bernasnews – SMA Kolese De Britto Yogyakarta berkomitmen mendukung keberhasilan pendidikan dan Indonesia Emas tahun 2045 dengan terus berkolaborasi dengan banyak pihak, berkontribusi kepada bangsa dan Negara, serta terus meningkatkan prestasi akademik.
“Pondasi yang ditanamkan sekolah melalui pendidikan dan pengajaran para guru kepada siswa didik cukup kuat untuk menyongsong bersama Indonesia lebih baik. Sesuai dengan tema Lustrum XV sekolah yakni Fiat Lux : Jadilah Terang, kami segenap warga sekolah dan alumni harus menjadi terang bagi sesama. Kami sungguh merasakan campur tangan Tuhan dalam penyelenggaraan sekolah sejak awal berdiri, sampai kini, dan mendatang,” kata Kepala SMA Kolese De Britto Yogyakarta F.X. Catur Supatmono, M.Pd. kepada bernasnews yang menemui di ruang kerja, Rabu (16/8/2023).
Tiga agenda utama dilaksanakan mengisi Lustrum XV sekolah yakni Bakti Sosial, Jumat (18/8) pukul 09.00 – 13.00 WIB dengan pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah dan pembagian sembako. Kemudian Misa Akbar pada Sabtu (19/8) pukul 09.00 WIB dengan selebran Rm YR Edy Purwanto, Pr., konselebran Rm. Benediktus Hari Juliawan, SJ., Rm. FX Alip Suwito, Pr., dan para imam alumni dan imam yang pernah berkarya di SMA Kolese De Britto. Puncak acara Sabtu (19/8) pukul 16.00 – 23.00 WIB dengan Gelar Budaya bersama Nidji, Guyon Waton, Anas Glasean, Langit Sore, tari kolosal JB, tari gedruk dan tari topeng.
Tidak dapat berdiri sendiri
FX Catur Supatmono mengatakan, keberadaan sekolah saat ini disadari tidak dapat berdiri sendiri dalam melaksanakan pengabdian di bidang pendidikan. Untuk itu, harus ada upaya bekerjasama atau berkolaborasi dengan banyak pihak. Dalam hal ini, peranan alumni sangat besar sebagai jembatan atau penghubung kolaborasi itu.
Selain alumni, peranan orangtua siswa yang mendukung keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah juga besar. Ada pengalaman tidak terlupakan justru ketika keadaan sangat tidak mendukung yakni pandemi Covid 19. Pada waktu itu, meski ada 38 siswa yang terpapar covid, namun proses belajar mengajar tetap dilaksanakan.
“Ada tiga kegiatan utama yang kami lakukan saat itu yakni siswa yang sakit harus istirahat di rumah, yang sehat melaksanakan pembelajaran di sekolah, sedangkan yang sehat tapi tidak yakin boleh belajar di rumah. Pola pembelajaran kami tatap muka di sekolah dengan protokol kesehatan dan juga melalui daring bagi yang di rumah atau shelter.
Di sinilah peranan Tim Solid orangtua sebanyak 20-an orang yang sigap melayani para siswa yang sakit dengan mengurusi makan minum sehari-hari mereka. Siswa sakit kami masukkan ke grup WA yang ada tiga dokter alumnus dan siap memantau kondisi si sakit. Obat kami kirim dari apotek yang kebetulan juga dikelola oleh alumnus. Alat kesehatan seperti Pulse Oximeter, pengecek suhu badan kami berikan.
Siswa tetap antusias belajar. Sekitar 80 persen yang masuk. Maka kalau sekolah tutup, kasihan bagi 80 persen siswa yang ingin tetap sekolah. Pandemi Covid 19 itu menjadi bencana dan sekaligus berkah bagi kami. Bahwa kami dapat belajar dengan cara dan teknologi baru. Namun yang lebih bermakna adalah kebersamaan dan dukungan dari orangtua, alumnus dan para pihak demi kelancaran proses belajar siswa. Kami juga dapat menemukan potensi baru para siswa dalam keterbatasan kondisi itu. Ini seperti cermin bagi kita sendiri,” kata dia.
Catur Supatmono mengatakan, ada 851 orang siswa sedang belajar di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Mereka dilayani oleh 62 guru dan 30-an tenaga kependidikan. Selain mendapat pendidikan berkualitas di sekolah, para siwa juga terus diupayakan memiliki wawasan dan perspektif baru antara lain sering diajak bertemu dengan banyak orang dan pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Saat ini, ada 12 siswa dan seorang guru belajar tentang AI di Taiwan. (mar)











