News  

Kecelakaan Adu Banteng di Jalur Jogja–Wonosari Km 24, Satu Pengendara Motor Alami Luka Serius

Kecelakaan di Jalur Jogja–Wonosari Km 24, Patuk, Gunungkidul. (Ist)

bernasnews – Senja yang tenang di ruas Jalan Jogja–Wonosari berubah mencekam pada Senin, 13 April 2026. Sekitar pukul 18.42 WIB, suara benturan keras memecah kesunyian di kawasan Padukuhan Putat Wetan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Insiden “adu banteng” ini melibatkan dua sepeda motor Honda Beat yang melaju dari arah berlawanan.

Warga yang mendengar suara tabrakan langsung bergegas menuju lokasi kejadian dan melaporkannya ke pihak kepolisian pada pukul 18.45 WIB.

Nekat Melanggar Marka Utuh

Kasi Humas Polres Gunungkidul, Purwanto, menjelaskan secara rinci kronologi kecelakaan tersebut. Peristiwa bermula saat sepeda motor Honda Beat (AB-5614-EJ) yang dikendarai Suprihanta (45), warga Kalasan, Sleman, melaju dari arah Wonosari menuju Yogyakarta.

Saat tiba di lokasi kejadian yang merupakan jalan tikungan ke kiri, Suprihanta mengambil keputusan krusial untuk menyalip kendaraan di depannya.

Padahal, pada titik tersebut terdapat marka garis utuh yang secara tegas melarang kendaraan untuk mendahului.

Nahas, dari arah berlawanan (Yogyakarta menuju Wonosari), muncul Honda Beat (AB-5208-CM) yang dikendarai Dicky Nur Alfiyan (28), warga Playen, Gunungkidul.

“Karena jarak kedua kendaraan sudah terlalu dekat, tabrakan depan tidak dapat dihindari,” jelas Purwanto.

Kondisi Korban

Benturan keras di badan jalan membuat kedua pengendara terjatuh dan mengalami sejumlah luka. Berikut rincian kondisi korban:

  • Suprihanta (45): Mengalami luka lecet pada bahu kanan dan siku kiri. Setelah pemeriksaan medis, ia dinyatakan cukup menjalani rawat jalan.

  • Dicky Nur Alfiyan (28): Mengalami luka lebih serius, termasuk cedera pada jempol kaki, memar di punggung tangan, serta patah tulang kelingking kaki kanan. Korban segera dievakuasi ke RS Nurohmah Playen untuk perawatan intensif.

Peristiwa di Km 24 ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pengguna jalan. Marka garis utuh dibuat bukan tanpa alasan; marka tersebut menandakan area berbahaya seperti tikungan tajam atau titik buta (blind spot).

Menerjang marka jalan demi menghemat waktu beberapa detik justru dapat berujung pada penderitaan panjang. Jalur Jogja–Wonosari yang memiliki karakter medan berbukit dan tikungan tajam menuntut konsentrasi ekstra dari setiap pengendara. (Eln)