapis kertas minyak agar lebih kuat dan estetis. Selain Turuk Bintul, ia juga membikin Sego Wiwit lengkap sambel gepeng, gereh pethek, urap dan telur rebus.

Dalam berproduksi, Bu Muji membuat brand atau merek dagang Teras Ndesa. Sebuah filosofi bahwa meskipun teras atau halaman bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Teras atau emper tempat berjualan sedangkan halaman atau kebun bisa untuk menanam sayur dan memelihara ayam dan ikan.

“Saya memelihara lele karena dari lele bisa dibuat abon lele salah satu produk Teras Ndesa. Jadi semua bisa terintregasi. Saling mendukung berkesinambungan.” ujar Bu Muji, warga Jagalan, Tegaltirto, Berbah, Sleman. (nun/ Kusnadi, KIM Berbah)