Mahasiswa Harus Memanfaatkan Peluang dengan Membangun Jejaring

BERNASNEWS.COM – Para mahasiswa yang notabene adalah kaum muda, saat ini berhadapan dengan tantangan-tantangan ke depan yaitu radikalisme, intoleransi, rasisme dan individualisme-autisme sosial. Dan para mahasiswa harus menyadari perkembangan terkini di Tanah Air, bagaimana bangsa ini sedang dilanda persoalan, terutama radikalisme, intoleransi dan muramnya geliat anak muda dalam menumbuhkembangkan potensi diri. 

Meski demikian, para mahasiswa harus tetap dapat memanfaatkan semua peluang yang ada di dunia saat ini, baik melalui media sosial maupun sistem kerja jejaring atau networking yang kuat.

Romo Effendi (kiri) dan Yustinus Prastowo (kedua dari kiri) memyimak sambutan Purek III UAJY saat membuka kuliah umum, Sabtu (22/2/2020). Foto : Dok Panitia

Demikian pokok pikiran yang mengemuka dalam kuliah umum bertajuk Yang Muda, Entrepreuneur dan Pancasilais yang diadakan oleh Forum Gaudium et Spes (ForGeS), komunitas awam Katolik yang digerakkan panggilan dan kerinduan untuk berbagi sukacita dan harapan bagi dunia, bekerja sama dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, di Ruang Seminar Lt. 2 Fakultas Bisnis dan Ekonomika (Gedung Bonaventura), Kampus 3 Universitas Atma Jaya, Jalan Babarsari 43 Yogyakarta), Sabtu (22/2/2020).

Kuliah umum yang diikuti ratusan mahasiswa dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Sanata Dharma, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Gajah Mada dan beberapa mahasiswa dari kampus di wilayah Yogyakarta ini menghadirkan sejumlah narasumber yakni Yustinus Prastowo SE M.Hum, Direktur Eksekutif Centre of Indonesia Taxation Analysis dan Pastor Ferdinandus Effendi Sunur SJ, yang berkarya di lingkungan Mahasiswa Katolik di DIY.

Para mahasiswa dengan serius menyimak materi kuliah umum yang disampaikan narasumber, Sabtu (22/2/2020). Foto : Dok Panitia

Dalam kuliah umum yang dipandu Dr Bernadus Wibowo Suliantoro M.Hum sebagai mederator itu, Yustinus Prastowo mengajak para mahasiswa agar dapat memanfaatkan semua peluang yang ada di dunia saat ini melalui media sosial dan sistem kerja jejaring atau networking yang kuat.

“Namun demikian, hendaknya para mahasiswa jangan menjadi budak kemajuan teknologi. Gadget atau smartphone dengan segala aplikasi yang ada di dalamnya, hendaknya tidak menjadi tuan atas manusia yang menggunakannya. Sebaliknya, manusialah yang harus menjadi tuan atasnya, dengan cara mengontrol dan membatasi diri dalam menggunakannya,” kata Prastowo.

Untuk memotivasi sekaligus menginspirasi mahasiswa, Yustinus Prastowo mengawali materi dengan men-sharing-kan pengalaman masa lalunya sebagai orang desa yang belum tersentuh kemajuan teknologi informasi seperti saat ini. Secara gamblang ia menceritakan pengalaman masa kecilnya di Wonosari, Gunung Kidul di mana untuk bisa bersekolah harus berjuang membantu orangtuanya menanam bawang. Hasil dari penjualan bawang itulah yang dipakai untuk membiayai sekolah.

Pastor Effendi SJ saat menyampaikan materi kuliah umum di Kampus UAJY Babarsari, Sabtu (22/2/2020). Foto : Dok Panitia

Ia juga menceritakan bagaimana saat itu di kampungnya belum ada listrik, dan karena itu tidak dapat menikmati kehidupan yang serba gampang seperti saat ini. “Pengalaman seperti itu justru membuat saya kuat dan berintegritas,” tutur Prastowo.

Dr Bernadus Wibowo Suliantoro M.Hum sebagai mederator membuka dinamika kuliah umum dengan mengarahkan semua peserta untuk menyadari perkembangan terkini di Tanah Air, dan bagaimana bangsa ini sedang dilanda persoalan, terutama radikalisme, intoleransi dan muramnya geliat anak muda dalam menumbuhkembangkan potensi diri.  

Sementara Pastor Ferdinandus Effendi Sunur SJ yang menjadi narasumber berikutnya menekankan tentang pentingnya imajinasi bagi seorang anak manusia dalam membangun kehidupannya. Perkembangan hidup seseorang dan aneka perkembangan dunia akhir-akhir ini dipengaruhi oleh imajinasi atau mimpi yang terus-menerus diimplementasikan oleh orang-orang yang bekerja keras atau penuh perjuangan.

“Imajinasi yang baik harus didukung oleh karakter yang tepat. Karakter pribadi mempunyai dua aspek, yaitu aspek personal dan aspek sosial. Aspek personal lebih mengarah pada bagaimana orang harus pro-aktif dan mulai dengan tujuan dalam pikirannya sendiri. Aspek sosial lebih mengarah pada bagaimana membangun jaringan sosial untuk bekerja bersama dan tidak berjalan sendiri,” tutur Pastor Effendi SJ.

Sheren Marsella Hermanto, mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Musik, UNY menyatakan, melalui kukiah umum ini, ia mendapatkan kesan bahwa sebagai anak muda kita harus menjadi tunas bagi bangsa Indonesia, yaitu melaksanakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Ternyata melaksanakan Pancasila semudah itu dan tidak perlu langsung terjun ke dunia politik atau yang lainnya. Kita dapat melakukan hal-hal kecil seperti menghormati orang lain, menolong orang lain, berperilaku sopan dan beribadah kepada Tuhan. Selain itu, sebagai orang muda Indonesia, kita harus bisa mengikuti zaman dan mengikuti penemuan-penemuan baru,” kata Sheren Marsella.

Dikatakan, di zaman yang semua serba instan ini, kita harus bisa memilah-milah mana yang menjadi kebutuhan atau hanya keinginan. Sebuah negara selalu dipengaruhi oleh warganya. Jika warganya pandai menggunakan teknologi penemuan-penemuan tersebut dengan baik, maka negaranya pun akan menjadi negara yang baik dan begitu juga jika sebaliknya. Oleh karena itu, agar bisa memanfaatkan penemuan-penemuan baru di zaman sekarang ini, kita harus mempunyai sebuah pegangan yang kuat, yakni Pancasila.

“Mahasiswa merupakan generasi yang paling berpotensi kehilangan arah dalam penentuan ideologinya karena usia-usia muda yang masih mencari jati diri. Karena itu, penting kiranya bagi kampus menyediakan fasilitas seperti kuliah umum, seminar maupun softskills dalam menetapkan pola pikir yang tepat bagi para mahasiswa terkait ideologi agar tidak mudah terbawa oleh ideologi yang membawa pengaruh buruk,” kata Desvita Angelica Jayanti, mahasiswa Prodi Administrasi Publik, UNY. (CB Ismulyadi, penulis lepas, tinggal di Jogja)