bernasnews – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan target okupansi hotel secara hati-hati pada triwulan II 2026.
Langkah ini diambil di tengah tekanan daya beli masyarakat dan ketidakpastian kondisi global yang memengaruhi sektor pariwisata.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyampaikan bahwa capaian okupansi hotel pada triwulan I 2026 masih berada di bawah target.
Capaian Triwulan I dan Target Baru
Deddy mencatat tingkat hunian kamar hotel pada triwulan I 2026 berada di kisaran 50 hingga 60 persen.
Angka tersebut belum mencapai target awal yang ditetapkan sebesar 70 hingga 75 persen.
“Kami melihat kondisi saat ini belum memungkinkan untuk memasang target tinggi. Untuk triwulan II, kami menargetkan okupansi di angka 85 persen, tetapi itu pun dengan pendekatan yang sangat realistis,” ujarnya, Minggu, 3 Mei 2026.
Faktor Tekanan Sektor Perhotelan
Menurutnya, pelemahan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi tingkat hunian hotel.
Masyarakat dinilai lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran, termasuk untuk perjalanan wisata.
Selain itu, kondisi geopolitik global yang belum stabil turut berdampak pada mobilitas wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
Indikasi Pemulihan di Triwulan II
Memasuki awal Mei 2026, PHRI DIY mencatat mulai adanya peningkatan reservasi hotel, meskipun belum signifikan.
Momentum libur panjang akhir pekan serta sejumlah kegiatan di Yogyakarta menjadi faktor pendorong awal.
Deddy menyebut bahwa periode libur sekolah pada Juni diperkirakan akan turut meningkatkan tingkat hunian hotel.
“Memasuki Mei, sudah mulai ada pergerakan. Libur panjang dan berbagai event di Yogyakarta cukup membantu. Juni juga mulai terlihat peningkatan, apalagi bertepatan dengan musim liburan sekolah,” jelasnya.
Dampak Wisatawan Mancanegara
Dari sisi wisatawan internasional, terjadi penurunan kunjungan wisatawan asal Eropa sekitar 15 persen.
Penurunan ini dipengaruhi oleh konflik yang masih berlangsung di beberapa wilayah.
Kondisi tersebut tidak hanya dirasakan di Yogyakarta, tetapi juga di destinasi lain seperti Bali dan Jakarta sebagai pintu masuk utama wisatawan internasional.
Peran Wisatawan Asia
Di tengah penurunan pasar Eropa, sektor perhotelan di DIY masih mendapat dukungan dari wisatawan Asia.
Wisatawan asal Tiongkok dan Taiwan disebut memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat okupansi.
Sementara itu, wisatawan asal India menunjukkan tren peningkatan, meskipun kontribusinya belum besar.
“Kami masih tertolong oleh wisatawan dari Taiwan dan Tiongkok yang cukup signifikan. Untuk India ada peningkatan, tetapi belum terlalu besar,” kata Deddy.
Prospek Triwulan II
PHRI DIY menyatakan akan tetap memantau perkembangan sektor pariwisata secara berkala.
Kombinasi antara momentum liburan, kegiatan lokal, dan pasar wisatawan Asia diharapkan dapat mendukung kinerja industri perhotelan pada triwulan II 2026. (Eln)











