bernasnews – Buah salak (Salacca zalacca) selain dapat dinikmati sebagai buah dalam artian dinikmati langsung begitu saja daging buahnya, ternyata kulit salak dapat dimanfaatk sebagai bahan membuat wedang herbal yang berkhasiat dan bernilai ekonomi untuk dijual. Juga untuk mengurangi limbah atau sampah.
Hal itu seperti yang dilakukan oleh Mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Kependidikan (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan pengolahan kulit salak.
Kegiatan tersebut diselenggarakan di Padukuhan Watuadeg, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Sabtu (16/5/2026). Dalam kegiatan ini, warga diajak memanfaatkan limbah kulit salak menjadi wedang herbal yang memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus manfaat kesehatan.
Program ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa PLK UNY dalam mendampingi masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal berbasis hasil pertanian khas wilayah Pakem, Kabupaten Sleman, DIY yang kaya dengan hasil perkebunan salak.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan kulit salak yang selama ini kerap dianggap limbah dan dibuang begitu saja. Padahal, kulit salak diketahui memiliki kandungan flavonoid, tanin, antioksidan, dan serat alami yang berpotensi memberikan manfaat kesehatan, termasuk membantu menjaga kadar gula darah dan kesehatan pencernaan.
Ketua Kelompok PLK UNY , Nabila Ilma Yenisa, mengemukakan, bahwa kegiatan ini bertujuan membuka wawasan masyarakat tentang pemanfaatan salak secara lebih menyeluruh, termasuk bagian kulit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kulit salak yang biasanya dianggap limbah ternyata memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ujar Nabila, di tempat kegiatan.
“Harapannya, warga dapat mengembangkan inovasi ini sebagai peluang usaha sekaligus mengurangi limbah hasil pertanian,” imbuhnya.
Melalui edukasi ini, lanjut Nabila, warga dikenalkan cara sederhana mengolah kulit salak menjadi wedang herbal yang dapat dikembangkan menjadi produk rumah tangga bernilai jual.
Selain pelatihan utama pembuatan wedang kulit salak, mahasiswa turut mengenalkan inovasi olahan lain berupa salak gummy (jenang dodol) sebagai alternatif produk berbasis buah salak.
“Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas peluang diversifikasi produk olahan salak di masyarakat sehingga hasil panen tidak hanya dikonsumsi secara langsung, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” tandas Nabila.
Cara pembuatan wedang herbal kulit salak
Cuci kulit salak dengan air mengalir hingga bersih dari kotoran dan getah. Kemudian iris atau potongkulit salak menjadi kecil untuk mempermudah pengeringan. Jemur di bawah sinar matahari 1-2 hari, atau memakai oven pada suhu 50-60 derajat Celcius selama 3-4 jam hingga kering dan renyah.
Jika ingin dibuat dalam bentuk the celup, haluskan kulit salak yang kering dengan blender hingga halus dan disaring. Untuk menikmatinya, masukkan beberapa gram kulit salak kerin ke dalam 200 ml air mendidih diamkan 5 – 10 menit atau rebus selama 10 menit.
Selanjutnya saring dan tambahkan gula secukupnya atau madu dan wedang herbal kulit salak siap dinikmati, hangat atau dingin sesuai selera. Untuk memberikan rasa yang optimal juga bisa ditambahkan campuran jahe, kayu manis, serai, hingga madu dan lemon.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh tim mahasiswa PLK UNY yang terdiri atas Nirmala Aurelia, Chesna Ganendra Putra Wibowo, Widya Puspita Dewi, Arsya Khalid Mahardika, Fyinn Lika Ambitha, Hasna Izza Luthfia, Ananta Feiza Nery Widowati, Nabila Ilma Yenisa, dan Nanda Olivia Pandjaitan. (*/ ted)












