News  

Teror Kera Ekor Panjang Mengganas di Utara Gunungkidul, Warga Resah dan Pertanian Terancam

Ilustrasi | Serangan kera ekor panjang meningkat di Gunungkidul. (bernasnews)

bernasnews – Serangan kera ekor panjang dilaporkan meningkat di sejumlah wilayah utara hingga selatan Gunungkidul. Aktivitas satwa tersebut tidak hanya mengganggu kehidupan warga, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Di Dusun Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, warga melaporkan kemunculan kera ekor panjang yang terjadi hampir setiap hari. Hewan tersebut terlihat berada di atap rumah hingga turun ke pekarangan warga.

Seorang warga, Susilowati, menyampaikan bahwa dirinya memilih tetap berada di dalam rumah karena khawatir terhadap potensi serangan.

“Setiap hari hampir selalu muncul. Saya takut keluar rumah karena khawatir diserang,” ujarnya.

Kemunculan Baru dan Perubahan Perilaku Satwa

Warga menyebut fenomena ini baru terjadi pada tahun 2026. Sebelumnya, kera ekor panjang jarang terlihat mendekati permukiman, meskipun habitat alaminya berada di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran yang berjarak sekitar tiga kilometer.

Suranto, warga Kepil, Putat, juga menyatakan bahwa kemunculan kera di sekitar rumahnya meningkat dalam beberapa waktu terakhir.

“Dulu hampir tidak pernah ada. Tapi sekarang sering sekali terlihat, bahkan mendekati rumah,” katanya.

Selain muncul di permukiman, kera ekor panjang juga dilaporkan mulai menyerang lahan pertanian. Tanaman kacang milik warga dilaporkan habis, sementara tanaman jagung mulai menjadi sasaran berikutnya.

Dampak di Sejumlah Wilayah

Kondisi serupa terjadi di Kalurahan Ngoro-oro, Kapanewon Patuk. Lurah Ngoro-oro, Sukasto, menyebut serangan kera telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, dengan peningkatan intensitas pada musim kemarau.

“Setiap kemarau, serangan pasti meningkat. Tidak hanya tanaman pertanian, bahkan rumput yang dibudidayakan warga juga ikut habis,” ujarnya.

Di wilayah selatan, tepatnya Kalurahan Tepus, Kapanewon Tepus, dampak serangan dilaporkan lebih luas. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, wilayah tersebut menjadi salah satu daerah terdampak.

Kaur Umum Tepus, Heri, menyebut sekitar 80 persen area pertanian di wilayahnya telah diserang kera ekor panjang.

“Sudah berbagai cara kami lakukan, tapi tetap saja diserang. Kera-kera itu semakin berani,” katanya.

Upaya Penanganan dan Tantangan di Lapangan

Warga telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi serangan, mulai dari mengusir secara manual hingga memasang jaring pelindung di area pertanian. Namun, langkah tersebut belum memberikan hasil yang signifikan.

Kondisi ini menjadi tantangan karena kera ekor panjang termasuk satwa yang dilindungi. Hal tersebut membatasi tindakan yang dapat dilakukan warga dalam mengatasi gangguan tersebut.

Warga berharap adanya langkah penanganan dari pemerintah dan pihak terkait untuk mencari solusi yang dapat mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Gunungkidul. (Eln)