bernasnews – Sukun (Artocarpus altilis) merupakan buah yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia dan sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi produk-produk makanan kekinian. Hal ini karena kandungan gizi yang ada di dalamnya sangat baik dan ketika musim panen datang maka buah sukun yang juga disebut timbul, kulur oleh orang Sunda ini akan melimpah.
Namun, sungguh sangat disayangkan masyarakat belum bisa mengolahnya secara maksimal. Umumnya sukun diolah dengan cara dikukus atau digoreng saja. Sementara dalam proses memanen pun banyak sukun yang rusak dan terbuang lantaran tidak diolah atau dipanen dengan cara yang tidak benar.
Sukun ditangan seorang Nur Ayunda Rohmah mahasiswa program studi Pendidikan Tata Boga Fakultas Teknik Univesitas Negeri Yogyakarta (UNY) dapat disulap menjadi kuliner kekinian. Warga Trimulyo Sleman yang akrab disapa Yunda mengolahnya menjadi cake cendol sukun pandan yang lezat yang disebut Cesupa Cake.
Cesupa Cake merupakan produk cake yang terbuat dari tepung sukun. Cake ini berbentuk slice cake persegi dengan ukuran 5×5 cm dan tinggi sekitar 6 cm. Produk ini terdiri dari dua lapis sponge dari tepung sukun rasa pandan yang dilapisi dengan krim rasa santan gula merah.
Pada bagian atas cake, diberi lapisan berupa puding cendol nangka dengan rasa santan yang gurih. Garnish yang digunakan pada produk ini adalah hiasan bertekstur bulat-bulat kecil yang terbuat dari coklat berwarna hijau sehingga mirip kulit sukun.
“Hiasan ini mencerminkan bahwa produk Cesupa Cake merupakan substitusi tepung sukun. Produk Cesupa Cake bertekstur lembut dan bercitarasa manis gurih khas cendol. Produk ini memiliki warna seperti cendol yaitu kombinasi warna hijau, putih, dan cokelat,” terang dia.
Lanjut Yunda menambahkan, Cesupa Cake memiliki aroma pandan dan santan yang khas seperti minuman cendol. Produk Cesupa Cake dikemas dengan kemasan mika bertali agar aman dan mudah untuk dibawa.
Berikut cara membuatnya, pertama-tama mengolah sukun tersebut lebih dahulu sehingga menjadi tepung. Tepung sukun memiliki tekstur yang mirip dengan terigu sehingga membuat tepung ini cocok untuk bahan substitusi tepung terigu. Tepung sukun juga mengandung karbohidrat dan serat yang tinggi sehingga dapat menambah nilai gizi produk makanan.
“Selain itu belum banyak penggunaan tepung sukun sebagai olahan makanan sehingga peluang usaha terbuka lebar, sekaligus meningkatkan nilai jual sukun,” ujar Yulanda.
Dikatakan, bahan yang dibutuhkan adalah tepung sukun, tepung terigu, telur ayam, tepung maizena, gula pasir, margarin, baking powder, susu cair, essence pandan, SP, butter, cooking cream, gula Jawa, santan, nangka, cendol dan daun pandan. Alat yang diperlukan loyang, oven, mixer dan pengaduk.
Cara membuat pandan sukun cake, pertama kocok telur, gula pasir, dan SP sampai mengembang, berwarna putih, dan berjejak. Tambahkan margarin yang sudah dilelehkan dan essen pandan, aduk rata kemudian masukkan tepung terigu, tepung sukun, dan tepung maizena, aduk dengan teknik lipat agar adonan dapat tercampur rata.
Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah diolesi margarin dan dilapisi dengan kertas roti lalu panggang dengan suhu 180 derajat Celcius selama ±35 menit sampai matang. Jika sudah matang, potong cake dengan ring cutter ukuran 5 cm. Lapisi cake dengan krim rasa santan dan gula Jawa. Kemudian tutup dengan lapisan cake yang kedua, lalu tuangkan agar-agar rasa santan dengan cendol dan potongan nangka di dalamnya. Biarkan agar-agar mengeras dan Cesupa Cake siap disajikan.
Sementara untuk membuat krim pandan dan gula merah, campurkan gula jawa dengan santan dan daun pandan, masak hingga gula jawa larut. Dinginkan campuran sampai bersuhu ±2 derajat Celsius lalu campurkan larutan gula Jawa dan whipping cream bubuk. Kocok sampai kaku. Whipping cream santan dan gula jawa siap untuk digunakan.
Puding cendol digunakan sebagai topping di Cesupa Cake ini. Cara membuatnya, campurkan agar-agar, gula, dan air. Masak hingga mendidih. Tambahkan potongan nangka dan cendol. Puding cendol siap dituangkan di atas Cesupa Cake.
Karya ini dibuat sebagai salah satu materi Pameran Produk Boga Samboga Atyasa yang digelar program studi Pendidikan Tata Boga UNY. Menurut Ketua Program Studi Pendidikan Tata Boga Dr. Badraningsih Lastariwati, bahwa pameran ini merupakan tahapan desiminasi dari riset dan pengembangan inovasi produk boga.
“Semua yang dipamerkan merupakan produk unggul yang memiliki nilai kenikmatan yang tinggi dan memiliki kemanfaatan untuk masyarakat. Salah satunya, manfaat penyajian makanan sehat,” papar Badraningsih. (*/ ted)












