Opini  

Berwisata di Munich Jerman, Tetap Jawab WA Pasien yang Bertumpuk

Berkunjung ke gedung BMW Welt yang dipenuhi mobil mewah. (Foto : Kiriman Asdi Yudiono)

bernasnews – Kami bertiga dapat tidur Senin malam di Hotel Leonardo Munich, Jerman dengan pulas. Entah kenapa, pukul 5 pagi Waktu Jerman (atau pukul 11.00 WIB) saya sudah terbangun seperti halnya kebiasaan di Yogyakarta. Mandi, menjawab WA pasien yang bertumpuk untuk konsultasi dan banyak yang menanyakan, “Jangan lupa oleh-olehnya ya Dok?”

Ya bagaimana saya menjawabnya kalau bagasi kami terbatas dalam penerbangan ketat di Eropa yang tegas mengatur regulasi berat bagasi penumpangnya. Tak terasa sudah, waktu berjalan, pukul 9 kami bergegas turun ke lantai 2 untuk sarapan pagi di Restaurant Hotel.

Tepat pukul 10 kami keluar hotel menuju Stasiun Metro di bawah tanah yang akan mengantar kami dari Munich ke kota sekitar tujuan kami di hari Selasa (10/3/2026). Suasana sepi, karena bukan di jam sibuk, dan kami berlanjut lagi dengan bus antar kota. Semua moda transportasi di Eropa pada umumnya dan Jerman khususnya sangat tepat waktu, nyaman dan murah.

Satu : Nymphenburg Palace, dua : BMW Welt, tiga : Karlsplatz (Stachus), empat : Marienplatz, lima : Frauenkirche, dan enam : Alter Peter. Skedul ini disetting oleh anak kami Dion dengan rinci dan runut untuk membahagiakan kedua orangtuanya yang telah membesarkan dan menyekolahkan jauh-jauh di negeri orang. Dia sudah dapat berpenghasilan juga di negeri ini. Salut untuk kelima anak-anak kami yang telah menunjukkan talentanya di bidang masing-masing.

Nymphenburg (Schloss Nymphenburg) adalah mantan istana musim panas raja-raja Bavaria di barat Munich, seperti “Versailles-nya Bayern” versi lebih santai, dikelilingi taman raksasa.

Istana ini mulai dibangun 1664 sebagai hadiah kelahiran putra pewaris Ferdinand Maria dan Henriette Adelaide (Wittelsbach). Awalnya paviliun kecil bergaya Italia, kemudian diperluas tiap generasi jadi kompleks barok dengan 360 m fasad. Ini adalah tempat lahir Raja Ludwig II (si “raja gila” Neuschwanstein) tahun 1845.

Yang bikin unik : Taman istana 180 ha: kanal, air mancur, paviliun kecil (Amalienburg, Badenburg), sempurna untuk piknik atau sewa perahu; Marstallmuseum: koleksi kereta kencana kerajaan dan Nymphenburg Porzellan (pabrik porselen istana); Galeri kecantikan: potret 36 wanita tercantik di Bavaria pesanan Ludwig I (termasuk penjahit muda yang bikin skandal).

Sekarang istana ini masih milik keluarga Wittelsbach, sebagian jadi museum dan rumah pribadi. Dari pusat Munich naik tram 17 lebih kurang 25 menit Anda sudah di gerbangnya. Lagi di Munich? Worth banget untuk setengah hari : taman gratis, istana bayar tiket (≈ €8).

PUSAT PAMERAN MOBIL
BMW Welt (dibaca “BMW Velt”) itu pusat pameran dan pengiriman mobil futuristik BMW di utara Munich, pas di sebelah Olympiapark dan markas BMW klasik. Bukan museum (BMW Museum di seberangnya, red), tapi semacam “showroom raksasa” gratis, tempat orang mengambil mobil baru langsung dari pabrik.

Apa serunya? Bangunan perak bergelombang (buka tahun 2007), rancangan Coop Himmelb(l)au, seperti awan baja. Pengunjung dapat melihat model terbaru BMW, MINI, Rolls-Royce, duduk di dalamnya, kadang dapat test-drive.

Kalau beli BMW Jerman, ambil di sini dengan seremoni lift kaca. Ada restoran, toko desain, workshop junior (anak bikin mobil mini), plus tur pabrik BMW (harus booking).

Info praktis: Masuk gratis (pameran); tur pabrik ≈ €45; Buka tiap hari (toko tutup Minggu), akses gampang: U3 Olympiazentrum atau jalan 10 menit dari BMW Museum; Malam hari fasadnya kelap-kelip biru-putih — spot foto favorit.

Jadi BMW Welt adalah kombinasi Apple Store plus Disneyland plus dealer mobil, gratis buat nongkrong. Sempurna kalau Anda sudah di Munich (apalagi dekat Nymphenburg).

Dua merk mobil terkenal buatan Jerman adalah BMW dan Mercedes Benz yang banyak berseliweran di sini. Herannya, pengendara mobil di sini ngebut dan kasar saat ngegas terutama saat di lampu merah sering pamer dengan akselerasi yang kencang sampai terdengar bunyi gesekan ban dan aspal. Inilah status kemewahan yang diartikan gengsi orang berduit di sini.

ALUN-ALUN
Karlsplatz (sering disebut Stachus oleh warga Munich) adalah alun-alun dan simpul transportasi utama di ujung barat Altstadt, gerbang masuk pejalan kaki ke Neuhauser Straße.

