Pentingnya Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah dan Luar Sekolah 

Penerapan pendidikan budi pekerti dengan budaya “5 S” di SMP Negeri 3 Mlati, Sleman, DIY. Foto : Humas SMP N 3 Mlati, Sleman, DIY

bernasnews – Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah yang memiliki julukan “Kota Pelajar”. Sejumlah universitas ternama hingga kelas dunia terdapat di Kabupaten Sleman. Di kabupaten ini juga terdapat banyak sekolah dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), salah satunya ialah SMP Negeri 3 Mlati. 

SMP Negeri 3 Mlati adalah salah satu satuan pendidikan dengan jenjang SMP di Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, DIY. Dalam menjalankan kegiatannya, SMP Negeri 3 Mlati berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek.  

Faktor utama dan penting dalam kehidupan setiap individu adalah pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Budi pekerti merupakan hal yang paling perlu dilaksanakan di sekolah.

Tujuan dari budi pekerti di lingkungan sekolah ataupun di luar lingkungan sekolah ialah untuk  menerapkan dan mengembangkan semua perilaku, nilai, dan tentu juga sikap individu dalam menjalankan perilaku yang baik dan mulia serta budi pekerti yang luhur. Selain itu, budi pekerti juga membentuk moral yang baik pada setiap individu, untuk memiliki kepribadian yang bagus, dapat menghormati semua masyarakat di lingkungan sekolah, tidak egois, punya nilai religius, dan tidak merasa paling benar sendiri, dan mempunyai tanggung jawab sebagai seorang pelajar yang baik. 

Banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari penerapan budi pekerti mulai dari hal kecil hingga ke hal besar. Contohnya : (1) Meningkatkan mutu seorang individu dengan penanaman nilai moral yang baik sehingga menciptakan individu yang unggul; (2) Sebagai dasar pedoman agar individu lebih mengutamakan unggah-ungguh, karena kita tahu unggah-ungguh yang mulai luntur di era masa kini; (3) Meningkatkan  nilai religius bagi setiap individu agar tidak mengabaikan yang menjadi kewajibannya dan  lebih taat kepada sang pencipta.

Saat ini, sebagian nilai budi pekerti sudah terpengaruh oleh hal-hal yang sifatnya negatif sehingga mengarah pada penyimpangan perilaku dan budi pekerti yang kurang baik. Melihat penyimpangan perilaku dan budi pekerti yang tidak baik dan menghadapi kecenderungan di masa depan, maka SMP Negeri 3 Mlati, Sleman, Yogyakarta selalu mengajarkan nilai-nilai budi pekerti dari hal kecil ke hal yang besar.  

Penerapan budi pekerti    

Langkah-langkah untuk menumbuhkan sikap budi pekerti yang baik di lingkungan SMP Negeri 3 Mlati ada berbagai cara, antara lain budaya “5 S” dan kegiatan keagamaan. Budaya “5 S” adalah tindakan yang membiasakan diri agar selalu senyum, salam, sapa, sopan dan santun saat berinteraksi dengan orang lain. 

Sering kita dengar bahwa senyum merupakan ibadah. Hal itu mungkin benar, karena saat kita tersenyum berarti kita dalam keadaan bahagia. Maka secara tidak langsung kita sudah menyebarkan kebahagian dan aura positif kepada orang lain.

Salam adalah pernyataan hormat, selamat, sejahtera, damai, tentram. Salam yang kita lakukan dengan penuh ketulusan, maka akan mampu mencairkan suasana kaku yang ada di sekitar kita. Salam dalam hal ini bukan hanya berarti berjabat tangan saja, namun seperti mengucapkan salam menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Sapa secara sederhana memiliki makna kata-kata untuk menegur. Maka, tegur sapa yang dilakukan dengan ramah yang kita ucapkan, membuat suasana menjadi akrab dan hangat. Saat kita menayapa seseorang, maka berarti kita menunjukkan perhatian, respon, dan simpati kita terhadap orang itu. Sehingga akan muncul rasa dihargai bagi orang yang sedang kita sapa. Hal itu, akan menjadikan kepercayaan diri orang yang kita sapa tadi semakin meningkat.

Sopan adalah rasa hormat, takzim, dan tertib menurut adab yang kita lakukan kepada orang lain. Sopan yang bisa kita lakukan adalah rasa hormat kita baik saat bicara, berjalan di depan orang yang lebih tua, atau bahkan saat kita berinteraksi dengan orang lain. Bukan hanya itu saja, sopan dalam berpakaian juga merupakan hal yang penting. Hal itu akan menumbuhkan rasa saling menghormati satu sama lain. Seseorang yang berkarakter dan memiliki etika adalah seseorang yang mampu berlaku sopan baik ucapan maupun perbuatan dimanapun dan kapanpun.

Santun dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia memiliki pengertian sangat sopan, lemah lembut berbudi bahasa, penuh rasa belas kasihan, suka menolong, berakhlak mulia. Selain itu, santun juga memiliki makna tentang bagaimana kita mampu mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Kemudian kegiatan keagamaan di SMP Negeri 3 Mlati bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap agama sehingga mampu mengembangkan dirinya sejalan dengan norma-norma agama dan mampu mengamalkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Menumbuhkembangkan akhlak Islami yang menggabungkan hubungan dengan Allah, Rasul, manusia, alam semesta bahkan diri sendiri. 

Di SMP Negeri 3 Mlati, kegiatan keagamaan dilaksanakan tiga kali dalam seminggu dengan waktu 15 menit setiap pelaksaannya. Bagi yang beragama Islam akan membaca Al-Qur’an dengan guru pengampu di jam pertama setiap kelasnya. Sedangkan untuk agama lain, dilaksanakan di ruang perpustakaan dan dibimbing oleh guru yang sesuai dengan bidangnya. (Aprilia Miftahurrohmah, S.Pd., guru di SMP Negeri 3 Mlati, Sleman, Yogyakarta)