bernasnews — Bulan Juni selalu menghadirkan dua wajah dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, ada rasa syukur dan bangga karena siswa telah menyelesaikan satu tahap perjalanan belajarnya, khususnya peserta didik kelas IX yang bersiap melangkah ke jenjang berikutnya. Namun di sisi lain, tidak sedikit siswa maupun orang tua yang diselimuti rasa kecewa, cemas, bahkan marah ketika hasil Sumatif Akhir Tahun atau Tes Kemampuan Akademik (TKA) belum sesuai harapan.
Angka-angka dalam rapor seakan menjadi hakim yang menentukan keberhasilan atau kegagalan. Padahal, di balik setiap nilai tersimpan kisah tentang perjuangan, kerja keras, kegagalan, ketekunan, dan proses bertumbuh yang tidak selalu dapat diterjemahkan dalam angka. Yang sering terlupakan, pendidikan sejatinya bukan sekadar tentang hasil akhir, melainkan tentang bagaimana seorang anak terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Pada tanggal 26 Mei 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI Sederajat dan SMP/MTS sederajat Tahun 2026. Ada beberapa informasi yang dapat kita peroleh yaitu : Pertama, TKA Tahun 2026 dengan partisipasi tinggi, mencapai 98,12 persen dari lebih delapan juta murid SD/MI dan SMP/MTs di seluruh Indonesia.
Kedua, hasil nasional menunjukkan nilai Bahasa Indonesia lebih tinggi dibanding Matematika di semua jenjang. Hal ini menandakan kemampuan numerik masih perlu perhatian serius. Ketiga, TKA digunakan bukan sekadar angka, tapi sebagai alat refleksi pembelajaran untuk guru, murid, dan orang tua guna memperkuat penalaran logis serta pemecahan masalah.
Sebagai guru yang mengajar kelas IX, penulis menyadari dan merasakan apa yang dialami siswa dan orang tua, bahwa hasil TKA belum sesuai dengan harapan khusus pelajaran Matematika. Hasil TKA di sekolah penulis dari 139 siswa kelas IX diperoleh pada pelajaran Bahasa Indonesia diperoleh nilai rentang 43,33 – 93,33 dengan rata – rata 75,54 capaian yang baik, dan mayoritas siswa memperoleh nilai antara 70–90.
Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi peserta didik sudah berkembang dengan baik, terutama dalam memahami bacaan, menemukan informasi, menganalisis isi teks, dan menarik kesimpulan. Sedangkan pelajaran Matematika diperoleh nilai rentang 16,67 – 86,67 dengan rata – rata 46,40 berada pada kategori Memadai dan sebagian besar siswa berada pada rentang 40–60.
Hasil ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa telah menguasai konsep dasar matematika, tetapi masih mengalami kesulitan pada soal yang menuntut: penalaran, pemecahan masalah, penerapan konsep dalam konteks baru, dan materi aljabar yang lebih kompleks.
Hasil TKA di atas mengindikasikan bahwa kemampuan literasi peserta didik telah berkembang dengan baik, namun kemampuan numerasi dan pemecahan masalah matematika masih menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, sekolah perlu memprioritaskan program penguatan numerasi, pendampingan akademik matematika, serta pembiasaan belajar yang lebih intensif untuk meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik pada tahun berikutnya.
Fenomena seputar TKA yaitu: Pertama, TKA Bukan Penentu Kelulusan, Salah satu hal yang paling sering disalahpahami masyarakat adalah menganggap TKA sebagai “UN versi baru”. Padahal pemerintah menegaskan bahwa TKA tidak menentukan kelulusan siswa. Kelulusan tetap menjadi kewenangan satuan pendidikan berdasarkan berbagai bentuk penilaian yang dilakukan sekolah.
TKA berfungsi sebagai asesmen terstandar untuk mengukur capaian akademik dan sebagai salah satu bahan pertimbangan seleksi ke jenjang berikutnya. (Pusmendik). Jadi jika TKA bukan penentu kelulusan, maka hasil TKA seharusnya dibaca sebagai cermin untuk perbaikan pembelajaran, bukan sebagai stempel keberhasilan atau kegagalan seorang anak.
Kedua, Kemampuan Literasi Lebih Baik daripada Numerasi. Hasil TKA 2026 untuk jenjang SD dan SMP menunjukkan bahwa capaian Bahasa Indonesia (literasi) secara nasional lebih tinggi dibandingkan Matematika (numerasi). Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir numerik dan pemecahan masalah masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia. (IDN Times).
Menurut pengamatan penulis banyak siswa yang belum mampu membaca soal, belum terbiasa bernalar, dan menyelesaikan masalah secara mendalam. Masalah utama mungkin bukan pada kemampuan menghafal rumus, tetapi pada kemampuan berpikir kritis dan bernalar yang belum terbangun secara konsisten.
Ketiga, Ada Kesenjangan antara Nilai Rapor dan Hasil TKA. Pemerintah menjelaskan bahwa TKA hadir untuk melengkapi dan memvalidasi hasil penilaian sekolah karena penilaian internal antarsekolah sering kali tidak dapat dibandingkan secara objektif. (Pusmendik). Menurut penulis, ketika nilai rapor tinggi tetapi hasil TKA rendah, yang perlu dievaluasi bukan hanya siswa, melainkan juga proses pembelajaran dan sistem penilaian yang berlangsung di sekolah.