Kenapa ada dua nama? Nama resmi: Karlsplatz, diambil dari Elektor Karl Theodor (1760-an). Julukan Stachus: dari Stachusgarten, kafe bir populer abad 18 milik Eustachius Föderl — nama itu nempel sampai sekarang.

Hal yang kelihatan : Karlstor: gerbang kota Gotik abad ke-14 (sisa benteng medieval) jadi focal point; Brunnen Brunnen: kolam air mancur besar dan air mancur kecil — tempat nongkrong di musim panas, ice rink melingkar di musim dingin; Stachus Passagen: mall bawah tanah (S-Bahn dan U-Bahn), persimpangan S-Bahn semua jalur + U4/U5; Langsung terhubung ke Fußgängerzone (zona pejalan kaki) menuju Marienplatz.

Tempat ini paling sibuk di Munich (lebih kurang 280 ribu orang/hari); Spot foto klasik: Karlstor dibingkai matahari terbenam (ujung Neuhauser Straße); 10 menit jalan kaki ke Istana Nymphenburg naik tram, tapi bukan dekat BMW Welt.

Jadi singkatnya: Karlsplatz/Stachus adalah Times Square-nya pejalan kaki Munich — titik temu, bukan istana atau mall glamour.

Di gerbang masuk Kartplatz zaman peninggalan Romawi. (Foto : Kiriman Asdi Yudiono)

BERDOA DI GEREJA KATHEDRAL
Kami sempatkan masuk ke dalam Gereja Katedral Munich dan Gereja St Michael di seputaran kawasan itu untuk berdoa, dan melihat kehebatan peninggalan zaman Romawi di Munich.

Frauenkirche (resminya Dom zu Unserer Lieben Frau = Katedral Bunda Maria) adalah gereja katedral ikonik Munich dengan dua menara “topi hijau”, siluetnya muncul di semua kartu pos kota.

Bangunan itu digarap tahun 1468-1488 (gotik batu bata, hanya 20 tahun, super cepat zaman itu!); Ada dua menara kembar kurang lebih 98 m; aturan kota melarang bangunan lebih tinggi di Altstadt supaya siluetnya tetap raja.

Menurut legenda, arsitek Jörg von Halsbach bikin deal sama setan, jejak kaki “Teufelstritt” (Footprint Iblis) di vestibul bikin orang tidak melihat jendela waktu masuk (padahal karena tiang).

Di dalamnya ada makam Kaisar Romawi Suci Ludwig IV dan jendela kaca patri biru modern pasca Perang Dunia II. Bila naik lift ke menara selatan terlihat panorama Alpen pas cuaca cerah.

Frauenplatz 1, 5 menit jalan kaki dari Marienplatz; Gratis masuk; menara tiket ≈ €7,5; Masih gereja katedral aktif Archdiocese Munich-Freising. Jadi Frauenkirche adalah lambang Munich seperti Marienplatz, tapi dalam bentuk batu dan legenda setan. Buila Anda sedang di pusat, tengok jejak iblisnya : gratis!

Alter Peter itu julukan sayang warga Munich buat St. Peterskirche (Gereja Santo Petrus) — gereja paroki tertua di kota, nongkrong persis di selatan Marienplatz. Bangunan berasal tahun 1158 (Romanesque), dibangun ulang gaya Barok pasca kebakaran 1607; menara jam jadi ikon “Petersturm”.

Warga memanggil “Alter Peter” (“Peter Tua”) biar tidak bingung dengan Frauenkirche yang lebih muda. Menara 91 m: naik lebih kurang 300 anak tangga (tidak ada lift) → pemandangan 360° paling jujur di Altstadt — Marienplatz kelihatan seperti miniatur pas Glockenspiel berbunyi. Di dalamnya ada altar emas Emas Santo Munditia dan kubah fresco megah.

Alamat bangunan ini Rindermarkt 1, 2 menit jalan dari Marienplatz; Naik menara lebih kurang €3, buka sampai sore (tutup waktu misa); Orang lokal mengatakan, “Alter Peter wackelt, Frauenkirche zackelt” — maksudnya Peter “goyang” dulu kalau lonceng berdentang. Jadi Alter Peter adalah gereja tua dan spot foto terbaik Munich. .

Selanjutnya kami ke Menara Munich Alter Peter, dengan harga tiket 5 euro per orang. Kami mencoba menaiki 300 tangga sempit dari kayu sampai puncak (14 floor) dan dari puncak sinilah kami melihat panorama keindahan Kota Munich dari empat sudut utara selatan timur barat, meskipun dengan perjuangan nafas ngos-ngosan serta kaki kaku dan pegel semuanya.

Wah, kaki bener-bener kemeng untuk jalan menuju hotel, dan kebetulan di Gedung Balaikota ada Jam Berdentang yang diiringi Lagu dan Tarian dari Boneka Music di lantai atas depan. Banyak turis melihatnya dan bertepuk tangan setiap boneka musik itu berputar.

Kami menuju Stasiun Metro bawah tanah yang tidak terlalu jauh. Menuju Super Market untuk belanja bahan yang akan dimasak malam itu di kamar Hotel Leonardo serta sebagai bahan masak saat kami akan berpindah ke Hotel Karma Bavaria (40 menit dari Munich di daerah pedesaan yang indah dan asri).

Akhirnya Istri dan Dion memasak steak dan mie dalam kolaborasi bagaikan Chef berpengalaman. Enak dan hemat karena rata-rata tiap kami makan di luar sekitar 50 Euro. Sedangkan belanja komplit bahan masakan dan coklat sekitar 60 Euro. (mar/dr. Asdi Yudiono, Pimpinan Klinik INTAN Yogyakarta)