bernasnews – Zona selatan Kabupaten Gunungkidul mulai menorehkan kabar menggembirakan dari sektor pertanian.
Musim tanam pertama 2025/2026 menghadirkan panen perdana padi lahan kering atau padi gogo yang menumbuhkan optimisme baru di tengah tantangan iklim dan keterbatasan air.
Petani di wilayah Tanjungsari, Girisubo, dan Purwosari membuktikan bahwa lahan kering mampu menghasilkan padi dengan produktivitas yang menjanjikan.
Panen perdana berlangsung pada Rabu, 14 Januari 2026, di Kalurahan Ngestirejo, Kapanewon Tanjungsari.
Hamparan padi gogo menguning menyambut kedatangan Tim Monitoring Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul yang melakukan pemantauan pertanaman padi dan palawija zona selatan.
Di tengah terik matahari, para petani memanen hasil jerih payah mereka dengan penuh semangat.
Salah satu petani, Sumarsono (60), anggota Kelompok Tani Mekar Tani Padukuhan Sumur, memanen padi gogo di lahan seluas 1.300 meter persegi.
Dari lahan tersebut, ia berhasil mengumpulkan 28 sak gabah atau sekitar 700 kilogram gabah kering panen (GKP). Jika dikonversi dalam skala hektare, produktivitasnya mencapai 5,3 ton GKP per hektare.
Varietas yang ditanam adalah Pajajaran, yang dinilai adaptif terhadap kondisi lahan kering khas Gunungkidul.
Keberhasilan serupa juga tercatat di Kapanewon Girisubo. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kalurahan Pucung, Sulardi, melaporkan panen padi gogo pada 5 Januari 2026 di Kelompok Tani Mekar Arum, Padukuhan Kandri.
Dengan varietas M70D, produktivitas mencapai sekitar 5 ton GKP per hektare.
Di wilayah barat zona selatan, Kapanewon Purwosari, PPL Tri Lestari melaporkan pelaksanaan panen sekaligus ubinan di Kelompok Tani Werdo Makmur, Kalurahan Giripurwo.
Hasil ubinan menunjukkan produktivitas sekitar 3,5 ton GKP per hektare dengan varietas Segreng Handayani.
Meskipun lebih rendah dibanding wilayah lain, capaian ini tetap menjadi penanda awal kebangkitan pertanian lahan kering di kawasan tersebut.
Ketua Tim Produksi Tanaman Pangan DPP Kabupaten Gunungkidul, Danang Sutopo, S.Hut.T, menyampaikan bahwa panen padi gogo saat ini masih mencapai sekitar 5 persen dari total luas tanam.
Panen diperkirakan berlangsung lebih serentak pada akhir Januari hingga Februari 2026, dengan proyeksi rata-rata produktivitas sekitar 5 ton per hektare.
Dukungan Benih, Pupuk, dan Harapan Ketahanan Pangan
Pada musim tanam pertama 2025/2026, luas tanam padi di Gunungkidul tercatat mencapai 42.743 hektare.
Pemerintah daerah menyalurkan bantuan benih padi sebanyak 108,3 ton yang mencakup lahan seluas 4.332 hektare. Bantuan tersebut memperkuat kesiapan petani, khususnya di wilayah lahan kering.
Selain benih, peran pupuk bersubsidi juga sangat penting. Sepanjang 2025, petani Gunungkidul menyerap 11.727 ton pupuk urea dan 11.742 ton pupuk NPK.
Penyerapan yang optimal ini diharapkan mampu mendorong peningkatan produktivitas padi dan palawija secara berkelanjutan.
Panen perdana padi lahan kering di zona selatan bukan sekadar rutinitas pertanian. Capaian ini menjadi simbol ketahanan, kerja keras, dan harapan petani dalam menghadapi keterbatasan alam.
Dari lahan yang dahulu dipandang kurang produktif, kini tumbuh optimisme bahwa Gunungkidul mampu memperkuat perannya sebagai salah satu penyangga pangan daerah.
Dengan sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah daerah, produksi padi lahan kering di Gunungkidul berpeluang terus meningkat.
Musim tanam pertama 2025/2026 menjadi awal dari perjalanan panjang kebangkitan pertanian lahan kering di Bumi Handayani. (Eln)











