bernasnews – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikasi esai sebagai sebuah tulisan prosa yang memberikan pandangan singkat tentang suatu isu dari perspektif pribadi penulis. Atau secara garis besar, esai menyampaikan informasi, gagasan, argumen, dan ekspresi emosi penulis tentang subyek tertentu.
Dalam teori jurnalistik, esai adalah bagian dari rumpun opini, Ada sembilan item anggota rumpun opini yakni tajuk rencana, karikatur, pojok, surat pembaca, artikel, esai, kolom, news analysis, dan resensi buku. Dari sembilan item tulisan itu, tiga diantaranya yakni tajuk, karikatur dan pojok menjadi otoritas pengelola media. Sedangkan sisanya merupakan peluang berkarya penulis umum.
Penulis bersyukur menjadi anggota komunitas literasi KITA LANSIA. Komunitas ini dibentuk tahun 2024 dan di wag saat ini terlihat ada 29 orang anggotanya. Pada karya buku pertama “KITA LANSIA Terus Berkarya, Bahagia, Penuh Berkah” (2024) tercatat ada 33 orang penulis. Buu kedua, “(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik” (2025) ada 25 orang penulis. Dan buku ketiga, “Aku Terkoneksi Maka Aku Ada” (2026). Ketiga buku itu dengan ilustrasi cover oleh Vincensius Dwimawan.
Secara umum, pilihan topik, ilustrasi cover dan sajian aneka tulisan esai dalam buku itu menarik, reflektif serta bermanfaat untuk mengasah kebiasaan membaca dan menulis khususnya bagi lansia. Tentang perbedaan jumlah kontributor penulis, sebuah kenyataan yang menyedihkan, antara lain karena ada penulis yang meninggal dunia. Bahkan ada seorang penulis yang dipanggil Tuhan sebelum buku pertama terbit.
Pilihan topik buku pertama KITA LANSIA yang menjadi nama komunitas literasi ini, masih ditambah sub judul Terus Berkarya, Bahagia, Penuh Berkah. Sub judul ini seolah menjadi mantra positif bagi anggota komunitas. Bahwa lansia itu harus terus berkarya, bahagia, dan penuh berkah. Bagi lansia yang diberi tubuh sehat dan senantiasa harus menjaga kesehatannya, siapa yang tidak ingin tetap berkarya, bahagia dan penuh berkah?
Menurut hemat penulis, dan ini sungguh dirasakan, manfaat positif menjadi anggota komunitas KITA LANSIA tidak hanya ketika diminta berpartisipasi menulis buku kumpulan esai bersama dari tahun ke tahun. Namun juga ketika membuka dan membaca sajian di whatsApp group setiap hari ada banyak informasi dan refleksi tulisan yang bernas dan bermanfaat. Selain itu, saat peluncuran dan diskusi buku, kami dapat bertemu saling silaturahmi. Ini betul-betul “ngrabuk nyawa” namanya.
Adapun nama-nama penulis buku “Kita Lansia – Terus Berkarya, Bahagia, Penuh Berkah” (2024) adalah Adri Darmadji Woko, Agoes Widhartono, Ahmad Syaify, Benedictus Mujiyadi, Bambang Prayitno, Bambang Sigap Sumantri, Bob Trisunuwarso, Dewi Anggraeni, Genthong HSA, Gunawan, Gunato Saparie, Halim HD, Hendrawan Nadesul, Herry Gendut Janarto, Isti Nugroho, Kurniawan Junaedhi.
Kemudian Lies Wijayanti SW, Mustofa W. Hasyim, Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Ratna Hendrarsi, Sinta Herindrasti, Simon HT, Soeparno S. Adhy, Sofia Trilestari Setyaningsih, Sulis Bambang, Sunarto, Sutirman Eka Ardhana, Wahid Supriyadi, Wara Kusharwanti, Wisma Nugraha Christanto, dan Y.B. Margantoro.
Nama-nama penulis buku “(Lansia) Indonesia Tanpa Ruang Publik” (2025) adalah Admad Syaify, Agoes Widhartono, Ahmadun Yosi Herfanda, Antie Soelaiman, Dikdik Sadikin, Genthong HSA, Gunawan, Gunoto Saparie, Halim HD, Lies Wijayanti SW, Mustofa W. Hasyim, Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Osmar Tanjung, Ratna Hendrarsi, Simon HT, Sinta Herindrasti, Sri Wahyu Wardani, Sulis Bambang, Sumardiyanto, Sunarto, Sutirman Eka ASrdhana, Wara Kusharwanti, dan Y.B. Margantoro.
Nama-nama penulis buku “Aku Terkoneksi Maka Aku Ada” (2026) adalah Adri Darmaji Woko, Agoes Widhartono, Ahmad Syaify, Antie Solaiman, Bambang Sigap Sumantri, Bob Trisunuwarso M, Didik Sadikin, Gunawan, Gunoto Saparie, Imam Anshori Saleh, Mustowa W. Hasyim, Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Ratna Hendarsi, Sinta Herindrasti, Sulis Bambang, Sumardiyanto, Sunarto, Sutirman Eka Ardhana, Wara Kusharwanti dan Y.B. Margantoro.
Kegiatan penerbitan dan diskusi buku-buku ini atas kerjasama Sastra Bulan Purnama (SBP), Tonggak Pustaka, DPRD DIY, PT. Luas Birus Utama (LBU), dan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS). Selama tiga tahun ini, sejak 2024, masing-masing lembaga berinteraksi menyelenggarakan diskusi dan PT. LBU mensuport penerbitan buku.
Koordinator SBP Ons Untoro selaku penggagas penerbitan buku dan penyelenggara acara kepada bernasnews mengemukakan, para lansia yang usianya di atas 60 tahun, lebih-lebih di atas 70 tahun, perlu terus menjaga kreativitasnya di bidang menulis. Usia tua bukan hambatan, karena itu ruang ini disediakan untuk para lansia terus menulis.
“Setiap tahun, dan dilaunching di bulan Mei, akan kita ajak para lansia menulis dengan tema berbeda-beda. Dengan demikian lansia tetap terus membaca dan berkarya. Ini artinya pikirannya tidak berhenti,” kata dia. (Y.B. Margantoro)












