bernasnews – Membaca adalah satu kegiatan manusia atau budaya yang penting dalam kehidupan. Membaca tentu tidak hanya tentang teks atau narasi di dalam buku, namun juga membaca hal yang lain. Mulai dari soal (wajah) orang, situasi, kesehatan, perekonomian, iklim, sampai membaca tanda-tanda zaman.
Bagi yang belum terbiasa membaca, tentu tidak mudah melakukan hal ini. Sebaliknya, tidak semua orang perlu atau layak dibaca. Sosok yang menarik dan penting dibaca dapat yang sudah tiada atau yang masih hidup. Tentu harus ada alasan dan tujuan yang baik dalam kegiatan ini. Paling tidak ada inspirasi, motivasi, dan keteladanan yang dapat diperoleh dari sosok itu.
Kali ini, sosok yang penulis baca adalah Romo Mangun, lengkapnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Tokoh yang akrab juga disebut Y.B. Mangunwijaya ini banyak menghasilkan karya tulis dan buku, serta banyak pula ditulis dalam media massa dan buku oleh banyak kalangan. Artinya, Romo Mangun banyak menulis dan banyak ditulis orang.
Paling tidak, ada tiga buku tentang Romo Mangun yang menjadi referensi tulisan sederhana ini. Pertama, “Yuk, Belajar Ujaran dan Teladan Rama Mangun” (Tim Buku St. Sularto, dkk; Epilog Sindhunata; Penerbit Buku Kompas 2024). Kedua, buku “Romo Mangun Pahlawan Kemanusiaan” (Yoachim Agus Tridiatno dan Alfred B. Jogo Ena; Bajawa Press 2025). Ketiga, buku “Naskah Akademik Usulan Penetapan Y.B. Mangunwijaya Sebagai Pahlawan Nasional (Yoachim Agus Tridiatno dan Alfred B. Jogo Ena; IKAFITE USD Yogyakarta 2025).
KEBIJAKAN HIDUP
Ujaran dan teladan itu sesuatu yang berbeda. Ujaran atau kata-kata yang baik itu memang baik adanya. Namun ada ungkapan, satu teladan lebih baik dari seribu kata. Artinya, seribu kata baik masih kalah baik dibanding keteladanan.
Di buku pertama, tim penulis membagi enam bab menarik yakni Kebijaksanaan Hidup; Per-Satu-An Bukan Per-Sate-An; Meletakkan Hati, Meniti Masa; Merobohkan Tembok; Pergi untuk Kembali. Dari enam itu mengalirkan beberapa ungkapan dan sekaligus tindakan yang menyentuh kemanusiaan seperti Bayar utang kepada rakyat; Yang dibutuhkan orang miskin harga diri; Aja kok pageri omahmu nganggo beling, pagerana nganggo piring; Jangan ada makanan tersisa dan terbuang. Kemudian tentang Belajar dulu jadi manusia, Masuk surga tak perlu teologi, sampai Berjuang untuk yang terpinggirkan, menyapa hingga yang di singgasana.
Di buku kedua, kita belajar tentang biografi dan karya kemanusiaan : Dari Ambarawa sampai Magelang. Dari Sekolah Teknik Mataram, Tentara Pelajar Sampai SMA Albertus Malang, dan Dari Seminari Sampai Menjadi Romo.
Bab-bab selanjutnya adalah Dari Bandung ke Aachen Sampai Colorado, Karya kemanusiaan bidang arsitektur dan dosen, Karya kemanusiaan bidang sastra, Karya kemanusiaan kampung Code, Grigak, dan Kedung Ombo, Karya kemanusiaan bidang pendidikan, Kepergian yang menginspirasi harapan, Makna karya kemanusiaan Romo Mangun, Romo Mangun penulis berhati nurani, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Pendidikan yang memerdekakan, Inspirasi menuju manusia Pasca-Indoensia.
Sedangkan di buku ketiga, kita membaca Profil dan biografi Romo Mangun; Sumbangan Romo Mangun bagi Bangsa dan Negara Indonesia : Menjadi manusia Pasca-Indonesia, Pendidikan yang memerdekakan, Wastu Citra : keindahan memancarkan kebenaran, Sastrawan berhati nurani, Berjuang demi manusia, Pemikiran untuk demokrasi. Juga ada bab tentang Analisis dan kelayakan Y.B. Mangunwijaya menjadi Pahlawan Nasional dari tinjauan filosofis, tinjauan yuridis, dan tinjauan sosiologis. Lalu ada kesimpulan dan rekomendasi.
Romo Mangun yang lahir pada 6 Mei 1929 dan wafat 10 Februari 1999 adalah sosok multi talenta. Ia seorang pastor, arsitek, sastrawan, penulis, intelektual, aktivis sosial yang secara integral menggabungkan iman, seni dan keadilan. Kehidupannya merupakan perwujudan nyata dari teologi inkarnasi : iman yang turun ke dunia nyata, menyentuh tanah, bekerja dengan tangan dan berdiri di samping kaum terpinggirkan. (Anto Margono, Pegiat Literasi)












