bernasnews – Seniman multi talenta Butet Kartarajasa mengajak kaum muda, khususnya para siswa-siswi SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, untuk mencintai pekerjaan yang kelak dipilih. Dengan mencintai dan bertanggungjawab atas pekerjaan atau profesi yang dipilih akan membuat diri kita bahagia. Dia meminta para siswa semangat belajar untuk siap menghadapi masa depan dan mengisi posisi-posisi penting.
“Janganlah ketika kalian bekerja nantinya semata-mata demi uang, namun bekerjalah dengan cinta, bertanggungjawab dan memberikan makna bagi sesama. Kini, ketika kalian masih studi di sekolah ini, bersyukurlah karena memperoleh pendidikan yang terbaik dari bapak ibu guru. Jangan kalian sia-siakan momentum yang luar biasa ini,” kata Butet pada peringatan 100 Tahun SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta, di GOR sekolah setempat, Jumat (1/9/2023).
Sebelumnya, acara ini dimulai dengan Misa Syukur yang dipersembahkan oleh Romo AR Yudono Suwondo, Pr. sebagai selebran utama, dan konselebran yakni Romo Antonius Wahadi Martaadmaja, Pr., Romo Lambertus Issri Purnomo Murtyanto, Pr., Romo A. Eddy Anthony, SJ., Romo EM Supranowo, Pr., dan Romo Gregorius Prima Dedy Saputro, Pr.
Dalam kesempatan homili, Romo Yudono meminta kepada lima konselebran untuk memberikan kenangan ketika studi di sekolah ini dan memberikan motivasi. Mereka mengajak siswa untuk berani bermimpi, menjadi pribadi yang terbaik, merasakan enjoy studi di sekolah ini.
Pada misa syukur ini, Vikep Yogyakarta Barat Romo Yudono memberkati patung Santo Yosef yang menjadi bapa pelindung sekolah. Dia berdoa pula agar karya pendidikan di bawah naungan Kongregasi FIC ini dapat terus berkembang dan membawa dunia pendidikan Indonesia maju.
Memberikan laporan ketua panitia Elisabeth Dewi Krinamurti, sambutan kepala sekolah Br. Yustinus Tri Haryadi, FIC , Ketua Yayasan Pangidu Luhur Pusat Br. Dr. Martinus T Handoko, FIC dan Kepala Dinas Dikpora Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori, SE., MSi.. Acara ini juga dimeriahkan berbagai pentas seni oleh para siswa-siswi.

Mengajak siswa bertanya
Butet Kartarajasa yang menjadi siswa SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta tahun 1974 – 1976 ini didapuk panitia untuk memberikan refleksi dan motivasi kepada para siswa-siswi. Duduk di panggung acara, didampingi dua pembawa acara, seniman yang bertongkat ini dengan semangat memberikan motivasi belajar siswa untuk masa depan. Bahkan dia “menantang” kepada siswa untuk berani bertanya kepadanya. Semula hanya satu siswa yang maju dengan malu-malu, namun kemudian menyusul secara beberapa siswa.
Ada siswa yang bertanya berapa penghasilan Butet sebagai aktor teater. Dengan kebapakan, Butet menjawab, selama dua puluhan tahun dia bermain teater sering hanya mendapat tepukan tangan sebagai apresiasi. Selama itu, dia hidup dari melukis dan menulis. Baru setelah itu, rejeki mengalir melalui iklan dan sebagainya.
“Saya ikut main di film Petualangan Sherina 1. Itu sangat berkesan bagi saya karena merupakan awal kebangkitan kembali perfilman nasional. Silakan para siswa nonton di youtube,” kata dia.
Butet juga mengemukakan, ketika teman-teman SD-SMP umumnya baru suka membaca majalah anak-anak atau remaja, dia sudah suka membaca buku-buku sastra, menyaksikan pentas teater dan berteman dengan seniman. Itu semua menjadi bekal baik bagi pengembangan diri di kelak kemudian hari. Bekal sastra, filsafat, teater dan seni rupa itu kemudian melebur menjadi satu dalam karya dirinya.
Ketika pembawa acara Lusy Laksita meminta Butet memberikan satu kata untuk SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta di akhir acara, seniman berkaca mata tebal itu sempat terdiam dan tersenyum. Kemudian dengan lantang dia mengatakan, “SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta : WARAS.” (mar)











