bernasnews – Aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan dinamika vulkanik yang tinggi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan suplai magma dari dalam gunung masih berlangsung selama periode pemantauan 19–25 Juni 2026.
Kondisi tersebut membuat potensi guguran lava maupun awan panas guguran masih tetap mengancam, sehingga status aktivitas dipertahankan pada Level III (Siaga).
Hasil pemantauan visual dan instrumental memperlihatkan Merapi masih berada dalam fase erupsi efusif.
Masyarakat di sekitar lereng gunung diminta tetap mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan karena aktivitas vulkanik sewaktu-waktu dapat berubah.
BPPTKG: Suplai Magma Belum Berhenti
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengatakan data pemantauan menunjukkan pasokan magma ke permukaan masih terus terjadi.
“Suplai magma masih berlangsung sehingga masih berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. Karena itu masyarakat harus tetap disiplin mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan,” ujar Agus Budi Santoso.
Selama sepekan terakhir, puncak Merapi mengeluarkan asap putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi kolom asap berkisar antara 15 meter hingga sekitar 400 meter di atas puncak.
Dari kejauhan, aktivitas tersebut memang terlihat relatif stabil. Namun data pemantauan memperlihatkan proses erupsi masih berlangsung aktif.
Guguran Lava Masih Terjadi Hampir Setiap Hari
BPPTKG mencatat satu kali awan panas guguran meluncur sejauh dua kilometer ke arah hulu Kali Sat/Putih. Selain itu, guguran lava masih mendominasi aktivitas permukaan.
Selama periode pemantauan tercatat:
| Lokasi Guguran | Frekuensi | Jarak Maksimum |
|---|---|---|
| Kali Boyong | 12 kali | 2 km |
| Kali Krasak | 59 kali | 2 km |
| Kali Bebeng | 12 kali | 1,9 km |
| Kali Sat/Putih | 92 kali | 2 km |
Frekuensi guguran lava tersebut menunjukkan proses pertumbuhan sekaligus peluruhan kubah lava masih berlangsung secara alami di puncak Merapi.
Kubah Lava Mengalami Perubahan
BPPTKG juga melakukan survei menggunakan drone pada 18 Juni 2026. Hasil foto udara memperlihatkan volume Kubah Barat Daya berkurang sekitar 4.500 meter kubik sehingga kini tersisa sekitar 4.011.900 meter kubik.
Sementara itu, Kubah Tengah relatif stabil dengan volume sekitar 2.368.800 meter kubik. Pemantauan suhu permukaan menunjukkan kondisi yang menarik.
Suhu Kubah Barat Daya masih berada di kisaran 243 derajat Celsius. Adapun suhu Kubah Tengah meningkat sekitar 9,3 derajat Celsius dibandingkan pengamatan sebelumnya hingga mencapai suhu yang sama, yakni 243 derajat Celsius.
Kenaikan suhu tersebut menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas panas di bagian tengah puncak masih terus berlangsung.
Aktivitas Gempa Masih Mendominasi
Selain aktivitas visual, denyut Merapi juga masih terbaca melalui jaringan seismik BPPTKG.
Dalam sepekan terakhir tercatat:
- 1 gempa awan panas guguran
- 26 gempa vulkanik dangkal
- 477 gempa fase banyak
- 788 gempa guguran
- 1 gempa tremor
- 11 gempa tektonik
Menurut Agus Budi Santoso, jumlah kegempaan memang sedikit menurun dibandingkan pekan sebelumnya. Namun kondisi tersebut belum menunjukkan bahwa aktivitas Merapi mulai mereda.
“Intensitas kegempaan memang lebih rendah dibandingkan minggu sebelumnya, tetapi data pemantauan masih menunjukkan suplai magma tetap berlangsung. Oleh sebab itu, potensi bahaya masih tetap ada,” katanya.
Belum Ada Perubahan Deformasi Signifikan
Pemantauan deformasi menggunakan Electronic Distance Measurement (EDM) dan Global Positioning System (GPS) juga terus dilakukan.
Hasil pengukuran belum menunjukkan perubahan bentuk tubuh gunung yang signifikan.
Hal ini mengindikasikan tekanan internal Merapi masih berada dalam pola yang relatif stabil meski aktivitas vulkaniknya tetap tinggi.
Waspadai Ancaman Lahar Saat Hujan
Curah hujan masih terjadi di kawasan Merapi selama sepekan terakhir. Hujan tertinggi tercatat pada 24 Juni 2026 di Pos Kaliurang dengan intensitas mencapai 28,96 milimeter per jam selama 47 menit.
Hingga laporan terbaru, BPPTKG belum menerima informasi mengenai aliran lahar maupun penambahan material di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Meski demikian, warga diminta tidak lengah. Hujan berintensitas tinggi masih berpotensi memicu lahar apabila membawa material vulkanik yang masih tersimpan di lereng gunung.
Daerah Potensi Bahaya Gunung Merapi
BPPTKG mengingatkan masyarakat untuk tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana. Wilayah yang masih berpotensi terdampak meliputi:
Sektor Selatan–Barat Daya
- Sungai Boyong hingga 5 kilometer
- Sungai Bedog
- Sungai Krasak
- Sungai Bebeng hingga 7 kilometer
Sektor Tenggara
- Sungai Woro hingga 3 kilometer
- Sungai Gendol hingga 5 kilometer
Jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan dapat mencapai radius tiga kilometer dari puncak.
BPPTKG Minta Daerah Tetap Siaga
BPPTKG meminta pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten terus memperkuat langkah mitigasi bencana.
Kesiapan jalur evakuasi, peningkatan kapasitas masyarakat, hingga penyebaran informasi resmi dinilai tetap menjadi prioritas selama status Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
BPPTKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan aktivitas Merapi melalui kanal resmi.
Hingga pembaruan terbaru, pemantauan dilakukan selama 24 jam penuh. Apabila terjadi perubahan signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera dievaluasi sesuai hasil pengamatan terbaru. (Eln)












