bernasnews — Dengan menjadi pustakawan sekolah banyak menemukan karakter yang berbeda-beda di dalam diri para pemustaka. Ada yang ramah, mengasyikkan, cerewet, ngeyel, dan ada juga yang seenaknya saja dalam memakai fasilitas perpustakaan.
“Namun hal itu bagi saya adalah tantangan tersendiri. Dengan begitu, pustakawan dituntut dapat bersikap baik kepada siapa saja dalam menghadapi pemustaka yang berbeda-beda karakter tersebut. Harapannya, pemustaka tetap merasa nyaman di perpustakaan.
Selain hal tersebut, banyak sekali ilmu yang saya dapat menjadi seorang pustakawan. Di antaranya adalah kita bertambah wawasan dalam menjalin kerja sama baik secara intern ataupun ekstern,” kata Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) Kota Yogyakarta Nur Arofah, SIP dalam perbincangan dengan pegiat literasi Y.B. Margantoro di kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta, Jalan Hayam Wuruk 11, Rabu (5/10/2022).
Pustakawan SMP N 5 Yogyakarta ini berharap, kerja sama antara pustakawan dan warga sekolah dapat terjalin dengan baik. Terutama kerja sama antara guru dan kepala sekolah. Sehingga program kerja yang dirancang perpustakaan dapat terealisasi dengan baik. Dengan demikian program literasi dapat terwujud.
Hadir dalam acara diskusi ringan ini beberapa pengurus lain yakni, Hanifa Kasih, S.Sos. (SMK N 1 Yogyakarta), Dewi Istiqomah, S.E. (SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta), Mega Istiqomah, S.I.P. (SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta), dan Heni Astuti, S.I.Pust. (SMP N 16 Yogyakarta).
Obrolan siswi terkini
Menjadi pustakawan di sekolah menengah yang menyenangkan, juga dirasakan Hanifah Kasih, S.Sos. Tiap hari dia berinteraksi dengan siswa-siswa yang memiliki polah tingkah tak terduga. Terkadang dapat sangat lucu, tapi terkadang dapat membuat kesal jika terkait pengembalian buku.
Mengenai pengetahuan literasi siswa, lanjutnya, ada perkembangan yang signifikan. Pencarian sumber bacaan sekarang lebih beragam. Dahulu lebih dominan buku kolekasi fiksi atau novel-novel populer, namun belakangan ini pemintaan buku lebih variatif seperti sejarah pergerakan politik. Obrolan-obrolan yang terjadi di ruang perpustakaan juga sangat hidup dengan berbagai isu terkini dalam perspektif remaja.
“Melihat perkembangan minat baca dan kunjung oleh siswa, harapannya dapat terbangun ruang diskusi di perpustakaan. Memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengaktualisasi apa yang ada di pikiran merupakan salah satu fungsi literasi.
Selain itu, perpustakaan dapat menjadi wadah refreshing setelah lelah berkegiatan selama jam pelajaran. Perpustakaan adalah rekan yang komprehensif untuk seluruh warga sekolah,” kata Hanifah.
Menurut Dewi Istiqomah, S.E, selama ini pandangan masyarakat kepada seorang pustakawan adalah profesi yang kurang familiar bahkan dianggap asing. Banyak pula yang menganggap pustakawan hanyalah seorang penjaga perpustakaan.
“Tapi tidak dengan saya, meskipun beda linier karena lulusan ekonomi, secara kebetulan ditempatkan sebagai pustakawan. Karena dipandang mampu dalam bidang literasi yang saat itu menjadi kebutuhan sekolah, akhirnya profesi pustakawan menjadi hal yang menyenangkan. Tidak hanya berkutat dengan administrasi perpustakaan tetapi juga mempunyai amanah untuk meningkatkan daya baca peserta didik,” kata dia.
Menurut Dewi, program pengembangan kepustakaan tiap tahun dia sharingkan untuk mendapat persetujuan dari sekolah, beberapa program fokus kepada literasi. Tahun 2022 dia memulai dengan kelas literasi dari kelas 7, 8, dan 9. Awalnya, pelaksanaan bekerja sama dengan ibu bapak guru, tapi untuk tahun ini dia pegang sendiri sehingga berprofesi sebagai teacher librarian.
“Harapan ke depan, semoga sekolah memberi kemudahan dalam menempatkan jam kegiatan literasi pada kurikulum sekolah sehingga dapat meningkatkan indeks literasi siswa,” tambahnya.
Tidak terbayangkan
Mega Istiqomah, S.I.P mengatakan, sejak tahun 2017 bekerja di salah satu sekolah swasta di Kota Yogyakarta. Menjadi pustakawan sekolah tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bagaimana dan apa yang harus dia lakukan ketika melayani anak-anak usia remaja.
“Namun, setelah berjalan beberapa waktu, cukup mengasyikkan dan mulai enjoy dengan keadaan lingkungan sekolah. Menjadi pustakawan sekolah itu ternyata sangat mengasyikkan. Selain setiap hari kita dapat berinteraksi dengan anak-anak remaja. Dengan banyak cerita mereka, kita juga dapat menjadi teman untuk sharing hal-hal positif,” lanjutnya.
Heni Astuti, S.IPust mengatakan, pustakawan adalah profesi yang membanggakan. Dengan adanya pustakawan maka sebuah perpustakaan sekolah akan lebih hidup. Menjadi seorang pustakawan adalah hal yang menyenangkan karena banyak ilmu pengetahuan dari perpustakaan yang dapat dibagikan kepada pemustaka sekolah.
“Harapan untuk perpustakaan sekolah, lembaga ini menjadi sumber informasi untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah dan jadi tempat untuk pengembangan kreativitas siswa di sekolah. Dengan demikian, hal itu dapat untuk mengasah bakat siswa supaya dapat berkembang,” kata dia. (mar)












