bernasnews – Arus wisatawan mulai memadati Yogyakarta menjelang libur panjang Iduladha 2026.
Jalan menuju kawasan wisata terlihat lebih ramai sejak awal pekan, pusat kuliner kembali dipenuhi pengunjung, sementara hotel-hotel di kawasan kota hingga destinasi wisata mulai kebanjiran reservasi.
Namun di balik meningkatnya okupansi hotel, pelaku industri perhotelan di Yogyakarta justru menghadapi tekanan baru. Tingginya jumlah tamu belum otomatis mendongkrak keuntungan usaha.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat tingkat hunian hotel selama long weekend Iduladha diperkirakan berada di kisaran 60 hingga 80 persen.
Angka tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata yang beberapa waktu terakhir bergerak di tengah tekanan ekonomi dan melemahnya daya beli masyarakat.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan tren pemesanan hotel memang meningkat cukup signifikan dibanding hari biasa. Meski begitu, margin keuntungan hotel belum ikut terdongkrak.
“Kalau bicara okupansi, ya alhamdulillah cukup bagus, rata-rata 60 sampai 80 persen. Tapi biaya produksi kan juga naik. Jadi revenue atau pendapatan ya pas-pasan,” ujarnya, Selasa, 26 Mei 2026.
Hotel di Yogya Ditekan Biaya Operasional
Di sejumlah hotel kawasan Malioboro dan pusat kota, aktivitas check-in mulai meningkat sejak H-3 libur panjang. Beberapa wisatawan terlihat datang lebih awal untuk menghindari kemacetan saat puncak arus liburan.
Namun di sisi pengelola hotel, biaya operasional justru terus membengkak.
Kenaikan harga bahan makanan, tarif energi, kebutuhan laundry, hingga biaya perawatan bangunan disebut menjadi beban yang makin terasa sepanjang 2026.
Kondisi ini membuat banyak hotel berada dalam situasi serba sulit. Mereka membutuhkan penyesuaian harga kamar agar bisnis tetap sehat, tetapi kenaikan tarif terlalu tinggi dikhawatirkan membuat wisatawan berpikir ulang untuk menginap.
Karena itu, sebagian besar hotel di Yogyakarta kini mengandalkan strategi dynamic rate atau tarif dinamis.
Melalui sistem tersebut, harga kamar disesuaikan berdasarkan tingkat permintaan pasar, musim liburan, dan kondisi daya beli wisatawan.
“Kita tidak bisa menaikkan harga karena daya beli masyarakat turun. Jadi hotel-hotel itu kan pakai dynamic rate. Kita melihat situasi dan kondisi yang ada. Jadi ya betul, keuntungan yang didapat tipis,” jelas Deddy.
Fenomena ini membuat industri hotel di Yogyakarta lebih memilih menjaga kestabilan jumlah tamu dibanding mengejar keuntungan jangka pendek dengan kenaikan tarif agresif.
Pelemahan Rupiah Ubah Pola Wisata
PHRI DIY juga menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang ikut memengaruhi pola perjalanan wisata masyarakat.
Bagi wisatawan domestik, tekanan ekonomi membuat pengeluaran untuk liburan menjadi lebih selektif. Banyak keluarga mulai mengurangi anggaran wisata atau memilih perjalanan jarak dekat.
Tetapi di sisi lain, kondisi tersebut justru membuka peluang bagi sektor pariwisata Yogyakarta.
Nilai tukar dolar yang tinggi membuat biaya liburan di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing. Selain itu, wisatawan domestik kelas menengah atas yang sebelumnya berencana bepergian ke luar negeri mulai mengalihkan tujuan liburannya ke destinasi dalam negeri.
Yogyakarta dan Bali disebut menjadi daerah yang paling diuntungkan dari perubahan tren tersebut.
“Positifnya, wisatawan asing yang ke sini kan pakai rupiah, mereka bisa dapat rupiah yang cukup banyak karena nilai dolar tinggi. Selain itu, orang lokal yang tadinya mau ke luar negeri akhirnya menunda dan mengalihkan liburannya ke dalam negeri. Nah, Yogya dan Bali menjadi pilihan utama mereka,” paparnya.
Wisata Alternatif Mulai Didorong
Menghadapi persaingan sektor wisata yang semakin ketat, pelaku industri pariwisata di Yogyakarta kini mulai memperkenalkan destinasi alternatif kepada wisatawan.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kepadatan di titik wisata utama seperti Malioboro, Candi Prambanan, dan Pantai Parangtritis, sekaligus memperpanjang lama tinggal wisatawan atau length of stay.
Beberapa hotel bahkan mulai aktif merekomendasikan desa wisata, kawasan alam tersembunyi, hingga sentra budaya lokal kepada tamu mereka.
PHRI DIY menilai strategi tersebut penting agar sektor wisata Yogyakarta tetap kompetitif tanpa membebani wisatawan dengan lonjakan harga berlebihan.
“Otomatis informasi yang seperti itu kita sampaikan. Supaya untuk menambah length of stay wisatawan di Yogyakarta,” pungkas Deddy. (eln)












