Diskusi di Perpustakaan STPN : Mereka yang Siap Berkompetisi adalah Pemenang

Para peserta dan narasumber diskusi UPA Perpustakaan STPN Yogyakarta, di ruang audio visual setempat, Selasa (18/7/2023). (Foto : Humas STPN)

bernasnews – Road to Diskusi Agraria UPA Perpustakaan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta bertajuk “Terjebak Dilema Taruna” dilaksanakan di kampus setempat, Selasa (18/7/2023). Diskusi ini dinilai sangat menarik oleh Kepala UPA Perpustakaan STPN Yoseph Nai Helly. Hal ini karena para Taruna menanyakan mengapa mereka sekolah di lembaga pendidikan ini, untuk apa mereka berada di sini dengan berbagai dinamikanya, dan bagaimana nasib mereka selanjutnya setelah menyelesaikan pendidikan mereka. 

Pembina UKT Karya Ilmiah dan Kelompok Belajar STPN  Dr. Sutaryono, S.Si., M.Si. mengatakan, profesi dan profesionalitas dibangun berdasarkan kompetensi. Kompetensi dibangun dari knowledge, skills dan attitude. Oleh karena itu, begitu pentingnya selalu menumbuhkembangkan knowledge dan skills di bidang  pertanahan dan tata ruang dengan membiasakan sikap dan  perilaku yang baik.

Dosen STPN Muh. Arif Suhattanto, S.T., M.Sc. mengutip Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim mengemukakan, kita berada di zaman dimana gelar tidak menjamin kompetensi, dan kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya.  Kelulusan bukan menjadi target utama namun mengasah kemampuan selama pendidikan merupakan suatu keharusan. Zaman sudah berubah, kita tidak dapat menggunakan cara-cara lama untuk dapat menjadi sukses. Mereka yang paling siap untuk berkompetisi adalah yang akan menjadi pemenangnya.  

“Kemana lulusan STPN akan bekerja? Banyak pilihan yang bisa dipilih namun kadang ketidakpekaan akan perubahan zaman membuat pandangan kita menjadi sempit. Profesi yang berhubungan dengan pertanahan sungguh luas, tinggal passion dan kemampuan kita memvisualisasikan masa depan kita yang menentukan menjadi apa kita nanti,” katanya.

Narasumber berikutnya, Dosen STPN Ir. Eko Budi Wahyono, M.Si. menambahkan, lulusan STPN  memiliki peluang karier di masa depan sebagai surveyor kadaster berlisensi. Surveyor kadaster berarti surveyor yang memiliki keterampilan, pengetahuan dan keahlian tentang pengukuran dan pemetaan, menguasai teknologi informasi, mengetahui dan memahami hukum terkait properti /pertanahan/agraria serta menguasai administrasi pertanahan. 

“Untuk itu, surveyor berlisensi memiliki tugas untuk: Membantu administrasi pertanahan desa/kelurahan, Membantu Pelayanan Pertanahan di tingkat desa/kelurahan, Monitoring pembayaran pajak bumi bangunan, Membantu pelaksanaan program strategis pemerintah di bidang kesehatan, sosial dan ekonomi terkait dengan informasi pada setiap bidang tanah, Membantu menyusun basis data pertanahan di desa untuk tata ruang,” kata dia. 

Diskusi yang dihadiri oleh peserta Taruna dan narasumber berjumlah 64 orang ini berjalan lancar dan  ditutup dengan pembacaan puisi berjudul “Keraguan” karya Yoseph Nai Helly. (*/mar)