Sekolah Bertanggungjawab Mendidik, Siswa Bersungguh-sungguh Belajar

Empat buku yang diterbitkan berkenaan Lustrum XV SMA Kolese De Britto Yogyakarta. (Foto : YB Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Pendidikan hingga kini semakin kuat diyakini sebagai jembatan untuk kemajuan dan peradaban. Sedangkan guru dan orangtua adalah pendidik utama bagi anak. Bahkan tanpa guru, tidak akan lahir aneka profesi. Ini untuk menunjukkan bahwa pendidikan, guru dan orangtua adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan guna mendidik anak-anak bangsa.

Ketika sebuah satuan pendidikan memperingati lustrum XV atau 75 tahun, tentu lembaga tersebut sudah mengarungi dinamika pendidikan yang bermakna. Ada perjuangan dalam ketidakpastian di masa lalu, masa kini yang kompleks dan menuju masa depan yang boleh jadi lebih tidak pasti. 

Peletak dasar monumen hidup berwujud sekolah itu, meski memiliki visi dan misi khas, barangkali tidak membayangkan karyanya akan menapaki usia 75 tahun pada 19 Agustus 2023. Sekolah khusus laki-laki yang bersyukur merayakan lustrum XV itu adalah SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Beragam acara dilaksanakan dalam momentum istimewa itu. Satu diantaranya adalah penerbitan empat buku tentang sejarah awal sekolah serta kolaborasi karya guru, karyawan, siswa dan orangtua siswa. Buku adalah karya budaya, kreativitas penulis, dan bersifat monumental. Kehadiran keempat buku ini terasa menggenapi karya monumental lembaga pendidikan di bawah naungan Serikat Jesus itu.

Masa Lalu Mencahayai Masa Depan SMA Kolese De Britto 1948 -1958 adalah karya buku tentang sejarah awal sekolah yang ditulis oleh Y. Sumardiyanto, M. Dwi Prasetyo, T. Dannar Sulistyo, H. Franky Ari Andripriyanto, R. Arifin Nugroho, dan Muhammad Jaris Almazani. Kata pengantar buku oleh kepala sekolah F.X. Catur Supatmono dalam tulisan bertajuk Campur Tangan Tuhan dalam Penyelenggaraan SMA Kolese De Britto.

Mengapa dipilih masa lalu dalam kurun waktu 10 tahun? Menurut tim penulis, buku berfokus pada tema dan bukan temporal, lebih menekankan sinkroniknya ketimbang urutan waktu peristiwanya, dan lebih menonjolkan makna dibalik fakta keras sejarahnya.

Buku ditulis dalam lima bab yakni Lompatan besar dalam kegelapan, Persemaian benih intelegensia Katolik, Penuh keterbatasan tetapi membanggakan, Garda depan kota pelajar, dan Tetap kontekstual dan relevan. Proses perjuangan pendiri serta guru dan karyawan dalam mendidik anak-anak muda itu menunjukkan betapa tanggungjawab yang mereka pikul sungguh besar demi masa depan yang lebih baik. Komitmen, kompentensi dan konsisten dalam mendidik dengan dasar kemanusiaan penuh kasih menjadi bukti nyata tanggungjawab besar itu.

Dari sekian banyak pendiri, menurut penulis, Rama Rudolf van Thiel, SJ merupakan figur sentral. Dia merintis dan membangun dengan menghasilkan yang terbaik (making better). Dia juga menciptakan budaya kerja yang sungguh berbeda (making different). Sejarah sekolah dalam kurun waktu 10 tahun itu menggambarkan sebuah keinginan besar untuk menjulang ke atas. Bukan hanya itu, sekolah ini juga terus berjuang untuk tetap relevan dengan perkembangan zaman dan masa depan.

Sinergi guru-karyawan, siswa dan orangtua

Pada dasarnya, sumber daya manusia (SDM) menjadi pelaku dan tumpuan utama setiap lembaga pendidikan. Sistem dan sarana prasarana adalah alat bantu. Sedangkan sentral dari keberadaan sekolah adalah guru, karyawan, siswa dan orangtua.. Sebagus apapun sistem, kurikulum, dan kebijakan sekolah maupun bangunan dan sarana prasarana sekolah, yang utama adalah kualitas pendidik dan tenaga kependidikan. Bagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam mengajar dan mendidik siswa dalam kegiatan akademik dan sosial kemasyarakatan. Sebaiknya, kesungguhan atau komitmen belajar serius juga dituntut dari pihak siswa dan dukungan para orangtua dalam seluruh proses pendidikan anak-anak mereka.

Tiga buku karya guru-karyawan, siswa dan orangtua itu menggambarkan sinergi kuat antarmereka dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, bermakna dan bermasa depan. Guru dan karyawan selalu disadarkan dan didukung pihak sekolah untuk terus mengembangkan diri demi siswa dan pendidikan. Siswa dididik dan dibimbing menjadi pribadi-pribadi yang utuh, bertumbuh dan mandiri. Sedangkan orangtua turut terlibat aktif dalam proses pendidikan anak-anak mereka. Orangtua ikut “belajar” bersama anak sebagai “guru” di rumah. 

Maka ketika proses ini dilakukan secara penuh semangat, konsisten dan kreatif, hasilnya adalah anak-anak yang berkepribadian baik, cerdas, terampil, mandiri dan berani menjalani masa depan. 

Sangat tepat sekali pemberian judul buku karya orangtua yakni Dua Sayap untuk Anak-anak Kita : Sekolah dan Keluarga (editor St. Kartono). Bahwa anak (ibarat burung) perlu dua sayap kuat untuk dapat terbang jauh dan mandiri. Penguat sayap itu adalah sekolah (melalui guru) dan keluarga (khususnya orangtua).

Dua buku lain menggambarkan perjuangan guru dan siswa dalam proses mengajar dan belajar. Buku itu adalah Dari Pamplona Membonceng Vespa – Walking with De Britto (editor St. Kartono) dan Dari Cilincing ke Kampung 1001 Malam – Transformasi Orang-orang Muda De Britto (editor Antonita Ardian Nugraheni dan Maria Septiana Fika Karlina).

Buku karya guru-karyawan dibagi empat bab yakni Memulai perjalanan panjang, Berjalan bersama jiwa-jiwa muda, Membekali diri, dan Menemukan serpihan mutiara.  Buku karya siswa dibagi tiga bagian yakni Lintasan 1 : Berjalan bersama Tuhan, Lintasan 2 : Mencecap realitas, dan Lintasan 3 : Vacation with the lord

Ketiga buku karya guru-karyawan, siswa dan orangtua itu diberi pengantar bertajuk Memaknai Perjalanan dan Menghidupinya dengan Tindakan oleh Rektor Sekolah Cyprianus Kuntoro Adi, SJ.  Ketiga buku itu menggambarkan adanya proses karya dalam pendampingan bersama para pihak dan Tuhan, kesadaran dan perubahan diri, serta kebaikan keadaan dan kebaikan bersama. 

Membaca empat buku karya warga SMA Kolese De Britto Yogyakarta ini menyadarkan kita pentingnya bersyukur atas penyelenggaraan Sang Pencipta dalam kehidupan bersama. Tidak melupakan sejarah, jasa para pendiri sekolah, guru-karyawan, orangtua dan para pihak yang mendukung pengembangan siswa didik, anak-anak bangsa. Buku-buku ini enak dibaca serta memberikan gizi rohani, hati-nurani dan semangat hidup. (Y.B. Margantoro, Wartawan bernasnews dan Pegiat Literasi)