bernasnews – Gunung Merapi kembali mengalami aktivitas vulkanik berupa awan panas guguran pada Kamis, 30 April 2026 malam.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas tersebut meluncur sejauh 1.200 meter ke arah selatan, tepatnya menuju hulu Kali Boyong.
Peristiwa terjadi pada pukul 20.23 WIB dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 111,12 detik. Aktivitas ini menjadi salah satu indikator masih tingginya dinamika vulkanik Gunung Merapi.
Aktivitas Vulkanik dan Kondisi Cuaca
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan bahwa aktivitas awan panas tersebut menunjukkan potensi bahaya yang masih tinggi di sekitar Gunung Merapi. Masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti rekomendasi resmi dari otoritas.
Sepanjang hari, kawasan Gunung Merapi dilaporkan mengalami cuaca mendung hingga hujan. Dalam periode pengamatan pukul 12.00–18.00 WIB, curah hujan tercatat mencapai 30 mm per hari dengan tingkat kelembaban udara antara 89 hingga 100 persen. Suhu udara berada pada kisaran 18,9 hingga 22,3 derajat Celsius.
Secara visual, puncak gunung tertutup kabut tebal dengan intensitas 0-II hingga 0-III. Kondisi ini menyebabkan asap kawah tidak teramati secara langsung.
Namun, data kegempaan menunjukkan aktivitas internal masih berlangsung. BPPTKG mencatat 28 kali gempa guguran dengan amplitudo 3 hingga 28 mm dan durasi maksimum 144,99 detik. Selain itu, terjadi satu gempa low frekuensi dan 14 gempa hybrid atau fase banyak yang mengindikasikan adanya pergerakan magma.
Guguran Lava dan Zona Potensi Bahaya
Selain awan panas, terpantau dua kali guguran lava ke arah barat daya melalui Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter. Aktivitas ini memperkuat indikasi suplai magma yang masih aktif.
BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi tetap pada Level III atau Siaga. Dalam kondisi ini, potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas masih mengancam beberapa wilayah di sektor selatan hingga barat daya.
Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong hingga radius maksimal 5 kilometer. Sementara itu, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng berpotensi terdampak hingga 7 kilometer.
Untuk sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Selain itu, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak apabila terjadi letusan eksplosif.
Imbauan BPPTKG
Agus Budi Santosa menegaskan masyarakat tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana. Ia juga mengingatkan potensi bahaya lahar, terutama saat hujan terjadi di sekitar Gunung Merapi.
“Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi ini dapat memicu awan panas guguran sewaktu-waktu di dalam zona potensi bahaya,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat diminta untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik, khususnya bagi warga yang berada di wilayah terdampak.
BPPTKG menyatakan akan terus memantau aktivitas Gunung Merapi secara intensif. Evaluasi status akan dilakukan apabila terjadi peningkatan aktivitas signifikan.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi melalui BPPTKG dan PVMBG serta menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. (Eln)












