News  

Sabtu Siang Mencekam, Gunung Merapi Meluncurkan Dua Kali Awan Panas Guguran ke Barat Daya

Awan Panas Guguran Merapi/Foto: Kementrian ESDM

bernasnews– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens dan menegangkan pada Sabtu siang.

Gunung api paling aktif di Indonesia ini meluncurkan dua kali awan panas guguran (APG) ke sektor barat daya, memicu kewaspadaan tinggi di wilayah lereng Merapi, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Berdasarkan Laporan Aktivitas Gunung Api Merapi periode pengamatan 27 Desember 2025 pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat peristiwa awan panas guguran terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan dan menunjukkan suplai magma yang masih aktif.

Detik-Detik Awan Panas Guguran Merapi Meluncur

BPPTKG melaporkan awan panas guguran pertama meluncur pada pukul 11.21 WIB. Material panas bergerak cepat ke arah barat daya, tepatnya menuju Hulu Kali Krasak, dengan jarak luncur mencapai 1.500 meter.

Sepuluh menit berselang, Gunung Merapi kembali memuntahkan awan panas guguran kedua pada pukul 11.31 WIB, dengan jarak luncur lebih jauh hingga 2.000 meter ke arah yang sama.

Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa fenomena ini terjadi akibat ketidakstabilan kubah lava yang masih terus mendapatkan suplai magma dari dalam perut gunung. Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung.

“Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya,” tegas Agus Budi Santosa.

Selama periode pengamatan, kawasan Gunung Merapi berada dalam kondisi cuaca berawan hingga mendung, disertai hujan dengan curah hujan mencapai 10 mm per hari.

Angin bertiup lemah ke arah barat, dengan suhu udara berkisar 20,3 hingga 21 derajat Celsius dan tingkat kelembapan yang sangat tinggi.

Secara visual, pengamat mencatat kondisi gunung terlihat cukup jelas. Asap kawah berwarna putih keluar dari puncak dengan tekanan lemah, intensitas tipis, dan tinggi sekitar 10 meter di atas puncak kawah.

Namun, di balik visual yang tampak tenang, aktivitas seismik menunjukkan dinamika yang berbahaya.

BPPTKG mencatat dua kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 19–28 mm dan durasi hingga 130 detik.

Selain itu, petugas juga merekam 27 kali gempa guguran, 8 gempa hybrid atau fase banyak, serta 1 gempa tektonik jauh.

Tak hanya awan panas, pengamat juga mencatat tiga kali guguran lava yang meluncur ke arah barat daya, meliputi alur Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.

Status Gunung Merapi Tetap Siaga

Kemudian, BPPTKG menetapkan status Gunung Merapi pada Level III (Siaga). Status ini menandakan aktivitas vulkanik masih tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya serius jika masyarakat tidak mematuhi rekomendasi keselamatan.

BPPTKG menegaskan potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya. Ini mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer. Sementara itu, sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan rawan bahaya. Waspada terhadap potensi lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun.

Lalu, antisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

“Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, kami akan segera meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi,” ujar Agus Budi Santosa.

Disiplin, kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap rekomendasi resmi menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko di tengah aktivitas vulkanik. (ef linangkung)