Opini  

Keteladanan Yesus : Kasih Tanpa Ukuran

Romo Merdi saat membasuh kaki perwakilan umat pada Misa Ekaristi Kamis Putih di Gereja Santo Yakobus, Bantul, DIY, Kamis 2/4/2026. (Foto : Y. Bambang Soponyono)

bernasnews – Tri Hari Suci Paskah 2026 bagi umat Kristiani dimulai dengan perayaan Kamis Puitih. Gereja Santo Yakobus Bantul DIY juga melenyelenggaran Misa Ekaristri itu yang dipimpin oleh Romo Laurentius Dwi Agus Merdi Nugroho, Pr pada Kamis (2/4/2026).

Umat dengan khusyuk merayakan perjamuan malam itu dengan menimba kepenuhan kasih dan hidup dari misteri yang luhur dan agung dari Yesus Kristus. Mengenang peristiwa lebih dari 2000 tahun silam saat Yesus membasuh kaki para rasul, pada misa itu Romo Merdi juga membasuh dengan menyeka dan mencium kaki 12 orang umat perwakilan lingkungan.

Romo Merdi mengajak umat untuk merenungkan keteladanan Yesus itu sebagai salah satu perwujudan nyata kasih tanpa ukuran. Apakah umat, bapak dan ibu, anak dan orang tua, dapat melakukan hal serupa sekembali dari ikut Misa Kamis Putih ini? “Pertanyaan ini tidak usah dijawab. Silakan direnungkan dan dilaksanakan sendiri,” kata dia seraya tersenyum.

MEMBASUH DEBU DI KAKI KEHIDUPAN
Seorang umat Lingkungan Santa Helena Paroki Santo Yakobus, Bantul, Thomas Sugiyanta, menulis sebuah kisah inspiratif dalam menyambut Kamis Putih di WAG Helena Menulis. Di sebuah sudut kota yang sibuk, hiduplah seorang pria sepuh bernama Pak Seno. Setiap tahun, saat memasuki masa Pekan Suci, ia selalu teringat pada satu malam yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia yaitu malam Kamis Putih.

Bagi Pak Seno, Kamis Putih bukan sekadar ritual di gereja. Ia teringat kisah Yesus yang menanggalkan jubah-Nya, mengambil baskom berisi air, dan membasuh kaki para murid-Nya. Baginya, itu adalah tindakan yang luar biasa: Sang Guru yang menjadi pelayan.

Suatu sore menjelang ibadah Kamis Putih, Pak Seno berjalan menuju gereja. Di tengah jalan, ia melihat seorang pria tunawisma yang sedang duduk meringkuk. Kaki pria itu tampak pecah-pecah dan kotor oleh debu jalanan. Orang-orang lewat begitu saja, terburu-buru mengejar waktu ibadah.

Pak Seno berhenti. Ia teringat khotbah yang sering ia dengar: “Jika Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki.”

Tanpa banyak bicara, Pak Seno mendekat. Ia memberikan sebotol air mineral yang ia bawa dan kain bersih dari tasnya. Dengan perlahan, ia membantu membersihkan luka di kaki pria itu. Tidak ada kemegahan di sana, hanya ada keheningan dan ketulusan.

Ketika akhirnya Pak Seno tiba di gereja dan mengikuti upacara pembasuhan kaki serta Perjamuan Kudus, air matanya menetes. Ia menyadari sesuatu yang mendalam bahwa membasuh kaki adalah simbol melepaskan ego.

Kita diajak untuk melihat sesama bukan dari statusnya, melainkan dari martabatnya sebagai manusia. Perjamuan malam terakhir adalah tentang memberikan diri. Seperti roti yang dipecah-pecah, kita pun dipanggil untuk “memecah” waktu, tenaga, dan kasih kita bagi orang lain.

Kamis Putih berasal dari kata Mandatum, yang berarti “Perintah”. Perintahnya sederhana namun berat : Cintailah sesamamu seperti Aku telah mencintaimu. Kisah Kamis Putih mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati tidak ditemukan saat kita berada di atas orang lain, melainkan saat kita bersedia berlutut untuk mengangkat beban orang lain.

Setiap kali kita memaafkan, setiap kali kita melayani tanpa pamrih, dan setiap kali kita merendahkan hati untuk menolong yang lemah, kita sedang merayakan “Kamis Putih” yang sesungguhnya di dalam hidup kita sehari-hari. (mar/Thomas Sugiyanta, Umat Lingkungan Santa Helena Paroki Santo Yakobus Bantul)