Dokter Asdi Yudiono: Sehat itu Menyenangkan, Senang itu Menyehatkan

BERNASNEWS.COM – Sehat dan senang, siapa tidak suka? Sebaliknya, senang dan sehat, siapa tidak mau? Hampir semua orang akan merasa bersyukur bila dikaruniai sehat dan senang dalam hidup dan kehidupan mereka. Apalagi sekarang ini, saat Pandemi Covid 19 masih merebak di banyak belahan dunia, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Salah seorang yang berkomitmen, ikut merasakan dan siap membantu siapa saja untuk hidup sehat dan senang adalah dokter Asdi Yudiono (55). Menghargai hidup lebih bermakna, meringankan penderitaan, meningkatkan kualitas hidup bagi mereka yang sakit dan menambah persaudaraan, adalah motto dari dokter Penanggung Jawab Klinik Intan Yogyakarta ini.

“Karena dari situlah kita membuat kehidupan menjadi hidup, untuk diri saya dan sesama,” kata suami dari Yovita Sri Setyaningsih ketika ditemui bernasnews.com di ruang praktek dokternya di Klinik Intan, Jalan Masjid Nomor 3 Pakualaman Yogyakarta, Jumat (25/2/2022). 

Komitmen ayah lima putra putri–dokter Dimas Adhi Pradita, Rahajeng Ayu Anindita SE MBA, Raditya Dion Mahendra, Permata Dinda Diavisya dan Mutiara Karina Detrevie-ini tercermin dan tertulis di ruang tunggu pasien kliniknya.

Buku-buku yang menulis dan ditulis oleh dokter Asdi Yudiono. Dia memang suka membaca dan menulis, serta menghargai peranan media massa demi kehidupan lebih baik. (Foto : Y.B. Margantoro).

Bahwa untuk dapat “Menghargai Kehidupan  Menjadi Lebih Hidup dan Bermakna” maka pihaknya harus melakukan beberapa hal sebagai tata nilai Intan. Tata nilai itu adalah : inovatif, nyaman dan aman, terpercaya, adil, dan nilai harmonis.

“Semuanya itu merupakan perwujudan dari visi dan misi klinik kami. Visi kami adalah menjadi Klinik Pratama dengan layanan prima secara holistik berkualitas dan professional. Sedangkan misi kami memberikan pelayanan kesehatan prima dengan pemanfaatan informasi, mewujudkan masyarakat menuju Indonesia Sehat, menjadi sahabat dan mitra kesehatan, serta mewujudkan layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau,” kata dokter Asdi Yudiono yang mendirikan Klinik Intan sejak 27 tahun silam ini.

Media dan buku

Salah satu unsur dalam misi Klinik Intan yakni pemanfaatan informasi untuk pemberian pelayanan kesehatan prima menunjukkan bahwa lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun1992 ini memiliki kesadaran bermedia dan literasi yang baik.

Hal ini terbukti sejak berkarya di sebuah rumah sakit di Yogyakarta, dan kemudian memilih menekuni klinik pribadi yang dia dirikan, dokter Asdi cukup dekat dengan media massa, wartawan dan buku. Beberapa kali dia menulis di media harian untuk sosialisasi kesehatan masyarakat.

“Wartawan dan media massa itu memiliki tugas mulia dan strategis untuk membantu mewujudkan kehidupan lebih baik, antara lain di sektor kesehatan,” kata dia.

Dokter Asdi Yudiono dan isteri Yovita Sri Setyaningsih saat Syukuran Pernikahan putri sulung mereka, Rahajeng Ayu Anindita, S.E., M.B.A., dan Twinka Enstatito, B.Sc. di Melia Purosani Hotel, 23 Januari 2022. (Foto : Istimewa)

Beberapa buku koleksinya antara lain menulis tentang dirinya dan juga buku yang dia tulis bersama tim penulis. Buku-buku yang menulis dirinya antara lain : Berawal dari Cinta (2009), Perjumpaan yang Menginspirasi (2015), Asdi Yudiono 50 Tahun : Menghargai Hidup Lebih Bermakna (2017). Sedangkan buku yang dia tulis bersama tim : Less is More – Pendidikan Minim Aturan Sarat Tanggung Jawab (2015) dan Kampungku Bersih & Asri Sehat Warganya (2018)

Untuk buku Less is More adalah sebagian kado dr Asdi Yudiono kepada almamater bersama teman-teman lulusan tahun 1986 SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Di buku antologi esai setebal 384 halaman tersebut, penyuka traveling dan bakmi ini menulis artikel bertajuk Perjumpaan yang Berbuah Suatu Kesan Berbeda dan Penuh Makna

Sedangkan untuk buku Kampungku Bersih & Asri Sehat Warganya dia tulis sebagai Ketua Kelurahan Siaga (Kesi) Purwokinanti, Pakualaman, Yogyakarta. Menurut dokter yang mengawali pengabdian di Puskesmas Tempel, Sleman, Yogyakarta tahun 1994-1995 ini, keberadaan Kesi merupakan sebuah gerakan masyarakat yang peduli kesehatan, lingkungan hidup, perilaku hidup sehat, perkembangan generasi penerus sampai dengan lanjut usia, kegawatdarutan dan tanggap bencana secara mandiri. “Jangan lupa bahagia dan sehat ya, Pak,” kata dokter Asdi Yudiono mengakhiri bincang-bincang singkat pagi tadi. (mar)