Opini  

Kenangan dan Refleksi dalam Puisi Karya Warga SATUPENA, PWS dan SBP

Tiga buku kumpulan puisi karya Sutirman Eka Ardhana, H Nasrullah Krisnam dan Sastra Bulan Purnama. (Foto: Anto Margono)

bernasnews – Hidup setiap insan di dunia ini tidak akan luput dari kenangan dan refleksi. Selain tentu saja ada perjuangan, harapan, sampai cinta. Lewat puisi, penulis dapat menyentak nurani setiap orang. Mengapa kita perlu sesekali disentak? Karena kehidupan ini penuh dengan aneka masalah, mulai dari kebohongan sampai mengabaikan kemanusiaan.

Adalah Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sutirman Eka Ardhana lewat “Amuk Kenang”, anggota senior Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta H. Nasrullah Krisnam melalui ”Narasi Spiritualitas dan Cinta”, dan anggota Sastra Bulan Purnama (SBP) dengan”Empat Belas Purnama”. Ketiga buku kumpulan puisi ini selain menarik, menyentuh, reflektif, juga “mewakili” tiga komunitas kepenulisan di DIY : SATUPENA, PWS dan SBP.

Berbagai macam ingatan terus menerjang seseorang, seperti gelombang laut yang tidak dapat dilawan. Sastrawan dan jurnalis senior Sutirman Eka Ardhana mengalami hal itu. Namun beda dengan orang lain, yang membiarkan atau menyimpan dalam hati, Eka mampu menuangkan kegelisahannya itu dalam puisi. Dia kemudian membukukan kumpulan puisinya melalui “Amuk Kenang”.

Tidak kurang 74 puisi mengisi buku setebal 88 halaman yang diterbitkan Tonggak Pustaka Yogyakarta (2026) dengan kata pengantar Koordinator SBP Ons Untoro. Jalan hidup Eka merengkuh dua area yakni sastra dan jurnalisme. Sampai sekarang, dalam usianya menuju 74 tahun, kedua profesi itu dia jalani, selain pernah menjadi dosen tidak tetap di sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Kenangan dalam puisi Eka tidak hanya menyangkut kota kelahirannya Bengkalis Riau, namun juga Yogyakarta dan kota-kota lain, serta tentang teman, sampai kehidupan secara umum. Bahasanya sederhana, mudah dipahami, namun sarat dengan makna.

Dalam Puisi “Jalan Kehidupan” dia menulis : Kehidupan itu sebuah pelayaran/ dari pelabuhan ke pelabuhan/ melintasi pulau demi pulau/ melayari laut demi laut.
Ketika kapal sampai/ menambatkan tali/ pelayaran pun berhenti.
Kehidupan itu sebuah perjalanan/ dari kampung kampong ke kampung/ dari stasiun ke stasiun/ melintai kota demi kota.
Ketika sejenak lelah, istirahat/ atau berhenti, tak melangkah lagi/ di kota terakhir.

SPIRITUALITAS DAN CINTA
Jurnalis senior H. Nasrullah Krisnam (88) pun tidak mau ketinggalan berpuisi. Lewat “Narasi Spiritualistas dan Cinta” dia menyajikan 78 karya puisi yang dia bagi dalam Ragam Narasi, Ragam Spiritualitas, Ragam Romansa dan Ragam Religi. Beberapa sahabat memberikan sambutan bermakna yakni Prof Dr Edy Suandi Hamid, MSc., Ons Untoro dan Indro Suprobo.

Melalui buku terbitan Tonggal Pustaka (2025) ini, kata Indro, penulis Krisnam sedang berupaya melampaui dan menyelami makna terdalam dari seluruh kehadiran yang dijumpainya dan menemukan banyak arti yang tersembunyi. Dengan seluruh keterbukaan terhadap beragam kehadiran, Krisnam sedang menjadi subyek yang berupaya melintas dalam hospitalitas.

“Dia sedang menjadi subyek yang berupaya menapaki jejak kehidupan dengan seluruh sikap keramahtamahan dan keterbukaan. Ia sedang menghayati seluruh kehadiran dalam denyut persahabatan,” kata dia.

Tentang proses penciptaan karyanya, Krisnam menyatakan, langkah yang pertama dia mencoba menulis sebuah puisi dengan bahasa yang metaforis dan personifikasi berbungkus daya imajinasi. Selanjutnya dia lebih suka menapaki jalannya sendiri. Yakni dengan melihat, mendengar dan mengamati, lantas menulis dengan begitu saja, tanpa pretensi mengikuti aturan rima, irama dan diksi yang khas.

Sedangkan buku “Empat Belas Purnama” setebal 534 halaman terbitan Tonggak Pustaka dan Sastra Bulan Purnama (2025) yang didukung PT Luas Bius Utama, dikatakan oleh Haris Susanto, sebagai upaya meneguhkan persahabatan melalui puisi. Ons Untoro dan Indro Suprobo memberikan makna tiga hal : komunuitas, puisi dan persahabatan. Tidak kurang darri 136 penulis menyajikan karya di buku tebal ini. (Anto Margono, Pegiat Literasi)