News  

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran Dua Kali Senin Pagi, Jarak 2 KM ke Arah Barat Daya

Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran dua kali pada Senin pagi dengan jarak luncur hingga 2 kilometer ke arah barat daya. (BPPTKG)

bernasnews – Senin pagi di lereng Gunung Merapi kembali menghadirkan ketegangan. Saat sebagian masyarakat baru memulai aktivitas, puncak gunung api paling aktif di Indonesia itu justru menunjukkan peningkatan dinamika melalui dua kali luncuran awan panas guguran yang mengarah ke sektor barat daya.

Awan panas pertama meluncur pada pukul 08.28 WIB. Material vulkanik yang meluncur dari kubah lava bergerak sejauh sekitar 1.700 meter menuju hulu Kali Krasak.

Luncuran tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 32,92 milimeter dan berlangsung selama 103,55 detik.

Belum lama berselang, Merapi kembali memperlihatkan aktivitasnya. Pada pukul 08.41 WIB, gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut itu kembali meluncurkan awan panas guguran.

Kali ini, guguran meluncur lebih jauh, mencapai sekitar 2.000 meter (2 km) ke arah hulu Kali Sat/Putih di sektor barat daya. Instrumen pemantauan mencatat amplitudo maksimum mencapai 121,54 milimeter dengan durasi selama 124,88 detik.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, mengatakan dua kejadian awan panas guguran tersebut masih berkaitan dengan aktivitas guguran material dari kubah lava Merapi yang hingga kini terus mengalami perubahan akibat suplai magma dari dalam gunung.

Menurut Agus, aktivitas tersebut menunjukkan proses vulkanik Merapi masih berlangsung secara aktif. Oleh karena itu, masyarakat harus tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi resmi yang telah dikeluarkan pemerintah.

“Suplai magma masih berlangsung sehingga potensi terjadinya awan panas guguran masih tetap ada. Masyarakat diharapkan tidak beraktivitas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya,” kata Agus.

Peningkatan Aktivitas Sejak Dini Hari

Sebelum dua awan panas guguran terjadi, aktivitas Merapi sebenarnya sudah memperlihatkan tanda-tanda peningkatan sejak dini hari.

Berdasarkan laporan aktivitas gunung api periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, petugas mencatat sebanyak 18 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2 hingga 8 milimeter dan durasi mencapai 161,98 detik.

Selain itu, petugas juga merekam 21 kali gempa hybrid atau fase banyak yang selama ini menjadi salah satu indikator masih berlangsungnya pergerakan magma di dalam tubuh Gunung Merapi.

Secara visual, kondisi puncak Merapi pada pagi hari masih terlihat cukup jelas. Asap kawah berwarna putih tampak membumbung sekitar 75 meter dari puncak dengan intensitas sedang hingga tebal.

Sementara itu, petugas juga mengamati tiga kali guguran lava yang meluncur ke arah Kali Krasak dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.500 meter.

Rangkaian aktivitas tersebut menjadi gambaran bahwa tekanan magma di dalam tubuh Merapi belum sepenuhnya mereda.

Guguran lava yang terus berlangsung sewaktu-waktu dapat berkembang menjadi awan panas apabila material yang berada di kubah lava mengalami longsoran dalam jumlah besar.

Status Aktivitas Tetap Siaga (Level III)

BPPTKG menegaskan status aktivitas Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut belum berubah karena seluruh parameter pemantauan masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang relatif tinggi dan konsisten.

Dalam kondisi tersebut, potensi bahaya utama masih berupa guguran lava dan awan panas guguran pada sektor selatan hingga barat daya.

Ancaman itu meliputi aliran Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer dari puncak.

Sementara itu, pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Jika sewaktu-waktu terjadi letusan eksplosif, material vulkanik juga berpotensi terlontar hingga radius 3 kilometer dari puncak.

Agus Budi Santosa kembali mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah potensi bahaya.

Warga yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar, terutama ketika hujan turun di kawasan puncak.

Selain itu, masyarakat perlu mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat hujan abu vulkanik apabila intensitas aktivitas erupsi kembali meningkat.

Hingga Senin pagi, BPPTKG terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam penuh melalui jaringan seismograf, kamera pemantau, serta berbagai instrumen pemantauan deformasi dan gas vulkanik.

Seluruh perkembangan aktivitas gunung api akan terus dievaluasi untuk menentukan langkah mitigasi berikutnya.

Dua kali luncuran awan panas dalam selang waktu hanya belasan menit menjadi pengingat bahwa Gunung Merapi masih menyimpan energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan.

Oleh karena itu, kepatuhan masyarakat terhadap rekomendasi resmi menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko apabila aktivitas Merapi kembali meningkat dalam beberapa waktu ke depan. (Eln)