bernasnews — Siswi kelas XI jurusan Desain Produksi Busana SMK Marsudirini St. Fransiskus melaksanakan kegiatan Kokurikuler Kunjungan Industri ke Ethnic Art Galery UMKM Center, Semarang, Jawa Tengah.
Kegiatan ini bertujuan mengenalkan siswi pada potensi wirausaha rajut sekaligus memahami proses produksi UMKM. Rombongan sebanyak 7 siswi, 3 guru pendamping disambut hangat oleh kelompok pengrajin Ibu-Ibu yang berlokasi di Jalan Setiabudi, Semarang.
“Kampung Rajut dikenal sebagai sentra UMKM rajut homemade yang memproduksi tas, dompet, payung hinga asesoris rajut dengan sistem custom order,” kata Mrs. Natalia M, S.Pd, Humas SMK St. Fransiskus Semarang, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/5/2026).
Lanjut Natalia menjelaskan, ASbag merupakan brand UMKM tas rajut handmade premium yang didirikan sejak tahun 2012 oleh Ibu Triastuti, sosok ibu rumah tangga yang beralamat di Jalan Jangli Tlawah.
Bahan yang digunakan menggunakan benang nilon premium berkualitas, desain produk yang ekslusif dan memberdayakan warga lokal yang merupakan Ibu rumah tangga tetangga sekitar.
“Tidak hanya di kancah Indonesia, brand Asbag ini sudah menembus pasar ekspor internasional, diantaranya Inggris dan Libya,” ungkap Ibu Triastuti.
Dalam kesempatan kunjungan tersebut, siswi jurusan busana praktik langsung membuat dompet. Melalui belajar merajut, membuat siswi belajar semakin teliti, tekun, telaten dan sabar yang mana dapat menyinronkan otak kanan dan kiri.
“Semoga dengan adanya kunjungan ini membuka wawasan juga tentang usaha yang bisa digeluti oleh banyak orang,” harap Ibu Katarina, Kepala SMK St. Fransiskus.
Kunjungan ke Kampung Rajut Gedawang membuka wawasan siswi bahwa skill rajut mempunyai potensi ekonomi jika dikelola dengan desain kekinian dan pemasaran digital.
Melalui kunjungan ini, tidak menutup kemungkinan jika ada siswi jurusan busana yang setelah lulus mampu menerapkan skill merajut ini karena di SMK St Fransiskus juga ada mata pelajaran pilihan merajut dan menyulam.
“Dimana merajut dan menyulam ini menjadi bekal dikemudian hari siswi, selain skill di bidang menjahit,” ujar Ibu Diah Ayu Febriawati, Guru Produktif jurusan Desain Produksi Busana. (zbd)












