bernasnews – Jumlah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta terus mengalami peningkatan dalam lima belas tahun terakhir.
Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, populasi DIY kini mencapai 3,78 juta jiwa.
Kenaikan jumlah penduduk itu mencerminkan masih tingginya daya tarik Yogyakarta sebagai kota pendidikan, pusat jasa, hingga tujuan hunian dan pekerjaan.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan jumlah penduduk DIY terus bertambah dibandingkan hasil sensus sebelumnya.
“Jumlah penduduk D.I. Yogyakarta berdasarkan hasil SUPAS 2025 sebanyak 3,78 juta orang dan terus mengalami peningkatan dibandingkan sensus penduduk sebelumnya,” ujar Endang.
Penduduk DIY Bertambah 325 Ribu Jiwa
BPS DIY mencatat sejak 2010 hingga 2025 jumlah penduduk meningkat sekitar 325,82 ribu jiwa. Rata-rata pertambahan mencapai sekitar 21,72 ribu orang per tahun.
Peningkatan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan alami penduduk hingga arus migrasi masuk ke DIY.
Fenomena urbanisasi terlihat semakin kuat di sejumlah wilayah penyangga Kota Yogyakarta seperti Sleman dan Bantul yang terus berkembang menjadi kawasan permukiman baru.
Banyak masyarakat memilih tinggal di wilayah pinggiran karena harga tanah dan hunian di pusat kota semakin tinggi.
Laju Pertumbuhan Penduduk Naik
Dalam periode 2020–2025, laju pertumbuhan penduduk DIY tercatat sebesar 0,64 persen per tahun. Angka itu naik dibanding periode 2010–2020 yang berada di angka 0,58 persen.
Meski kenaikannya relatif kecil, perubahan tersebut menjadi sinyal penting terhadap dinamika pembangunan wilayah.
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat akan berdampak pada kebutuhan perumahan, pendidikan, layanan kesehatan, transportasi, hingga lapangan kerja.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menghadapi tantangan baru berupa keterbatasan ruang hidup di kawasan perkotaan dan meningkatnya tekanan terhadap infrastruktur kota.
Penduduk Perempuan Lebih Banyak
SUPAS 2025 juga menunjukkan jumlah penduduk perempuan di DIY masih lebih besar dibanding laki-laki.
Penduduk laki-laki tercatat sebanyak 1,87 juta jiwa atau sekitar 49,45 persen dari total populasi. Sementara jumlah perempuan mencapai 1,91 juta jiwa atau sekitar 50,55 persen.
Perbandingan tersebut membuat rasio jenis kelamin DIY berada di angka 98, atau sekitar 98 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
Kabupaten Bantul tercatat memiliki rasio jenis kelamin tertinggi, sedangkan Kota Yogyakarta menjadi wilayah dengan rasio terendah.
Fenomena dominasi perempuan di DIY dipengaruhi karakteristik Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan jasa, termasuk tingginya angka harapan hidup perempuan.
Bonus Demografi Masih Bertahan
Di tengah pertumbuhan penduduk yang terus naik, DIY masih menikmati bonus demografi.
BPS mencatat proporsi penduduk usia produktif 15–64 tahun mencapai 68,30 persen pada 2025.
Meski sedikit turun dibanding 2020 yang mencapai 68,78 persen, angka tersebut masih berada di atas 60 persen.
Pada 2010, proporsi usia produktif tercatat sebesar 68,53 persen.
Kondisi itu menunjukkan DIY masih memiliki potensi tenaga kerja produktif yang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun penurunan tipis pada 2025 mulai menjadi sinyal bahwa bonus demografi perlahan melambat.
Jika tidak diimbangi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, bonus demografi dikhawatirkan berubah menjadi beban sosial di masa depan.
Tantangan Baru bagi DIY
Pertumbuhan jumlah penduduk membawa dampak ganda bagi Yogyakarta.
Di satu sisi, peningkatan populasi dapat memperkuat aktivitas ekonomi dan memperluas pasar tenaga kerja.
Namun di sisi lain, tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur kota juga semakin besar.
Kemacetan lalu lintas, alih fungsi lahan pertanian, kenaikan harga hunian, hingga kepadatan kawasan perkotaan mulai menjadi tantangan nyata yang dirasakan masyarakat DIY.
Data SUPAS 2025 kini menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun strategi pembangunan jangka panjang, mulai dari tata ruang, pemerataan ekonomi, hingga peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. (eln)












