bernasnews — Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas guguran pada Minggu siang, 1 Februari 2026. Awan panas tercatat meluncur sejauh 1,5 kilometer dan mengarah ke sektor barat daya, sehingga meningkatkan kewaspadaan di wilayah lereng Merapi dan sekitarnya.
Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 13.48 WIB. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan awan panas guguran bergerak menuju hulu Kali Boyong, salah satu daerah aliran sungai yang berada di dalam zona bahaya Merapi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa kejadian ini menunjukkan aktivitas Gunung Merapi masih berada pada tingkat tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan rawan bencana.
Awan Panas Terekam Alat Pemantauan
BPPTKG mencatat awan panas guguran tersebut memiliki amplitudo maksimum 16 milimeter dengan durasi 150,98 detik. Data seismik menunjukkan material panas bergerak cepat menuruni lereng, membawa campuran lava, gas panas, serta material vulkanik lainnya.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat kembali memicu awan panas guguran dalam waktu yang tidak dapat diprediksi,” ujar Agus Budi Santosa dalam keterangannya.
Dalam laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan 1 Februari 2026 pukul 06.00–12.00 WIB, BPPTKG mencatat intensitas kegempaan yang masih tinggi. Selama periode tersebut, teramati 23 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–19 milimeter dan durasi maksimum 183,54 detik.
Selain itu, tercatat 13 gempa hybrid atau fase banyak yang mengindikasikan pergerakan magma di dalam tubuh gunung.
BPPTKG juga merekam tiga gempa tektonik jauh yang merupakan bagian dari dinamika geologi kawasan, meskipun tidak berkaitan langsung dengan erupsi.
Kondisi Cuaca dan Potensi Risiko
Kondisi cuaca di kawasan Merapi pada hari yang sama dilaporkan berawan hingga hujan. Angin bertiup tenang ke arah timur, dengan suhu udara berkisar antara 17,8–20,9 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 97 persen.
Curah hujan tercatat 18 milimeter per hari. Kondisi tersebut meningkatkan potensi bahaya banjir lahar dan awan panas guguran, khususnya di sepanjang sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Secara visual, puncak gunung tertutup kabut dengan intensitas 0–II, sementara asap kawah tidak teramati.
Status Level III (Siaga) Masih Berlaku
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG menyebut potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong dengan potensi jangkauan hingga 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana Gunung Merapi. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di wilayah sekitar Merapi.
Selain itu, masyarakat di sekitar lereng gunung diharapkan mengantisipasi potensi gangguan abu vulkanik yang dapat berdampak pada kesehatan, transportasi, dan aktivitas harian. BPPTKG menyatakan akan meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi apabila terjadi perubahan signifikan.
Hingga Minggu sore, proses pemantauan terus dilakukan secara intensif. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta mengikuti informasi resmi dari BPPTKG terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi. (Eln)












