Sekolah Rakyat DIY di Kulon Progo Tunda Operasional hingga 31 Juli 2026, Orang Tua Punya Waktu Lebih Matang Persiapkan Anak

Ilustrasi Sekolah Rakyat DIY di Kulon Progo resmi menunda operasional hingga 31 Juli 2026. (Pixabay.com)

bernasnews – Rencana dimulainya operasional Sekolah Rakyat (SR) DIY di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo pada Senin, 13 Juli 2026, dipastikan mengalami penundaan.

Kementerian Sosial (Kemensos) RI mengubah jadwal pembukaan sehingga kegiatan belajar mengajar baru akan dimulai pada 31 Juli 2026. Keputusan tersebut membuat puluhan calon peserta didik dari keluarga kurang mampu belum dapat memasuki asrama dan mengikuti proses pembelajaran sesuai rencana awal.

Perubahan jadwal itu dikonfirmasi oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo setelah menerima pemberitahuan resmi dari Kementerian Sosial.

Meski sempat mengecewakan sebagian orang tua yang telah menyiapkan berbagai kebutuhan anaknya, penundaan ini sekaligus memberikan waktu tambahan bagi keluarga untuk mempersiapkan perlengkapan maupun kesiapan mental sebelum anak menjalani pendidikan berbasis asrama.

Kemensos Ubah Jadwal Operasional Sekolah Rakyat DIY

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos-PPPA) Kulon Progo, Ernawati Sukeksi, membenarkan adanya perubahan jadwal operasional Sekolah Rakyat di wilayahnya.

“Ada informasi dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI terkait operasional SR di tahun ini,” kata Ernawati kepada wartawan, Senin (13/7/2026).

Menurut Ernawati, Kemensos membagi kesiapan operasional Sekolah Rakyat menjadi tiga kategori. Kategori pertama merupakan sekolah yang telah siap beroperasi penuh mulai 13 Juli 2026. Kategori kedua adalah sekolah yang dinilai siap beroperasi secara fungsional, sedangkan kategori ketiga mencakup sekolah yang masih membutuhkan penyempurnaan sebelum dapat membuka kegiatan belajar mengajar.

Sekolah yang termasuk kategori pertama langsung menerima peserta didik pada pertengahan Juli. Sementara itu, sekolah yang berada pada kategori kedua maupun ketiga baru akan memulai aktivitas pembelajaran pada akhir bulan.

“SR DIY di Kulon Progo masuk kategori siap operasional secara fungsional,” ujarnya.

Hingga kini, pemerintah daerah mengaku belum menerima penjelasan lebih rinci mengenai alasan perubahan jadwal operasional tersebut. Meski demikian, informasi tersebut segera diteruskan kepada seluruh pihak terkait agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat.

Pemeriksaan Kesehatan dan Pengukuran Seragam Tetap Berjalan

Meskipun pembelajaran ditunda, rangkaian persiapan bagi calon peserta didik tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Selama 13 hingga 16 Juli 2026, seluruh siswa mengikuti pemeriksaan kesehatan sekaligus pengukuran seragam sekolah.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam persiapan Sekolah Rakyat yang menerapkan sistem pendidikan berasrama. Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik setiap peserta didik sebelum tinggal di lingkungan sekolah, sedangkan pengukuran seragam bertujuan memastikan seluruh perlengkapan yang dibutuhkan telah tersedia ketika kegiatan belajar dimulai.

Langkah ini juga menjadi bagian dari kesiapan pemerintah dalam memastikan seluruh siswa dapat menjalani proses pendidikan dengan kondisi yang optimal saat operasional resmi dimulai pada akhir Juli.

Perubahan jadwal tersebut sempat mengejutkan sejumlah wali peserta didik. Banyak orang tua sebelumnya telah menganggap 13 Juli sebagai hari pertama anak-anak mereka memasuki Sekolah Rakyat.

Salah satu wali peserta didik, Rini Puji Lestari, mengaku awalnya meyakini kegiatan belajar akan dimulai sesuai jadwal yang sebelumnya beredar.

“Saya sendiri ngiranya mulai masuk SR tanggal 13 Juli ini,” tuturnya saat dihubungi melalui telepon.

Belakangan, pendamping Sekolah Rakyat menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar baru akan berlangsung mulai 31 Juli 2026. Sebelum itu, peserta didik hanya menjalani tahapan pemeriksaan kesehatan dan pengukuran seragam.

Meski sempat terkejut, Rini menilai perubahan jadwal tersebut memberikan manfaat bagi keluarganya. Tambahan waktu lebih dari dua pekan dimanfaatkan untuk melengkapi seluruh kebutuhan anak sebelum tinggal di lingkungan sekolah berasrama.

Persiapan perlengkapan pribadi, pakaian, kebutuhan sehari-hari hingga kesiapan mental anak kini dapat dilakukan dengan lebih tenang tanpa harus terburu-buru.

Menurutnya, kesiapan yang lebih matang akan membantu anak menjalani masa adaptasi dengan lebih baik ketika resmi memasuki lingkungan Sekolah Rakyat.

“Jadi persiapannya lebih matang agar tidak terjadi kendala atau kekurangan di hari pertama MPLS di SR nanti,” ujarnya.

Hari Pertama Sekolah Akan Diawali MPLS dan Prosesi Pembaretan

Saat operasional resmi dimulai pada 31 Juli 2026, Sekolah Rakyat DIY akan membuka kegiatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Agenda tersebut menjadi tahap awal bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan belajar sekaligus kehidupan di asrama.

Salah satu prosesi yang diperkirakan menjadi momen paling berkesan adalah pembaretan yang melibatkan para orang tua. Dalam seremoni tersebut, wali peserta didik secara simbolis akan mengenakan baret kepada anak-anak mereka sebagai tanda dimulainya perjalanan pendidikan di Sekolah Rakyat.

Prosesi tersebut menjadi simbol peralihan menuju fase kehidupan baru bagi para siswa yang akan menjalani pendidikan sekaligus tinggal di lingkungan sekolah.

Meski operasional Sekolah Rakyat DIY di Kulon Progo mundur hingga akhir Juli 2026, harapan puluhan keluarga penerima manfaat tetap terjaga. Penundaan ini memberi kesempatan bagi pemerintah menyelesaikan seluruh persiapan operasional sekaligus memberikan waktu tambahan kepada orang tua untuk memastikan seluruh kebutuhan anak telah terpenuhi. (ef. linangkung)