bernasnews– Hamparan sawah yang selama puluhan tahun menjadi denyut kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta perlahan terus menyusut.
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah Daerah DIY menegaskan pentingnya data dan penelitian sebagai fondasi utama dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan.
Pesan itu mengemuka dalam Talkshow dan Konsinyering Manajemen Data dan Praktik Tata Kelola untuk Perlindungan Lahan Pertanian di Yogyakarta yang berlangsung di Hotel Harper Yogyakarta, Selasa (9/6/2026).
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, yang hadir sebagai pembicara kunci, membuka diskusi dengan sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat pembangunan.
Hakikat Pembangunan
Menurutnya, pembangunan pada dasarnya merupakan upaya menerjemahkan harapan menjadi kenyataan. Namun, proses tersebut tidak cukup hanya berbekal cita-cita besar.
Pembangunan, kata Made, juga membutuhkan kemampuan memahami kenyataan secara jernih serta kemauan untuk membangun langkah bersama berdasarkan pemahaman yang sama terhadap berbagai persoalan yang muncul.
“Di dalam rencana pembangunan terdapat berbagai cita-cita yang ingin diwujudkan. Namun kenyataan tidak selalu bergerak sesuai dengan harapan kita. Berbagai persoalan hadir dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi, hingga tujuan untuk mencapai masa depan yang lebih baik menjadi terkendala,” ungkap Made.
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan banyak daerah, termasuk DIY. Pertumbuhan ekonomi, perubahan sosial, perkembangan teknologi, tantangan lingkungan, hingga dinamika tata kelola pemerintahan saling berkaitan dan membentuk persoalan yang semakin kompleks.
Menurut Made, pemerintah tidak dapat lagi melihat persoalan secara parsial. Setiap kebijakan harus lahir dari pemahaman yang menyeluruh terhadap kondisi nyata yang terjadi di masyarakat.
Data bukan sekadar angka yang tersimpan di dalam laporan. Data menjadi instrumen yang mampu menggambarkan kondisi riil sekaligus menunjukkan arah kebijakan yang perlu diambil pemerintah.
Dalam konteks perlindungan lahan pertanian, data menjadi alat utama untuk memahami seberapa besar ancaman yang dihadapi sektor pertanian di DIY.
“Dengan data kita bisa mengetahui lebih jauh kondisi riil. Dalam hal tata kelola perlindungan lahan pertanian, bagaimana kita ke depan mampu memiliki tata kelola pertanian yang berkelanjutan meski luasan lahan pertanian di DIY pun semakin berkurang dengan adanya alih fungsi lahan,” jelasnya.
Fenomena penyusutan lahan pertanian memang menjadi tantangan nyata bagi DIY. Sebagai daerah dengan luas wilayah yang terbatas, kebutuhan ruang untuk permukiman, kawasan ekonomi, fasilitas publik, hingga infrastruktur terus meningkat dari tahun ke tahun.
Perlindungan Lahan Pertanian DIY
Kondisi tersebut menghadirkan dilema besar. Pemerintah harus tetap mendorong investasi sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi, tapi pada saat yang sama juga harus menjaga keberlangsungan lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Made menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendirian menghadapi tantangan tersebut. Pemda DIY membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama kalangan akademisi yang memiliki kemampuan melakukan kajian dan penelitian secara ilmiah.
Menurutnya, hasil penelitian dari perguruan tinggi dapat menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga dalam proses pengambilan keputusan.
Penelitian tidak hanya menghadirkan jawaban atas persoalan yang ada, tetapi juga membantu pemerintah memahami akar masalah dan menentukan pertanyaan yang tepat untuk mencari solusi terbaik.
“Di antara cita-cita yang ingin diwujudkan dan kenyataan yang harus dihadapi, penelitian membantu kita memahami. Melalui penelitian, kita diajak melihat persoalan secara lebih utuh, menguji berbagai asumsi, serta membaca perubahan dengan lebih jernih,” katanya.
Made menambahkan, nilai penting sebuah penelitian tidak semata-mata terletak pada kemampuannya menghasilkan jawaban. Penelitian justru memiliki peran yang lebih besar karena mampu membantu para pemangku kepentingan merumuskan pertanyaan yang tepat terhadap berbagai persoalan pembangunan.
Karena itulah, forum diseminasi hasil penelitian dan stakeholder convening yang digelar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada kali ini memiliki makna yang sangat strategis.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian kepada publik. Lebih dari itu, forum tersebut juga menjadi wadah yang mempertemukan berbagai perspektif, pengalaman, dan pengetahuan dari para pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap masa depan lahan pertanian di Yogyakarta.
“Saya berharap forum ini dapat memperkuat hubungan antara dunia akademik, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya. Lebih dari itu, saya berharap berbagai gagasan yang berkembang dalam forum ini dapat memperkaya pemahaman kita terhadap berbagai tantangan pembangunan,” ujarnya.
Pernyataan Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Ali Awaludin, menjelaskan bahwa kegiatan diseminasi hasil penelitian tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban akademik kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Melalui forum tersebut, tim peneliti menyampaikan hasil kajian secara kolaboratif antara UGM, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Agraria dan Tata Ruang, RMIT University, serta Melbourne University Australia.
Ali menjelaskan bahwa penelitian mengenai manajemen data dan praktik tata kelola perlindungan lahan pertanian lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya luas lahan pertanian produktif.
Menurutnya, perubahan fungsi lahan menjadi fenomena yang terus berlangsung dan hampir tidak mungkin dihentikan sepenuhnya. Kebutuhan pembangunan perumahan, kawasan ekonomi, hingga pembangunan infrastruktur seperti jalan tol menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya alih fungsi lahan.
“Sudah banyak terjadi perubahan fungsi lahan yang memang tidak bisa dihindari, baik untuk kebutuhan perumahan maupun untuk infrastruktur seperti jalan tol dan sebagainya. Tentu hal ini menjadi wajar, namun dibutuhkan langkah strategis agar semua kebutuhan bisa tetap terpenuhi, sehingga dilakukanlah penelitian kolaborasi ini,” katanya.
Di balik pesatnya pembangunan, tersimpan pertanyaan besar yang harus segera dijawab bersama. Bagaimana menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan sektor pertanian? Bagaimana memastikan pembangunan tidak mengorbankan ketahanan pangan generasi mendatang?
Ali berharap hasil penelitian yang memperoleh dukungan hibah Knowledge Partnership Indonesia-Australia (KONEKSI) tidak berhenti sebagai laporan akademik yang tersimpan rapi di rak perpustakaan atau sekadar menjadi dokumen penelitian yang dibanggakan.
Sebaliknya, hasil penelitian harus mampu menjelma menjadi instrumen strategis yang memberi dampak nyata dalam penyusunan kebijakan publik.
Ia menekankan bahwa rekomendasi yang lahir dari penelitian harus masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan sampai hanya menjadi dokumen atau paper yang sebatas dibangga-banggakan,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penutup yang kuat dalam forum tersebut. Ketika lahan pertanian terus berkurang dan kebutuhan pembangunan semakin meningkat, DIY menghadapi tantangan besar yang membutuhkan solusi berbasis data, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi lintas sektor. (ef linangkung)












