Opini  

Perlukah Edupreneurship di Lembaga Pendidikan?

BERNASNEWS.COM — Manusia terlahir bagaikan selembar kertas putih, goresan warna, gambar dan apapun itu adalah hasil proses pembelajaran baik yang diperoleh di dalam keluarga, sekolah, teman bergaul dan lingkungan sekitarnya.

Mau jadi apa mereka setelah lulus? Itulah tugas kita sebagai seorang pendidik yang berlabel guru harus mengarahkan, membimbing dan memotivasi mereka menggapai masa depannya.  Siapkan masa depan mereka dengan memberikan pengalaman terbaik dalam pembelajaran.  Apa yang paling penting yang harus disiapkan? Jawabannya adalah SDM (GURU). 

Berat sekali tugas dan tanggungjawab guru dipertaruhkan bukan hanya demi bangsa dan negara tetapi bertanggungjawab terhadap sang khaliq yang maha kuasa.  Kuasailah empat kompetensi guru. Jadilah guru pembelajar, kurangilah mengeluh, senyumlah selalu apapun kodisi yang dihadapi.

Lulusan SMK bisa memilih untuk bekerja, Melanjutkan atau wirausaha. Untuk mengakomodasi cita-cita mereka institusi pendidikan harus memfasilitasi seluruh peserta didik untuk meraih sesuai cita-citanya, bila tidak kedholiman telah dilakukan pada instansi tersebut. 

Apa hubungannya dengan edupreneurship? 

Bagi peserta didik yang mempunyai keinginan bekerja atau berwirausaha mereka harus berlatih dan memiliki daya juang dan kerja keras dalam mewujudkan mimpinya.  Jiwa wirausaha, kesiapan kerja dan budaya kerja yang mendarah daging dan melekat dalam jiwanya diasah dalam wadah pembelajaran melalui Teaching Factory, Business Center dan Unit Produksi.  Adakah TEFA, BC ataupun UP di setiap SMK sebagai ajang pembelajaran? bila tidak ada, walaupun ada tidak dioptimalkan untuk pembelajaran adalah dosa besar bagi sebuah lembaga yang bernama SMK.

Untuk menumbuhkan TEFA, BC dan UP terlahir dari teacherpreneurship yaitu guru-guru yang mempunyai jiwa wirausaha, pekerja keras, pantang menyerah, disiplin dan berwawasan global melihat peluang dan cakap dalam membentuk networking dengan instansi, lembaga maupun masyarakat sekitar sekolah.

Guru-Guru yang mempunyai jiwa teacherpreneurship terlahir dari kepala sekolah yang berwawasan edupreneurship,seperti rantai yang saling berhubungan. Kepala sekolah SMK harus memiliki kompetensi kewirausahaan untuk mengembangkan edupreneursip. Tantangan besar sebagai pemimpin SMK adalah bukan hanya perwajahan sekolah, fasilitas sekolah yang wah tapi yang terpenting membangun edupreneurship dan mengembangkan unit-unit usaha sebagai ajang pembelajaran dan unit usaha sekolah.  Kepala sekolah yang tangguh, pekerja keras, berwawasan masa depan, disiplin akan membentuk guru-guru yang tangguh dan lulusan yang handal dibidangnya.

Teacherpreneurship memiliki kemampuan yang berbeda dengan guru biasa-biasa saja, tidak ada bahan ajar mereka menulis sendiri, tidak ada peralatan mereka memodifikasi, ruang belajar kurang? Dimanapun bisa sebagai tempat belajar,

Yuk kita bekali anak didik kita dengan pembelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan sepanjang hidupnya, apa yang kita ajarkan akan disimpan di bawah alam sadarnya dan menjadikan pengingat, semangat bahkan insfirasi baginya.  Kita kembangkan edupreneurship di sekolah yang kita cintai ini, dengan giat menulis dan meng-update bahan ajar buat mereka yang sudah diselaraskan dengan industri dan KKNI level II maupun III, melakukan asesmen secara berkesinambungan melalui asesmen LSP P1, P3, UKK, UUK maupun evaluasi kognitif yang terencana dengan jelas.

Bentuklah peserta didik kita dengan attitude yang baik menggambarkan profil pelajar pancasila dan budaya kerja.  Tunjukkan lulusan SMK bisa apa? Mampu apa?  Mudah-mudahan ini jadi ladang ibadah kita para guru. Be a professional teacher. Kepala sekolah yang tangguh melahirkan guru yang handal dan menghasil tamatan yang berkualitas. (Yulia Suhartini, SPd, Guru SMK N 1 Pandak, Kabupaten Bantul)