bernasnews — Zaman dahulu leluhur kita senantiasa menanamkan nilai budi pekerti secara baik dan mesti harus dipraktikan dalam hidup dan kehidupan sehari- hari baik di lingkungan keluarga, maupun di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Contoh sederhana takkala kita jalan kaki mau melewati jalan atau gang, ada orang yang sedang duduk dipinggir jalan atzu gang tersebut, tentu kita membungkuk sambil bilang nyuwun sewu (permisi, red).
Pada saat kita di sekolah umum, kala sekolah dasar atau sekolah menengah pertama, ketika melihat Bapak atau Ibu guru datang naik sepeda, tentu kita berebut untuk membawakan sepeda atau tas yang dibawa oleh Bapak Ibu guru tersebut. Budaya yang demikian itu merupakan nilai- nilai kepekaan, nilai-nilai budi pekerti yang diajarkan oleh orang tua masing- masing anak dan harus dipratikkan dalam kesehariannya.
Belum lagi nilai- nilai berbagi pada teman atau orang lain yang membutuhkan juga diajarkan oleh para orang tua zaman dahulu. Namun saat ini nilai budi pekerti, nilai kepekaan tampaknya menjadi sesuatu yang tidak mudah didapat, kalaupun ada tentu menjadi yang nilai yang mahal harganya. Sebagai contoh, hari Sabtu pagi (7/1/2023) lalu penulis bertiga bersama sahabat lansia, Bede, Iim dan Windu naik KRL dari Stasiun Tugu Jogja, pukul 08:00 WIB menuju Stasiun Purwosari Solo untuk membezuk orang sakit.
Begitu kereta datang, ratusan calon penumpang yang sudah menunggu KRL langsung berebut masuk, dan akhirnya semua masuk. Di dalam KRL penuh sesak bahkan banyak yang berdiri. Termasuk di dalam gerbong yang kami tumpangi juga penuh dengan penumpang yang berdiri. Di sisi depan tampak ada beberapa menumpang kategori lansia tetap berdiri.
Sementara disamping kaca kereta ada tulisan berupa imbauan yang cukup jelas ‘Prioritaskan tempat duduk bagi penumpang lansia, ibu hamil, penumpan difabel’. Meskipun demikian, senyatanya masih ada penumpang yang relatif belum lansia (masih muda) belum rela atau belum peka untuk bersedia melepaskan atau memberikan tempat duduknya bagi orang lain yang lebih membutuhkan.
Kejadian ini penulis alami kembali saat kami bertiga pulang sekitar pukul 14:36 WIB, naik KRL dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Tugu yang juga penuh sesak. Banyak penumpang yang berdiri termasuk kami bertiga. Lagi- lagi kejadian yang serupa penulis alami bertiga, yang tergolong sudah lansia harus berdiri sepanjang perjalanan. Sementara di depan kami banyak penumpang yang relatif masih muda tetap saja tidak peka dan belum mau melepaskan tempat duduknya pada orang yang lebih tua. Mungkin mereka penumpang yang relatif muda itu berfikir, sama- sama membayar tentu haknya untuk mendapatkan tempat duduk pun sama.
Begitulah yang penulis alami dan saksikan, bahwa nilai budi pekerti, nilai kepekaan menjadi nilai yang langka dan mesti harus terus menerus dihidupkan lagi dalam proses pendidikan di sekolah, di masyarakat, di dalam dalam lingkungan keluarga dan dimanapun. Juga ada baiknya tulisan imbauan yang ditempel di kaca samping kanan kiri dan kanan KRL, diumumkan atau disampaikan melalui speaker yang ada di setiap gerbong, supaya para penumpang KRL memahami makna tulisan itu, sekaligus sebagai pendidikan karakter yang lebih baik. Semoga. (Z. Bambang Darmadi)












