Bisnis Selonsong Ketupat, Kekinian Juga Ada Di Marketplace

Suasana penjualan selongsong ketupat lebaran, di Pasar Ngasem, Yogyakarta, Rabu (19/4/2023). Foto: Tedy Kartyadi/ bernasnewa.

bernasnews — Kupat (ketupat) disanteni, menawi lepat nyuwun pangampunen, itulah ungkapan bahasa Jawa yang bermakna sebuah permohonan maaf atas kesalahan. Sebaris pantun tersebut sering diucapkan oleh seseorang saat lebaran Idul Fitri.

Ketupat merupakan kuliner khas Indonesia sebab di manapun wilayah ada makanan nasi yang dikemas dalam wadah anyaman daun kelapa muda (Janur). Disajikan bersama lauk opor ayam dan sambel kerecek merupakan hidangan yang bisa disebut wajib ketika hari lebaran.

Ketupat yang konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga, masa kerajaan Islam Demak. Bagi masyarakat Jawa khususnya mempunyai makna filosofi tinggi. Ketupat atau juga disebut Kupat bermakna, Ngaku Lepat atau mengakui kesalahan.

Sementara bahan membuat ketupat adalah janur (daun kelapa) bermakna Jatining Nur (Cahaya Sejati), bahwa kehidupan ini adalah bertujuan mencapai Cahaya Sejati yang bersumber pada Illahi.

Janur dalam kajian sejarah perjuangan pun pernah punya andil, sebagai penanda para gerilya yang akan menyerbu Belanda di Kota Yogyakarta, yang dikenal dengan Serangan Oemoem, 1 Maret 1949, yang kemudian tanggal 1 Maret diperingati sebagai peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara.

Warga Sedayu, Bantul pedagang musiman selongsong ketupat, di Pasar Ngasem, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ bernasnews)

Jelang lebaran, banyak pedagang musiman selongsong ketupat yang mencoba keberuntungan mencari rezeki menjual dagangan di pasar-pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Seperti yang dilakukan Ngatini bersama teman-temannya warga Sedayu, Bantul berjualan ketupat, di Pasar Ngasem, Kraton, Yogyakarta, Rabu (19/4/2023).

“Kami berlima dari Sedayu Bantul, berharap lebaran tahun ini setelah pandemi yang beli selongsong ketupat banyak. Perikat yang berisi 10 biji selongsong ketupat ini harga cukup murah Rp 10.000 saja,” katanya.

Dalam kemudahan teknologi digital apabila kita simak, ternyata selongsong ketupat juga banyak ditawarkan oleh berbagai akun marketplace. Harganya bisa tiga kali lipatnya dengan harga yang dijual oleh para pedagang di pasar – pasar tradisional semacam Pasar Ngasem, Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, dan sebagainya. (ted)