bernasnews – Khutbah Jumat pada 24 April 2026 mengangkat tema penting tentang kesiapan diri dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Materi khutbah ini menekankan bahwa kehidupan dunia penuh dengan ujian, mulai dari kesulitan, kekecewaan, hingga cobaan yang datang silih berganti.
Oleh karena itu, umat Islam diajak untuk menghadapi semuanya dengan kesabaran, tawakal, dan keyakinan penuh kepada Allah SWT sebagai pemegang kendali atas segala sesuatu.
Khutbah Jumat merupakan salah satu sarana dakwah yang memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada umat. Materi khutbah tidak hanya berkaitan dengan akidah dan ibadah, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana menyikapi masalah hidup.
Dalam khutbah ini, khatib mengingatkan pentingnya menyusun pesan dengan bahasa yang jelas, mudah dipahami, serta didukung dalil Al-Qur’an dan hadits agar dapat diterima dengan baik oleh jemaah.
Khutbah Pertama: Menguatkan Hati dalam Menghadapi Ujian
Khutbah pertama diawali dengan pujian kepada Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan dengan pesan takwa kepada seluruh jemaah.
Khatib mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak lepas dari berbagai ujian. Setiap manusia pasti akan menghadapi kesulitan dan cobaan. Namun, semua itu harus dijalani dengan lapang dada dan tetap berprasangka baik kepada Allah SWT.
Dalam khutbah disampaikan bahwa segala amal perbuatan manusia di dunia akan dicatat sebagai pahala dan dosa yang menjadi bekal di akhirat. Oleh karena itu, setiap ujian yang dihadapi hendaknya menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan.
Selain itu, ditegaskan pula bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dapat memberikan mudarat atau manfaat tanpa izin Allah. Keyakinan ini menjadi dasar penting untuk memperkuat tawakal.
“Seandainya seluruh manusia dan jin bersatu untuk membuat kita celaka, maka mereka tidak akan mampu mencelakai kita kecuali jika Allah menghendaki hal itu.”
Pesan ini mengajarkan bahwa manusia harus menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah SWT. Apa yang terjadi di dunia adalah bagian dari ketetapan-Nya yang tidak bisa dihindari.
Dunia sebagai Tempat Ujian, Bukan Tempat Kekal
Khatib juga mengingatkan bahwa dunia bukanlah tempat yang bebas dari kesulitan. Justru dunia adalah tempat ujian dan cobaan yang akan berlalu.
Dalam khutbah disebutkan bahwa manusia tidak boleh menyalahkan Allah atas musibah yang terjadi. Sebaliknya, umat Islam diminta untuk bersabar dan menerima ketentuan Allah dengan ikhlas.
Allah SWT berfirman:
“لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ”
Artinya: Allah tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi para hambalah yang akan ditanya (QS Al Anbiya’: 23).
Ayat ini menegaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu, sementara manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Perintah Bersabar dalam Menghadapi Musibah
Khutbah ini juga mengutip firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 155-156 yang menjelaskan bahwa manusia pasti akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.
Namun, kabar gembira diberikan kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” ketika tertimpa musibah.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kesabaran merupakan kunci utama dalam menghadapi ujian hidup.
Teladan Rasulullah dalam Menghadapi Kesedihan
Dalam khutbah juga disampaikan kisah Rasulullah SAW saat menghadapi wafatnya putra beliau, Ibrahim. Dalam riwayat yang disampaikan, Rasulullah tetap menunjukkan sikap sabar meskipun menangis karena rasa kasih sayang.
Beliau bersabda:
“إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُوْنُوْنَ”
Artinya: Sungguh mata ini meneteskan air mata, hati pun bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang Allah ridhai.
Kisah ini menjadi teladan bahwa kesedihan adalah hal manusiawi, tetapi harus tetap diiringi dengan keimanan dan kesabaran.
Di akhir khutbah pertama, ditegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan penuh kesulitan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Balad. Hal ini menunjukkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari.
Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk selalu bersiap menghadapi berbagai tantangan hidup dengan iman yang kuat, sabar, dan tawakal kepada Allah SWT.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرِ، أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ، أَلَمْ يَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وِيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ وَقَالَ أَيْضًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَيُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ كَمَا شَرَّفْتَنَا بِاْلإِيْمَانِ بِكَ، وَكَرَّمْتَنَا فِيْ أَرْكَانِ الإِسْلَامِ بِالصِّيَامِ لَكَ، وَبِالزَّكَاةِ لِلْمُسْتَحِقِّيْنَ، أَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ فِيْهِ، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ صَفَاءَ أَرْوَاحِنَا فِي اسْتِقْبَالِهِ وَسِيْلَةً لِلْإِجَابَةِ فِي كُلِّ مَا نَسْأَلُ مِمَّا عَلَّمْتَنَا أَنْ نَدْعُوَكَ بِهِ فِي قَوْلِكَ فِيْ كِتَابِكَ الْكَرِيْمِ اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Khutbah Jumat ini memberikan pesan kuat bahwa setiap manusia harus memiliki kesiapan mental dan spiritual dalam menghadapi masalah hidup. Dengan memperkuat iman, meningkatkan kesabaran, dan bertawakal kepada Allah, setiap ujian dapat dilalui dengan baik.
Umat Islam juga diingatkan untuk menjadikan setiap cobaan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sebagai alasan untuk berputus asa.