Pertanyaannya, benarkah angka yang tertulis dalam rapor dan hasil TKA mampu menggambarkan seluruh potensi seorang anak? Tentu kita sepakat bahwa nilai akademik memiliki arti penting. Nilai dapat menjadi salah satu indikator pencapaian belajar siswa selama mengikuti proses pendidikan. Namun, nilai bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Hasil ujian hanya menggambarkan kemampuan siswa pada waktu tertentu dan dalam aspek tertentu. Banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil tersebut, mulai dari kondisi kesehatan, kesiapan mental, kepercayaan diri, hingga situasi keluarga dan lingkungan belajar. Lebih dari itu, tidak semua potensi anak dapat diukur melalui lembar soal dan angka-angka.
Ada anak yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, kreativitas yang tinggi, kepemimpinan yang kuat, kemampuan seni yang luar biasa, atau keterampilan teknis yang menjanjikan. Potensi-potensi tersebut sering kali belum sepenuhnya tampak dalam hasil ujian akademik.
Sebagai guru, penulis kerap menjumpai siswa yang saat SMP tidak menonjol dalam bidang akademik, tetapi beberapa tahun kemudian justru berhasil menemukan jalan hidupnya. Ada yang menjadi wirausahawan, teknisi andal, desainer kreatif, atlet berprestasi, seniman, maupun profesional di berbagai bidang.
Keberhasilan mereka tidak semata-mata ditentukan oleh nilai saat SMP, melainkan oleh ketekunan, semangat belajar, karakter yang baik, dan keberanian untuk terus berkembang. Masa SMP pada hakikatnya adalah masa bertumbuh, bukan garis akhir perjalanan. Pada usia remaja, anak-anak sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Mereka masih belajar mengenali kekuatan, kelemahan, minat, dan cita-citanya.
Oleh karena itu, hasil Sumatif Akhir Tahun (SAT) maupun Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang belum maksimal tidak seharusnya dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang masih terus berlangsung.
Yang jauh lebih penting saat ini adalah membantu anak menentukan langkah berikutnya. Apakah ia akan melanjutkan ke SMA, SMK, atau jalur pendidikan lain yang sesuai dengan minat dan potensinya? Pilihan tersebut hendaknya tidak didasarkan pada gengsi atau tekanan sosial, melainkan pada pemahaman yang mendalam terhadap karakter dan kemampuan anak.
Anak yang belajar sesuai minatnya cenderung lebih bersemangat, lebih tekun, dan lebih mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Di sanalah mereka akan belajar mencoba, menghadapi kegagalan, bangkit kembali, dan perlahan menemukan passion yang menjadi bekal berharga dalam kehidupan.
Dalam situasi seperti ini, dukungan orang tua menjadi sangat penting. Anak-anak tidak membutuhkan kemarahan, cemoohan, atau perbandingan dengan orang lain. Mereka membutuhkan kehadiran orang tua yang mau mendengarkan, memahami, dan tetap percaya pada kemampuan mereka.
Ketika seorang anak merasa dihargai dan dipercaya, tumbuhlah rasa percaya diri yang akan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan di masa depan. Tugas orang tua dan guru sesungguhnya bukan sekadar mengejar angka setinggi-tingginya, melainkan menumbuhkan niat yang baik, membangun karakter yang kuat, serta menjaga semangat belajar agar tetap menyala dalam diri anak.
Sebab dunia masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang pandai secara akademik, tetapi juga pribadi yang tangguh, kreatif, bertanggung jawab, dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
Karena itu, jika tahun ini hasil rapor atau TKA anak belum sesuai harapan, jangan buru-buru memberi label gagal. Jangan pula kehilangan kepercayaan terhadap masa depannya. Ingatlah bahwa setiap anak memiliki keunikan, potensi, dan waktunya sendiri untuk berkembang.
Tidak semua bunga mekar pada musim yang sama, tetapi setiap bunga memiliki keindahannya masing-masing. Mari kita geser fokus dari sekadar angka menuju proses pertumbuhan. Mari kita dampingi anak-anak kita memasuki jenjang pendidikan berikutnya dengan optimisme dan harapan.
Percayalah, anak-anak kita adalah pribadi-pribadi hebat yang sedang bertumbuh. Pada saatnya nanti, mereka akan menemukan talenta terbaiknya dan menggunakannya untuk berkarya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan masa depannya sendiri.
Pada akhirnya, hasil TKA tahun 2026 memberikan pesan penting bagi kita semua. Di satu sisi, hasil tersebut menjadi cermin yang jujur tentang kondisi literasi dan numerasi peserta didik Indonesia. Namun di sisi lain, hasil TKA juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar kumpulan angka.
Nilai yang tercantum dalam rapor maupun TKA memang penting, tetapi tidak pernah cukup untuk menggambarkan seluruh potensi, karakter, ketangguhan, dan mimpi seorang anak. Tugas kita sebagai guru dan orang tua bukanlah menghakimi mereka dari hasil yang diperoleh hari ini, melainkan mendampingi mereka agar terus belajar, berani mencoba, dan tidak menyerah ketika menghadapi kegagalan.
Sebab masa SMP bukanlah garis akhir, melainkan salah satu persimpangan dalam perjalanan panjang kehidupan. Percayalah, setiap anak memiliki talenta, waktunya sendiri untuk berkembang, dan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang baik.
Ketika kita memilih untuk melihat proses, bukan sekadar angka, sesungguhnya kita sedang membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang percaya diri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
“Tidak semua anak menjadi bintang pada waktu yang sama. Namun dengan dukungan, kepercayaan, dan kesempatan yang tepat, setiap anak akan menemukan cahayanya sendiri”. (Yohanes Sudarna, S.Pd.,M.M. Guru Matematika SMP Marsudirini Maria Goretti Semarang)












