MPM ke-34 Alumni de Britto : Kebangsaan Jadi Tanggungjawab Bersama

Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X (tengah) bersama sebagian narasumber MPM ke-34, co-host, dan Rektor SMA Kolese De Brittio RP Cyprianus Kuntoro Adi, SJ (kiri) di Limitlesss Café Yogyakarta, Minggu (20/8/2023). (Foto : Y.B.Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Kebangsaan menjadi tanggungjawab bersama, apapun bidang yang kita geluti. Sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang besar dan luar biasa ini, kita semua diundang untuk terus memastikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap tegak berdiri.

Nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu seperti gotong royong perlu kita hidupi terus sampai kapanpun, sekarang sampai masa depan yang akan datang. Kemajuan pengetahuan dan teknologi tidak boleh menghilangkan jati diri kita sebagai bangsa yang bergotong royong.

Demikian benang merah yang dapat dipetik dari acara Manuk Padha Muni (MPM) ke-34 Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta bertajuk Cakrawala Kebangsaan di Limitless Café Yogyakarta dan melalui daring, Minggu (20/8/2023) pukul 19.30 -22.30 WIB.

Tampil berbicara pada kesempatan ini, Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, Dr. J. Kristiadi (JB 69, DKPP), Mayjen TNI Dr G Henu Basworo (JB 83, Dosen Unhan), Brigjen TNI Tagar Pujasambada (JB 84, Kapus Psikologi BIN), Brigjen Pol DR Dr. Lilik Widodo, SpBSK (JB 84, dokter pribadi Wapres RI)., RD Kolonel Yos Bintoro, Pr. (SM 87, Wakil Uskup TNI/Polri), dan Ir Gunawan Wibisono (JB 86, Founder Sumber Inti Pangan Corporation). Sebagai host Mayong Suryo Laksono (JB 80, Dewas LKBN Antara) dan co-host AA Kunto A (JB 96), dan MC Haryo Bimo Utomo (JB 00).   

MPM itu unik

Kepala SMA Kolese De Britto F.X. Catur Supatmono, M.Pd. kepada bernasnews mengatakan, acara MPM yang digagas dan dilaksanakan alumni De Britto ini adalah acara yang unik, menarik dan dikemas dengan cara yang berbeda.

“Harapan saya, semoga MPM dapat menjadi sarana bagi kita bersama untuk berbagi terang kepada masyarakat luas dengan mengangkat tema-tema yang dapat berdampak positif bagi kemajuan dan pertumbuhan bangsa dan Negara.

Semoga pula, MPM mampu membangun kesadaran kritis kita semua sebagai bangsa yang besar, beragam dan kaya dengan nilai-nilai luhur serta hal-hal yang baik,” kata Catur.  

Tantangan selalu ada

Sastrawan Y. Rusyanto Landung Simatupang yang hadir dalam diskusi MPM kepada bernasnews mengemukakan, Indonesia tidak sedang baik-baik saja, tapi tak apa. Sampai kapan pun, tantangan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan selalu ada, tak akan pernah rampung.

Menurut dia, pelaksanaan demokrasi melalui pemilihan umum ditantang oleh kecenderungan senjang dan kurangnya tingkat pemahaman, kesadaran, dan kritisisme warga masyarakat di berbagai wilayah negeri ini tentang politik dan trik-trik politik praktis. 

“Ini membuka peluang bagi manipulasi opini publik oleh para vested interest dalam atau melalui parpol, demi perolehan suara. Pada saatnya, dukungan formal dari publik itu tidak selalu sungguh-sungguh bermuara pada pelaksanaan aspirasi dan pemenuhan kebutuhan segenap rakyat. Motto vox populi vox dei menjadi ironis,” kata alumnus SMA Kolese De Britto Yogyakarta kelahiran 25 November 1951 ni. 

Aktor film, teater dan sutradara teater ini mengatakan, Integritas parpol selaku institusi, politisi, dan warganegara sebagai pemegang hak pilih dipertaruhkan. Dalam hal ini pendidikan karakter lewat lembaga pendidikan formal dan nonformal semestinya mendapatkan perhatian jauh lebih besar.

Masalah lain yang mencolok, menurut Landung Simatupang, ialah ketahanan pangan, terutama terkait dengan ketergantungan Indonesia terhadap negara-negara lain dalam pasokan bahan pangan. Penganekaragaman bahan pangan pokok yang bertumpu pada hasil bumi dari jenis tanaman pangan yang tumbuh di berbagai wilayah kepulauan Indonesia sangat perlu digalakkan.       

Dari era ke era sejak berabad silam, bangsa-bangsa praindonesia dan Bangsa Indonesia membentuk budaya mereka melalui dialog dengan warisan nenek moyang dan dengan apa yang datang dari luar.

“Orang Indonesia sekarang, dan generasi-generasi mendatang, adalah pewaris keputusan para pendahulu – para leluhur, para bapa bangsa. Keputusan atau pilihan untuk menjadi Indonesia. Di situ tersirat kesanggupan untuk saling belajar dan saling isi antaretnik dalam semangat ‘duduk sama rendah, berdiri sama tinggi’. Demi cita-cita bersama. Kedua dialog itu penting dilakukan dan dikembangkan terus-menerus, dan dengan kritis. Keduanya bisa saling mengisi, saling mengoreksi,” kata alumnus Jurusan Inggris Fakultas Sastra UGM ini.

Menurut Landung, Dana Abadi Kebudayaan guna pemajuan kebudayaan seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan diharap dapat membantu menopang pengejawantahan dialog-dialog itu dalam berbagai bentuk ekspresinya di seantero Nusantara yang bineka ini. (mar)